
"Kemarin Alex bilang kalau kamu sedang sakit," ujar Bunda Hurry sambil menoleh ke arah Alex dan hiren secara bergantian.
"Eh iya, Bun. Alhamdulillah hari ini sudah enakan," lirih Irene sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo, Bun." Alex mengajak kedua orang tuanya duduk di sofa ruang keluarga.
"Bagaimana kuliah dan pekerjaanmu, Lex?" tanya ayah Hendra pada putra bungsunya.
"Alhamdulillah, hingga saat ini pekerjaan dan kuliah Alex berjalan dengan lancar, meskipun Alex harus membagi waktu dengan sebaik mungkin," jawab Alex.
Dari jawaban Alex tersebut dapat menunjukkan bahwa dirinya bertanggung jawab atas apa yang ada di hadapannya saat ini.
Mak Ijah melirik ke Irene, dia berharap Irene dapat mengerti situasi dan kondisi yang tengah dialami oleh Alex.
Setelah itu Mak Ijah berlalu menuju dapur meninggalkan mereka berbincang-bincang di ruang keluarga.
"Apakah kamu tidak merasa terganggu kuliah kamu dengan bekerja?" tanya ayah Hendra khawatir dengan keadaan bungsunya saat ini.
"Jangan khawatir, Yah. pekerjaanku tidak terlalu berat hanya butuh ketelitian dan ketekunan dalam menjalaninya," ujar Alex.
Alex harus bisa bersikap tegar di depan kedua orang tuanya, dia tidak ingin kedua orang tuanya mengkhawatirkan keadaannya.
"Baguslah kalau begitu, ayah senang mendengarnya," ujar Hendra lega.
"Ini, Ren." Hurry menyodorkan beberapa paper bag pada menantunya.
Bunda Hurry sengaja membawakan beberapa oleh-oleh untuk putra dan menantunya.
"Apa ini, Bun?" tanya Irene berusaha bersikap sewajarnya.
Dia tahu saat ini suaminya tengah menutupi pertengkaran yang tengah terjadi di antara mereka.
"Sekadar oleh-oleh atau kalian, Bunda juga sudah memasakkan dendeng balado dan rendang ayam kesukaan Alex," jawab Hurry.
"Terima Kasih, Bunda," ucap Irene terharu dengan perhatian sang ibu mertua.
Irene mengambil beberapa paper bag tersebut, dia membawa oleh-oleh dari Ibu mertuanya menuju dapur.
"Apaan itu, Nak Irene?" tanya Mak Ijah yang sudah berada di dapur menyiapkan teh untuk Hurry dan Hendra
"Ini, Mak. Oleh-oleh dari Bunda Hurry," jawab Irene sambil mengeluarkan satu per satu isi paper bag tersebut.
"Biar Irene yang bawa keluar, Mak. Mak Ijah bantu aku menyimpan oleh-oleh ini saja, ya," ujar Irene pada Mak Ijah.
"Iya, deh." Mak Ijah pun mulai menyusun berbagai makanan dan minuman kaleng yang dibelikan Hurry di lemari persediaan makanan.
Sebagian dimasukkannya ke dalam toples untuk makanan yang akan dihidangkan sebagai cemilan mereka mengobrol nantinya.
__ADS_1
Irene melangkah keluar membawakan teh untuk kedua orang tua suaminya dan suaminya.
Dia meletakkan satu persatu cangkir yang berisi teh panas tersebut di atas meja.
"Silakan, Bun, Yah," ujar Irene.
Setelah itu pun Irene duduk di samping Alex. Dia ikut bergabung mengobrol dengan kedua mertuanya.
tak banyak obrolan yang mereka bahas, mereka hanya memperbincangkan tentang kehidupan Alex selama di Jakarta sejak dia sudah menikah.
Pertanyaan demi pertanyaan dijawab Alex dengan santai dan dia selalu menutupi keburukan sang istri di depan kedua orang tuanya.
Irene merasa tidak enak hati terhadap pria yang sudah menjadi suaminya tersebut. Tapi, hati kecil Irene masih belum menerima ketidak sanggupan Alex memenuhi kebutuhannya seperti kedua orang tuanya selama ini.
Saking asyiknya mengobrol mereka tak sadar waktu Zuhur pun masuk, sejenak mereka menghentikan perbincangan mereka dan melaksanakan ibadah salat zuhur secara bergantian.
di saat semua sedang melaksanakan ibadah salat zuhur, Mak Ijah sibuk menyiapkan makan siang untuk bersama di dapur.
