Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 200


__ADS_3

Alita langsung memeluk tubuh Kayla kini dia pun menangis terisak di dalam pelukan sang kakak.


Alita tak lagi memperhatikan make up nya yang mulai berlepotan.


Kayla heran melihat sikap Alita yang tiba-tiba menangis dalam pelukannya.


"Ada apa, Dek?" tanya Kayla bingung.


Alita tak menjawab pertanyaan Kayla, dia masih saja menangis sehingga make up tipis yang tadi sudah melekat di wajahnya kini luntur dan tak berbentuk.


"Hei, kamu kenapa, Dek? Lihatlah make up kamu luntur, nih," ujar Kayla panik.


Kayla tak bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya dia membiarkan Alita meluapkan beban yang ada di dalam hatinya.


Tok tok tok.


Bunda hurry mengetuk pintu kamar Alita, lalu dia langsung masuk tanpa ada yang mempersilahkannya masuk.


"Apa yang terjadi, Kay?" tanya bunda Hurry saat melihat Alita yang sudah berantakan.


Make up yang tadinya sudah memoles wajah cantiknya, kini terhapus oleh air mata yang membasahi pipinya.


Kayla hanya bisa menggelengkan kepala, dia sendiri tidak tahu alasan adiknya itu menangis di dalam pelukannya.


"Alita, kamu kenapa, Sayang?" tanya Hurry dengan lembut.


Alita hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin menceritakan semua kejahatan yang sudah dilakukannya terhadap sang kakak.


Hal yang sangat disesalinya adalah menyuruh orang untuk memperkosa sang kakak di tengah hutan, saat Kayla tengah mengikuti acara perkemahan waktu itu.


Beruntung rencana jahat Alita waktu itu gagal karena Raffa datang menyelamatkan istrinya. Jika tidak, penyesalan yang mendalam akan menggerogoti hati Alita.


"Ya Allah, begitu banyak kesalahanku terhadap kakakku, tapi mengapa dia masih saja tulus menyayangi diriku?" gumam Alita di dalam hati.


"Mungkin pernikahan ini berat buat kamu, tapi kamu harus menjalaninya. Ini demi kebaikan kamu juga. Jika kamu hamil ulah kejadian malam itu, semua orang akan tahu kalau kamu,--"


"Apa?" tanya Rahman yang tiba-tiba datang ke kamar Alita.


Rahman yang merasa sang kakak terlalu lama menjemput keponakannya untuk acara akad nikah yang akan dimulai, ikut memanggil Alita karena beberapa tamu sudah menunggu pengantin wanita.


Hurry, Alita, dan Kayla kaget mendengar suara Rahman. Mereka terdiam dan tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan Rahman.

__ADS_1


Rahman mendekati sang kakak.


"Katakan, Kak. Apa sebenarnya yang terjadi sehingga kakak dan Bang Hendra meminta Alita menikah secepat ini," tanya Rahman mulai emosi.


Akhirnya Hurry tak tinggal diam, dia mendekati sang adik lalu mengelus lembut lengan adiknya.


"Dek, sekarang bukan waktunya membahas ini. Lebih baik kita laksanakan acara akad nikahnya terlebih dahulu," ujar Hurry berusaha menenangkan Rahman yang mulai emosi.


"Kayla, suruh Alita bersiap-siap kembali," pinta Hurry pada Kayla.


Setelah itu, Hurry menarik lengan sang adik keluar dari kamar Alita.


Wajah Rahman yang tadinya ramah dan santai kini berubah merah padam menahan amarah.


Dia tak sabar ingin menghajar Raymond karena saat ini di dalam pikirannya, Raymond adalah pria yang sudah mengambil kehormatan keponakan kesayangannya.


Sebelum memasuki ruang tamu, dimana acara akad nikah akan dilangsungkan. Hurry menghentikan langkahnya, dia menatap sang adik yang kini tengah menahan emosinya.


"Dek, tenangkan dulu hatimu. Tidak enak kamu bergabung dengan tamu lainnya dengan wajah seperti ini," nasehat Hurry pada sang adik.


"Aku akan bunuh pria itu, Kak," ujar Rahman dengan nada penuh penekanan


"Ini bukan salah dia, setelah acara akad nikah selesai, aku yang akan menjelaskan semuanya padamu," ujar Hurry.


