Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 260


__ADS_3

Akhirnya Lisa pun menceritakan siapa Reza sebenarnya. Lisa juga menceritakan awal perjumpaan dirinya dengan pemuda sederhana yang dikiranya seorang karyawan di resort tempat mereka berlibur waktu itu.


"Ya ampun, Lisa. Bagus dong kalau dia pria mapan," ujar Gita menggebu-gebu.


"Bagus apanya?" tanya Lisa polos.


"Ya iyalah, Seandainya dia jodoh kamu itu artinya kehidupan kamu di masa depan sudah terjamin," ujar Gita berpendapat.


"Iya sih terjamin, tapi aku sadar dirilah, Gita. Mana mungkin bumi sama langit bersatu yang ada kiamat," ujar Lisa tak sependapat dengan sahabatnya itu.


"Ish, enggak boleh begitu. Yang penting kan usaha dulu, jodoh atau enggaknya ya tergantung Tuhan," ujar Gita.


"Tidak ada yang harus diusahakan, lebih baik aku mundur daripada maju tak sesuai dengan harapan," tutur Lisa putus asa.


Gita terdiam mendengar ucapan sahabatnya, dia tak mengerti dengan jalan pikiran sang sahabat. Hanya diam yang bisa dilakukannya saat ini.


"Assalamu'alaikum," ucap Dian menghampiri kedua sahabatnya.


"Wa'alaikummussalam," jawab Lisa dan Gita bersamaan.


Mereka menoleh ke arah Dian yang baru saja datang.


"Dari tadi aku cariin kalian tahunya malah duduk di sini," ujar Dian.


Dian pun ikut duduk di bangku panjang tempat kedua sahabatnya. mereka bertiga duduk menatap bunga-bunga indah yang ada di taman itu.


"Kamu kapan datang? kami kok nggak lihat, sih?" tanya Gita.


"Tadi pas turun dari mobil aku langsung masuk ke dalam asrama, Aku kira kalian ada di dalam kamar. Aku cari ke mana-mana, eh malah nyantai di sini," ujar Dian.


"Oh gitu, Bang Agung udah balik?" tanya Gita.


"Udah, hari ini berangkat lebih awal ada urusan yang mau diselesaikan," jawab Dian.


"Yan, aku boleh tanya sesuatu enggak, sih?" ujar Gita.


"Kamu mau tanya apa sih, Git?" tanya Dian sambil menautkan kedua alisnya heran.


"Apakah kamu nyaman menjalani rumah tangga bersama Bang Agung dengan jarak yang membentang di antara kalian?" tanya Gita pada sahabatnya.


"Tumben kamu nanya begitu," lirih Dian.

__ADS_1


"Mhm, enggak apa-apa, sih," ujar Gita sambil melirik ke arah Lisa yang terlihat galau dengan kisah cintanya.


"Sebenarnya dalam menjalani sebuah rumah tangga di usia aku yang masih sangat muda bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, tapi karena Allah sudah menjodohkan ku dengan pria sebaik Bang Agung, aku hanya menyerahkan diri kepada Allah agar rumah tangga kami tetap langgeng walaupun jarak memisahkan kami. Lagian jarak ini hanya hingga aku tamat kuliah saja," jawab Dian.


"Namanya juga jodoh ya, mau tak mau harus dijalani," tambah Dia .


"Emangnya kenapa sih kamu juga udah kebelet mau nikah?" tanya Dian heran pada Gita.


"Enggak sih aku cuma lagi berpikir saja tentang jodohku nantinya," ujar Gita berharap Lisa masih mendengarkan percakapannya dengan Dian.


"Maksud kamu apa sih? Kan udah ada Nick calon suami kamu," ujar Dian heran.


"Iya, sih, tapi kan ini masih calon suami aku belum tentu dia berjodoh denganku," ujar Gita.


"Jodoh atau tidak jodohnya itu sudah takdir Tuhan yang penting kita sebagai hamba tuhan harus berusaha untuk mendapatkan pria yang kita cintai," ujar Dian mengeluarkan pendapatnya.


"Nah, itu yang jadi masalahnya, kalau seandainya aku tidak mau berusaha untuk mendapatkan Nick. Apakah aku salah?" tanya Gita menyindir Lisa yang sedang berputus asa.


