
Saat fajar mulai menyingsing, Satya terbangun dari tidurnya.
Dia kaget saat melihat Rayna terbaring di sampingnya dalam keadaan tanpa busana yang tertutup selimut.
Satya pun melihat dirinya yang juga tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Dia mencoba mengingat apa yang sudah dilakukannya pada gadis yang masih terlelap di sampingnya.
"Astaghfirullah, aku sudah melakukan dosa besar," lirih Satya menyesali apa yang sudah dilakukannya.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah, aku sudah melanggar aturan agama-Mu." Satya terus merutuki dirinya yang sudah melakukan hal yang di haramkan agamanya.
Pria itu pun mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.
Dia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, dia bergegas melaksanakan shalat taubat atas apa yang telah dia lakukan.
Satya menangisi apa yang sudah dia lakukan. Dia memohon ampun di atas sajadahnya.
Sekuat apapun iman seorang hamba, jika dihadapkan dengan sebuah dosa, tidak semua hamba akan terelak dari perbuatan tersebut.
Menggilanya diri Rayna yang sudah terbawa arus obat perangsang, membuat Satya yang bukan seorang pria yang sholeh tenggelam dalam lembah dosa.
Satya berjanji dalam dirinya akan menikahi Rayna secepatnya, dia tidak ingin nama baik wanita itu tercemar begitu saja.
Dia akan mengajak Rayna untuk menyembunyikan dosa mereka dengan cara mengajak gadis itu menikah secepatnya.
"Aaaa!" teriak Rayna saat melihat tubuhnya tanpa busana terbaring di atas tempat tidur yang asing baginya.
Satya yang masih memohon ampun pada Tuhannya tersentak, dan langsung menghampiri gadis itu..
"Kau? Apa yang sudah kau lakukan padaku?" bentak Rayna penuh emosi.
Dia tak percaya bisa berada di satu kamar dengan Satya.
Satya diam sejenak.
"Katakan apa yang sudah terjadi?" tanya Rayna penuh amarah.
"Ingatlah dengan baik, apa yang sudah terjadi pada dirimu tadi malam!" perintah Satya pada gadis itu.
Rayna terdiam, dia mencoba mengingat-ingat kejadian yang sudah terjadi semalam ini.
Sejenak terlintas dibenaknya berbagai adegan yang telah dilakukannya bersama pria yang kini bergeming di hadapannya.
"Katakan! Apakah kamu memaksaku melakukan ini?" lirih Rayna bertanya-tanya.
Dia mengingat jelas bahwa dirinyalah yang memaksa pria itu.
"Jika kamu pulang bersama pria itu, mungkin kamu melakukan hal itu dengannya, bukan denganku," ujar Satya bergetar.
Dia sendiri sadar dengan kesalahannya, tapi dia tidak akan pernah rela gadis yang sudah mulai dicintainya itu melakukan hal itu dengan pria yang mengantar Rayna semalam.
"Bersihkanlah dirimu! Setelah itu kita akan cari solusi dari masalah ini," ujar Satya pada Rayna.
Satya keluar dari kamar lalu dia menyiapkan sarapan dengan pikiran yang kacau.
Sepanjang menyiapkan sarapan, pikiran Satya selalu merutuki dirinya yang penuh dosa.
Rayna masih bergeming, dia kembali mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Dia teringat kebodohannya yang sudah menciumi Jordy yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.
__ADS_1
"Seandainya, Sandra tidak menyuruhku pulang dengan Jordy, hal ini takkan terjadi," umpat Rayna merutuki kebodohannya.
Lama dia mematung, dia tersentak saat ponselnya berdering.
Seketika wajah Rayna berubah pucat saat mengetahui orang yang menghubunginya adalah sang Ayah.
"Ayah, apa yang harus aku lakukan?" gumam Kayla di dalam hati.
Rayna melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Kayla dan Ayahnya sepanjang malam ini setelah dering ponselnya berhenti.
Dia membaca beberapa pesan dari sang kakak.
π Ray, kamu di mana? Kenapa belum pulang?