Mak Ijah tidak perlu menyiapkan makanan terlalu banyak karena Hurry sengaja membawa makanan dari rumah Kayla agar Mak Ijah tidak kerepotan.
Usai mereka melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, mereka beralih menuju ruang makan untuk menyantap makan siang.
****
Satu bulan telah berlalu, hubungan Alex dan Irene masih belum ada kemajuan sama sekali.
Saat ini Alex masih tidur di kamar yang pernah ditempati oleh Alita. Dia akan masuk ke kamarnya di saat dia hendak mandi dan mengambil pakaian.
Setiap pergi kuliah, Alex akan mengantarkan Irene sampai kampus dan dia meminta Irene untuk pulang sendiri karena jadwal mereka yang berbeda dan Alex harus pergi ke kafe untuk bekerja.
Di sore hari menjelang waktu magrib masuk, Alex duduk di salah satu meja pelanggan menatap jauh ke jalan raya yang ada di depan cafe.
"Hei, kenapa melamun?" tanya Fitri menghalau segala lamunan pria yang sedang risau memikirkan kelanjutan hubungan rumah tangganya dengan sang istri.
Sejak Satya sudah tinggal di Jakarta bersama Rayna, Fitri ditugaskan untuk membantu Alex dalam mengurus berbagai hal yang menyangkut dengan urusan cafe.
Alex menoleh ke arah Fitri, dia menatap wanita yang selalu ada di saat dia kesulitan mengurusi masalah cafe.
"Kamu, Fit. Belum pulang?" tanya Alex pada wanita kepercayaan Satya.
"Belum, kafe masih rame. Lagian kost aku dekat dari sini," jawab Fitri santai.
"Mhm, iya juga sih." Alex mengedarkan pandangannya, dia menyaksikan masih banyak pelanggan yang berdatangan ke kafe milik kakak iparnya.
"Oh iya, kamu kenapa galau? Enggak ada uang?" Fitri meledek rekan kerjanya yang memasang wajah bingung di hadapannya.
"Apaan, sih?" gerutu Alex.
__ADS_1
"Kalau masalah uang nggak usah pusing, cek deh rekening kamu gaji kita udah masuk," ujar Fitri memberi kabar pada Alex.
"Hah? Serius kamu?" tanya Alex tidak percaya.
Alex langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang ada di sana.
Dia membuka aplikasi mobile banking yang ada di ponselnya dan mengecek jumlah saldo yang tertera di sana.
Alex melebarkan bola matanya dia melihat nominal saldo yang sudah masuk ke dalam rekeningnya. Dia tidak menyangka gajinya dalam sebulan bisa mencapai angka di atas 15 juta.
"Kamu serius ini gaji dari kafe?" ujar Alex tak percaya.
"Ya iyalah, masa ya iya dong," ledek Fitri.
Fitri dan Alex sudah mulai dekat sejak mereka bekerja sama dalam menjalankan tiga cafe yang dipercayakan Raffa padanya.
Sedikit banyaknya Fitri tahu permasalahan yang tengah dihadapi oleh Alex.
"Besar sekali gaji kita?"
Alex masih tak percaya dengan gaji satu bulan yang diterimanya. Apalagi Alex merupakan karyawan baru di kafe milik kakak iparnya itu.
"Memang gaji di sini besar, karena omset tiap bulannya juga besar," ujar Fitri.
Alex merasa gajinya adalah pemberian cuma-cuma dari sang kakak ipar.
"Kalau pun gajimu besar tapi sebaiknya kamu tidak menyerahkan semuanya pada istrimu, berikan dia nafkah secukupnya untuk mengetahui bagaimana pribadinya yang sesungguhnya," saran Fitri.
Fitri sudah tahu masalah yang terjadi antara Alex dan istrinya.
Alex tidak dapat menahan diri untuk tidak bercerita pada gadis suple dan selalu riang sehingga gadis itu dapat menghibur Alex.
"Terima kasih sarannya," ujar Alex tersenyum.
bersambung...
Hai hai readers yang baik hati... terima kasih masih setia membaca karya ku ini...
oh iya sambil nunggu novel ini update boleh mampir di karya author yang baru...
🙏🙏🙏
Ini juga ada karya teman author yang tidak kalah kecenya...
Silakan mampir, ya🙏🙏🙏
__ADS_1