Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 49


__ADS_3

Raffa keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah.


"Ada apa, Bang?" tanya Kayla bingung melihat wajah sang suami.


"Gak apa-apa," jawab Raffa.


Dia berusaha menutupi rasa panas di tubuhnya. Dia melihat sang istri sudah mengenakan hijab.


Jiwanya yang tadi menggelora kini mulai tenang, dia terus berusaha menahan hasratnya pada wanita yang belum siap menjadi istrinya seutuhnya.


Tak berselang lama, azan maghrib pun berkumandang. Kayla dan Raffa melaksanakan shalat maghrib berjama'ah di kamar hotel itu.


Setelah melaksanakan shalat maghrib, hati Raffa yang tadi bergelora kini mulai tenang.


Kayla menyalami suaminya setelah selesai shalat, dia menciumi punggung tangan suaminya sebagaimana yang dilakukan seorang istri biasanya setelah shalat berjama'ah dengan sang imam.


Setelah selesai shalat maghrib, Raffa mengajak Kayla untuk makan malam keluar hotel.


Dia mencari restoran yang tidak jauh dari hotel sehingga mereka bisa berjalan kaki untuk sampai ke sana, Raffa enggan untuk merepotkan Satya yang mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurusi gadis kecil Rayna.


Menikmati makan malam berdua sudah menjadi hal yang biasa bagi sepasang suami istri ini, karena semenjak pulang perkemahan Raffa selalu mengajak jalan istrinya keluar asrama satu kali dalam seminggu.


Mereka melewati makan malam begitu saja, untuk menghabiskan malam yang panjang Raffa mengajak Kayla untuk duduk di pelataran Jam Gadang sambil mengambil foto.


"Sayang, aku mau bakso bakar dong," rengek Kayla saat melihat pedagang bakso bakar berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Ya udah, tunggu bentar ya, aku belikan." Raffa berdiri dari duduknya lalu dia melangkah mendekati pedagang bakso tersebut.


"Sayang, pria beristri itu akan tertekan kalau nggak dapat jatah dari suaminya. Itu adalah hal yang paling menyiksa baginya." terdengar sayup-sayup suara sepasang suami istri yang duduk tak jauh dari Kayla.


"Masa sih?" tanya sang istri tak percaya.


"Iya, Sayang. Makanya kalau kamu lagi datang bulan aku suka jauh-jauh dari kamu, takut nggak sanggup. Ujung-ujung keluar mandi seluruh tubuhku merah menahan hasrat yang menggelora," ungkap sang suami jujur.


Seketika jantung Kayla berdetak kencang, dia mengingat wajah Raffa tadi sore.


"Astaghfirullahal'azhim," gumam Kayla terus beristighfar.


Dia menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya terhadap sang suami.


"Nih," ujar Raffa pada Kayla sambil menyodorkan sebungkus bakso dengan plastik.


"Cuma satu, Bang?" tanya Kayla pada Raffa.


"Kurang?" tanya Raffa tanpa menjawab pertanyaan sang istri.


"Enggak, sih. Buat kamu?" tanya Kayla.


"Aku masih kenyang," jawab Raffa.


Raffa memang jarang memakan makanan kaki lima seperti yang baru saja dibeli Kayla. Sedangkan Kayla dan teman-temannya memang lebih suka memakan jajanan kaki lima dengan alasan lebih dan lebih enak.


"Kamu mau, Bang?" tanya Kayla sambil menyodorkan satu tusuk bakso pada Raffa.

__ADS_1


"Kamu aja," ujar Raffa menggelengkan kepala.


Akhirnya Kayla menikmati bakso yang dibelikan Raffa sendirian sambil mengajak sang suami bercerita.


Setelah baksonya habis, Kayla melingkarkan tangannya di lengan kekar sang suami.


Raffa menoleh ke arah Kayla, dia merasa heran dengan tingkah sang istri.


"Bang, aku mengantuk," lirih Kayla dengan manja.


"Ya sudah, yuk kita pulang!" ajak Raffa.


Raffa berdiri lalu menggenggam tangan sang istri, mereka melangkah menuju hotel yang sudah mereka pesan.