π Dek, apa yang terjadi sama kamu? Kalau ada masalah hubungi kami, Dek!
Masih banyak pesan Kayla yang berisi kekhawatirannya atas keselamatan sang adik.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ini?" Rayna terus bertanya-tanya di dalam hati tanpa ada yang tahu jawabannya.
"Kau belum mandi? Mandilah terlebih dahulu, setelah itu pergilah shalat dan memohon ampun pada Allah atas dosa yang telah kita lakukan!" perintah Satya berusaha santai.
Satya sengaja melihat Rayna setelah selesai menyiapkan sarapan di dapur.
Rayna menatap tajam ke arah Satya.
"Dengan mudah kau menyuruhku untuk melakukan hal itu, ini semua salahmu!" bentak Rayna.
Rayna merasa kesal dengan sikap Santai Satya.
"Tak ada gunanya kita berdebat sekarang, pergilah mandi!" perintah Satya.
Rayna kembali mematung menyesali apa yang sudah terjadi.
Rayna bergeming beberapa saat hingga akhirnya dia pun berdiri mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Dai melangkah menuju kamar mandi sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Di kamar mandi, Rayna menyirami tubuhnya yang penuh dosa dengan air shower yang mengalir membasahi tubuhnya.
Dia terduduk lemas di bawah guyuran air shower, dia melingkarkan tangannya di kedua lututnya lalu membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Rayna menangis sejadi-jadinya, ingin rasanya saat ini dia mengakhiri hidupnya.
Satya kembali masuk ke dalam kamar untuk memastikan keadaan Rayna.
Dia tidak mendapati Rayna di atas tempat tidur. Satya mengetuk pintu kamar mandi.
"Rayna, cepatlah keluar!" pinta Satya pada Rayna.
Rayna yang masih saja menangis tidak menghiraukan panggilan Satya dari luar kamar mandi.
Satya menggedor pintu lebih keras karena Rayna tak menggubris dirinya. Satya mulai cemas, dia takut Rayna akan melakukan hal-hal konyol yang akan membuat dirinya terluka.
"Rayna, jawab aku atau aku akan mendobrak pintu ini!" ancam Satya.
Rayna hanya menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Rayna!" bentak Satya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mendobrak pintu ini!"p sekali lagi Satya melayangkan ancaman pada Rayna.
"Aku akan keluar!" teriak Rayna dari dalam kamar mandi.
Rayna keluar dari kamar mandi dan kembali mengenakan pakaiannya yang kemarin, karena di apartemen Satya tidak ada pakaian wanita yang bisa digunakannya.
Kini mereka berdua telah berada di ruang makan.
"Makanlah terlebih dahulu," ujar Satya menyuruh Rayna untuk makan.
"Aku tidak selera makan," bantah Rayna.
"Makanlah walaupun sedikit, kita harus mencari solusi atas masalah ini. Kita tidak akan bisa berpikir jika perut kita masih kosong," nasehat Satya.
Akhirnya dengan terpaksa Rayna menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Aku akan menikahimu secepatnya," ujar Satya setelah mereka selesai sarapan.
"Apa maksudmu?" tanya Rayna tidak percaya dengan perkataan Satya.
"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah aku lakukan, setelah ini, kau harus bisa meyakinkan ayahmu untuk menerimaku," ujar Satya.
Setelah ini, aku akan mengantarkanmu pulang. Berilah alasan yang masuk akal agar keluargamu tidak mengkhawatirkan keadaanmu saat ini. Setelah itu aku akan datang untuk melamarmu," ujar Satya lagi.
"Tapi, aku masih sekolah," bantah Rayna.
"Sekolahmu tak akan terganggu." Satya berusaha meyakinkan Rayna.
Dengan bujukan Satya, akhirnya Rayna mulai menyetujui ucapan Satya.
Dia tak mungkin menghadapi masalah sesudah ini seorang diri, jika dia mengandung sudah akan dipastikan nama baik keluarga Bramantyo akan tercoreng karena dirinya.
"Di mana anak itu?" teriak Bram mengkhawatirkan putrinya yang sejak kemarin siang belum pulang ke rumah.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