
Raffa kaget melihat ekspresi Kayla saat menerima panggilan itu. Raffa mengambil ponsel Kayla yang jatuh ke lantai.
Ketiga sahabat Kayla juga mulai khawatir melihat ekspresi Kayla.
Raffa melihat panggilan masih tersambung.
"Halo, ada apa, Ray?" tanya Raffa setelah meletakkan ponsel di telinganya.
"Mas, ayah masuk rumah sakit," isak Rayna memberitahukan kabar sedih.
"Ada apa dengan ayah?" tanya Raffa lagi.
"Tiba-tiba ayah jatuh, dokter bilang ayah sakit jantung. Sedari tadi ayah panggil nama kakak," ujar Rayna masih dengan terisak.
"Kamu tenang, ya. Aku sama Kayla langsung berangkat ke Bandung," ujar Raffa.
"Iya, Mas." Rayna menutup panggilannya.
"Ada apa, Bang?" tanya Dia penasaran.
"Ayah Kayla masuk rumah sakit, aku sam Kayla harus berangkat ke Bandung sekarang juga," ujar Raffa menjawab pertanyaan sahabat istrinya.
"Iya, Bang. Hati-hati, ya," ujar Dian, Gita dan Lisa bersamaan.
Kayla masih mematung di tempatnya, dia masih teringat dengan perkataan ayahnya beberapa hari yang lalu saat mereka masih berada di Padang.
Di benak Kayla at ini hanya terlintas akan kehilangan pria yang disayanginya selama ini.
Pria yang memberikan kasih sayang dan perlindungan baginya semenjak dia masih kecil.
Raffa mengelus pundak Kayla.
"Sayang kita ke Bandung sekarang, ya," ajak Raffa.
Kayla hanya mengangguk dan mengikuti langkah suaminya, dalam keadaan seperti ini dia lupa untuk berpamitan dengan para sahabatnya.
Ketiga sahabat Kayla memakluminya, mereka tahu Kayla saat ini tengah shock.
Raffa meminta Satya menyuruh Satya untuk meminta supir mengantarkan mereka ke Bandung. Raffa tidak mungkin mengendara mobil langsung melihat kondisi istrinya yang masih shock dengan kabar yang baru saja mereka dapat.
Tak berapa lama, supir yang diminta Satya mengantar Raffa dan Kayla sudah menunggu pasangan suami istri tersebut di depan parkiran kampus.
Mereka langsung berangkat ke Bandung tanpa membawa apa pun.
Di dalam mobil, sepanjang perjalanan Kayla hanya diam. Namun, air matanya yang terus mengalir mengungkapkan isi hatinya yang terpukul dengan kondisi sang ayah.
Selama ini Bram selalu sehat, Kayla tak percaya tiba-tiba ayahnya memiliki penyakit jantung.
Dua jam perjalanan, Kayla dan Raffa sampai di rumah sakit.
Mereka langsung melangkah menuju ruangan Bram, sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan Satya pada Raffa.
"Kakak," pekik Rayna saat melihat Kayla datang.
Rayna berlari menghambur ke dalam pelukan sang kakak.
"Bagaimana keadaan ayah, Dek?" lirih Kayla pelan.
Rayna hanya diam, lalu menggandeng tangan kakaknya untuk masuk ke dalam ruangan tempat Bram di rawat.
Rita menatap sinis pada Kayla saat mereka masuk ke dalam ruangan suaminya.
__ADS_1
Rasa kesal dan bencinya pada Kayla semakin bertambah karena sejak suaminya berada di rumah sakit, Bram selalu menyebut nama wanita yang sangat dibencinya selama ini.
"Kay-la," lirih Bram.
"Kayla," Bram terus memanggil nama gadis kecil yang dirawatnya dengan penuh kasih sayang.
Hati Kayla hancur saat melihat pria tegap yang selalu mengayominya itu tengah terbaring lemah di atas brangkar dengan beberapa alat medis yang melekat di tubuhnya.
"Ayah, aku di sini," lirih Kayla.
Bram menatap sayu gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Kayla," lirih Bram lagi.
Bram mengedarkan pandangannya, dia melihat Raffa, Rayna dan istrinya tengah berdiri di sekelilingnya.
Bram tersenyum melihat orang-orang yang disayanginya berada di dekatnya.