Sesampai di kamar, Kayla langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu' dan bersiap-siap untuk shalat isya.


Raffa juga melakukan apa yang dilakukan sang istri.


Setelah mereka shalat, Kayla membuka mukenanya. Kali ini dia tidak langsung meraih hijabnya.


Kayla membiarkan Raffa melihat auratnya yang selama ini di tutupinya.


Setelah itu, Kayla langsung memeluk Raffa dari belakang, Raffa yang tadinya sedang melipat sajadah dan kain sarungnya.


"Maafkan aku, Bang," lirih Kayla merasa berdosa pada sang suami.


Raffa menautkan kedua alisnya lalu membalikan tubuhnya sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Raffa bingung.


Raffa kini paham dengan apa yang dimaksud oleh sang istri.


Dia langsung meraup bibir merah ranum yang dioles lipgloss rasa cherry.


Mereka pun mulai terbuai suasana, Kayla mulai menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh sang suami.


Perlahan tapi pasti, akhirnya sepasang suami istri itu pun meluapkan rasa yang telah tertunda berbulan-bulan.


Sementara itu, di tempat lain Rayna dan SAtya masih menyusuri pelataran jam gadang.


"Ayo balik ke hotel!" ajak Satya yang mulai merasa lelah mengikuti langkah gadis manja yang kini bersamanya.


"Aku belum mengantuk," bantah Rayna tidak mau menuruti perkataan Satya.


"Ya sudah, aku kembali duluan," ancam Satya mulai kesal dengan tingkah Rayna.


Rayna mendaratkan bokongnya di sebuah bangku taman yang tersedia di pelataran jam gadang.


Dia menengadahkan kepalanya menatap langit yang dipenuhi kelap kelip bintang yang menyinari malam yang gelap.


Dia tak menghiraukan ancaman yang diucapkan oleh Satya.


Dia masih saja menikmati indahnya malam di kota Bukittinggi, walau jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, suasana ramai masih terlihat jelas di sana.

__ADS_1


Semakin malam semakin banyak muda-mudi yang mulai nongkrong di pelataran jam Gadang.


Satya mulai risih dengan kehadiran beberapa muda-mudi yang mulai ribut di dekat mereka.


Dengan terpaksa Satya menarik tangan Rayna lalu membawanya begitu saja.


"Lepasin," teriak Rayna menolak.


Satya tidak menghiraukan teriakan Rayna, dengan susah payah dia membawa Rayna menuju hotel.


"Hei, kamu apakan gadis itu?"teriak salah seorang yang mereka temui saat melangkah menuju hotel.


"Maaf, Pak. Ini urusan rumah tangga, Pak," jawab Satya asal.


Satya sengaja memberitahu orang-orang yang berpapasan dengan mereka bahwasanya Rayna adalah istrinya yang sedang merajuk.


"Eh cowok sombong, bisa enggak, bersikap baik sama gue?" bentak Rayna tidak terima dengan sikap Satya padanya.


"Kalau kelembutan tidak mempan, apa salahnya aku berbuat keras?" jawab Satya santai.


"Dasar supir nggak punya adab, gue ini kan adik dari majikannya, kenapa dia berani bersikap kasar sama gue?" gerutu Rayna kesal.


Satya menyadari apa yang saat ini dia lakukan benar-benar salah, dia telah menyentuh tangan gadis yang jelas-jelas bukan muhrimnya.


Satya lebih baik melakukan hal itu daripada dia membiarkan Rayna berada di kerumunan muda-mudi yang tidak jelas kelakuan mereka.


Satya merasa posisi darurat dapat menjadikan alasannya untuk dibolehkan menyentuh gadis itu dengan paksa.


Sesampai mereka di hotel, Rayna memiliki sebuah ide gila untuk membalas perlakuan Satya.


Dia tersenyum penuh arti, membuat Satya bingung melihat gadis itu.


Bersambung . . .


.


.


.


.


Hai readers, terima kasih sudah membaca karya AuthorπŸ™πŸ™πŸ™


Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .


- Like


- Komentar


- Hadiah


dan

__ADS_1


-Vote


Terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2