"Mhm, salah sih enggak tapi lebih baik kita berjuang terlebih dahulu daripada tidak sama sekali. Setidaknya jika nanti kita memang tidak berjodoh tak ada penyesalan yang akan datang menghampiri kita," ujar Dian lagi.


"Nah, aku sependapat dengan kamu tapi nggak tahu ya sama teman kita." Gita melirik Lisa yang masih memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong.


Dia heran entah apa yang sudah mereka bicarakan sebelum dirinya datang.


Dian menyenggol lengan tangan Lisa yang menatap kosong ke depan.


"Kamu kenapa, Lis?" tanya Dian pada sahabatnya.


"Dia lagi galau mikirin Babang Reza," jawab Gita ceplas-ceplos.


"Eh, enggak kok," bantah Lisa.


"Udah, deh. Kamu jujur aja sama aku, enggak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya," ujar Dian.


Dian juga merasa beberapa hari terakhir ini, Lisa tampak murung. Lisa yang biasanya menerima telpon dari Reza setiap menjelang tidur, kini terlihat tak pernah lagi menelpon sebelum tidur.


Dian juga tahu, Reza sudah tak pernah lagi membangunkan Lisa untuk shalat tahajud, karena biasanya mereka ikut terbangun karena mendengar ponsel Lisa berdering saat dini hari.


Dian menghela napas panjang, dia menatap dalam pada sahabatnya.


"Lisa, tak ada yang perlu kamu sembunyikan dari kami. Kami adalah sahabatmu, jika memang ada masalah kamu bisa ceritakan pada kami," ujar Dian.

__ADS_1


"Begini, Yan. Sebenarnya Reza masih berusaha menghubunginya, tapi Lisa memblokir semua kontak komunikasi yang bisa dihubungi oleh Reza." Gita mulai menceritakan masalah yang dihadapi sahabatnya itu.


Tanpa keberatan, Lisa membiarkan Gita menceritakan apa yang sudah diceritakannya tadi.


"Jadi kamu memutuskan komunikasi dengan Reza hanya dengan alasan karena dia adalah pemilik resort tempat kita liburan kemarin?" tanya Dian memastikan pemahaman dirinya setelah mendengar cerita dari Gita.


Lisa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Dian.


"Kamu salah, Lisa. Tak seharusnya kamu memutuskan komunikasi secara sepihak. Apakah kamu tidak kasihan pada Reza? Saat ini dia pasti bertanya-tanya dengan sikap yang sudah kamu lakukan. terhadap dirinya," ujar Dian.


"Iya, Lisa. Kasihan Reza," tambah Gita setuju dengan pendapat Dian.


Lisa menoleh ke arah kedua sahabatnya secara bergantian.


"Apakah aku salah sudah mendiamkannya secara sepihak seperti itu?" tanya Lisa semakin ragu.


"Iya, kamu sudah salah," jawab Dian tegas.


"Lalu saat ini apa yang harus aku lakukan?" tanya Lisa bingung.


"Kamu harus mulai membuka komunikasi kembali dengan Reza," jawab Dian.


"Tapi, aku," lirih Lisa.


"Sudahlah jika nanti dia mulai menghubungi kamu jelaskan padanya alasan kamu menjauhinya selama ini," ujar Dian memberi solusi.


"Harta, tahta dan strata dalam Islam bukanlah pembeda setiap manusia yang ada di bumi ini. Allah membedakan hamba-Nya dengan iman. Menurutku Reza pemuda baik-baik dan aku yakin dia tidak akan membahas hal ini," ujar Dian menilai Reza yang baru saja mereka kenal.


"Lagian kalau kalian jodoh, Reza akan melakukan apa saja untuk mendapatkanmu," ujar Dian.


"Aku setuju dengan pendapat Dian, " ujar Gita.


Lisa menunduk, dia menyadari kesalahannya telah memutuskan komunikasi dengan pria yang setiap hari mengisi pikirannya.


"Tenang, aja. Nanti biar aku yang menghubungi Reza," ujar Gita menawarkan diri.


"Eh, enggak usah, biar aku tunggu dia menghubungiku lagi," ujar Lisa menolak tawaran dari sahabatnya.


Lisa sebagai seorang gadis tidak ingin terlihat terlalu berharap pada seorang pemuda.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2