"Ka-pan ka-mu da-tang," lirih Bram terbata-bata.
"Aku baru sampai, Yah." Kayla berusaha menahan tangisnya.
Dia tidak ingin melihat Bram semakin sakit melihat air mata yang jatuh di pipinya.
"Permisi, salah satu keluarga pasien bisa ikut saya?" ujar seorang perawat yang baru saja masuk.
"Ya," sahut Rita.
Rita pun keluar dari ruangan itu.
"Dek, tolong ambilkan obat ini di apotik, ya," ujar perawat tersebut pada Rayna sambil memberikan secarik kertas yang berisi resep obat untuk Bram.
Bram hanya menatap kepergian Rita dan Rayna yang keluar dari ruangan tersebut.
Raffa pun mengangkat panggilan tersebut dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Kini tinggallah Kayla dan Bram di ruangan itu.
Bram menoleh ke arah putrinya yang terlihat sangat sedih.
"Kayla," panggil Bram pada putrinya dengan nada yang pelan.
"Iya, Yah. Kayla di sini," lirih Kayla.
"Kayla, ada sesuatu yang harus ayah sampaikan sama kamu," ujar Bram dengan nada yang pelan.
"Katakan, Yah. AKu akan mendengarkan apa yang ingin ayah sampaikan," ujar Kayla menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut pria paruh baya itu.
"Selama ini, ayah menyimpan sesuatu yang tidak satu orang pun tahu." Bram menjeda ucapannya.
Dia menarik napasnya dalam.
"Apa itu, Yah?" tanya Kayla mulai penasaran.
"Di ruang kerja ayah, di laci lemari paling bawah, ayah menyimpan sebuah kotak," lirih Bram dengan susah payah menyampaikan sesuatu yang dipendamnya selama ini.
"Kotak?" lirih Kayla bingung.
"Iya, Nak. Di kotak itu, ada kenangan tentang dirimu di waktu kecil. Ayah harap, dengan benda itu kamu dapat menemukan jati dirimu," ujar Bram pelan.
"Kunci laci lemari itu ada di dalam kotak pulpen," ujar Bram lagi menyampaikan semua rahasia yang selama ini hanya disimpannya seorang diri.
__ADS_1
Bram tidak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun termasuk Rita, karena Bram tidak ingin Rita akan membuang kenangan itu.
Bram masih berharap dengan benda yang disimpannya itu Kayla dapat menemukan jati dirinya yang sesungguhnya.
Sejak Kayla menceritakan pertemuannya dengan Hurry, Bram ingin memberitahukan hal ini pada Kayla hanya saja dia belum memiliki waktu yang tepat.
"Maafkan ayah tidak bisa mempertemukanmu dengan keluarga kandungmu," lirih Bram sendu.
"Tidak, Ayah. Takdir yang kujalani ini bukanlah salah Ayah,tapi ini merupakan kehendak Allah," ujar Kayla.
"Ayah harap kamu bisa menemukan orang tua kandungmu dengan benda itu," lirih Bram.
Kayla menatap Bram sendu, saat dia tidak menginginkan hal itu. Kayla hanya ingin ayahnya sembuh dan kembali menjadi pria terhebat dalam hidupnya.
"Yah, saat ini Kayla hanya ingin ayah sembuh," ujar Kayla sendu.
Bram tersenyum.
"Jika nanti ayah pergi, jagalah ibu dan adikmu!" pinta Bram pada putri sulungnya.
"Ayah tidak boleh pergi, ayah harus sembuh. Kayla dan Rayna masih membutuhkan Ayah," ujar Rayna sedih mendengarkan ucapan Bram.
"Ayah sudah tidak sanggup lagi, Nak." Bram mulai merasakan sakit di jantungnya.
"Yah, ayah harus sembuh," pinta Kayla.
Akhirnya Kayla tak lagi dapat membendung air matanya.
"Ayah, Kayla masih butuh ayah, Kayla tidak mau kehilangan ayah," pinta Kayla lagi.
Bram memegangi dadanya, rasa sakit di bagian jantungnya semakin membuat dirinya lemah.
"Asyhaduallailaha illallah waasyhaduanna muhammadarrasulullah," lirih Bram pelan.
"Ayah!" teriak Kayla.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya πππ