"Tenangkan hatimu, malu sama sama tamu yang hadir," ujar Hurry.


Tamu yang datang memang tidak banyak. Hurry hanya mengundang beberapa orang tetangga terdekat.


Rahman memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, dia mengambil segelas air minum kemasan yang ada di atas meja.


Hurry menepuk jidatnya, dia tak menyangka Rahman akan mengetahui sifat asli keponakan kesayangannya itu.


Tak berapa lama, Alita pun keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi sambil digandeng oleh sang kakak, walau wajahnya masih terlihat kusut, dia berusaha tersenyum.


Gadis kecil Hurry kini sudah mulai dewasa, dia tak menyangka gadis yang sejak kecil bersama dirinya dan Rahman akan melangsungkan pernikahan di usianya yang masih sangat dini.


Kayla menuntun Alita melangkah menuju ruang tamu, lalu mendudukkan sang adik tepat di sebelah Raymond sang pengantin pria.


Sekilas Raymond mengagumi kecantikan sang calon istri yang dipoles dengan make up yang sangat sederhana, berbeda dengan pengantin biasanya.


Bukannya Hurry tak sanggup menyediakan jasa MUA tapi menurutnya hal itu tidak perlu karena mereka hanya melaksanakan akad nikah, tidak lebih dari itu.

__ADS_1


"Rahman, Alita sudah siap, ayo kita ke sana!" ajak Hurry pada adiknya.


Kakak adik itu pun melangkah menuju ruang tamu, mereka bergabung dengan para undangan yang sudah menunggu acar dilangsungkan.


"Bagaimana, Pak Hendra? Apakah kita sudah bisa memulai acara akad nikah ini?" tanya Penghulu pada tuan rumah.


"I-iya," jawab Hendra sambil mengangguk.


Kali ini Alita akan dinikahkan oleh wali hakim karena tak ada yang bisa menggantikan posisi ayahnya sebagai wali nikah.


"Saya terima nikahnya, Alita Fathiyaturrahma binti Mahmud Ali dengan 10 gram emas serta seperangkat alat shalat dibayar tunai," sahut Raymond dengan lantang menjawab lafaz ijab yang dilontarkan oleh wali hakim.


"Bagaimana saksi? Apakah sah?" tanya penghulu pada dua orang saksi yang sudah berada di sana.


"Sah!" seru kedua saksi itu dengan suara yang tak kalah lantangnya.


"Alhamdulillah," sahut para tamu yang datang.


Sang penghulu mulai membacakan doa untuk kedua mempelai, agar rumah tangga yang akan mereka jalani menjadi ladang ibadah bagi kedua insan tersebut.


Seperti biasa, acara selanjutnya adalah penyerahan mahar yang diberikan oleh pengantin pria kepada pengantin wanita.


Raymond berdiri diikuti oleh Alita, setelah itu Raymond menyerahkan mahar yang sudah disediakannya untuk sang istri.


Alita mengambil mahar yang diserahkan oleh Raymond lalu meraih tangan sang suami untuk menyalaminya dan mencium punggung tangan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Remon tersenyum puas setelah sah menjadi suami dari wanita yang selama ini diincarnya.


Alex merasa lega melihat adik sepupunya kini sudah sah menjadi seorang istri dari sahabatnya.


Tak ada lagi kerisauan yang akan menghantui Alex sebagai seorang kakak dalam menjaga adiknya.


Begitu juga dengan Raffa, dia senang melihat Alita sudah menikah dengan Raymond karena hal ini dapat menjauhkan gadis itu dari dirinya.


Setelah acara akad nikah usai para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan sederhana yang sudah disediakan oleh tuan rumah.


Acara akad nikah antara Raymond dan Alita tidak berlangsung lama, setelah salat dzuhur semua tamu pun sudah mulai meninggalkan kediaman keluarga Hendra.


Kini tinggallah keluarga inti yang berada di rumah tersebut.


"Alita!" panggil Rahman dengan suara lantang setelah memastikan tak ada lagi tamu yang beradab di dalam rumah sang kakak.

__ADS_1


Semua orang kaget, seketika suasana menjadi tegang.


Bersambung...


__ADS_2