Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 237


__ADS_3

Alex menunduk, dia mencoba berpikir memberi alasan pada semua orang agar mereka tidak mencurigai masalah yang tengah dihadapinya.


Alex tidak ingin semua orang kecewa dengan sikap Irene yang saat ini sulit dikendalikan olehnya selaku suami.


Alex ingin mendidik dan mengajari sang istri tanpa diketahui oleh keluarganya. Hal yang harus dilakukannya saat ini adalah tetap mengendalikan emosi dan menahan diri agar dia bisa membawa Irene ke jalan yang benar.


"Mhm, Irene sedang enggak enak badan, Bun. Tadinya aku mau menemaninya di rumah, tapi Irene merasa tidak enak jika aku tidak datang ke sini. Jadi, dia tinggal bersama Mak Ijah," jawab Alex.


"Oh, begitu. Kasihan, besok kalau Kayla bisa Bunda sama Ayah ke rumah kamu, ya. Bunda juga kangen sama Mak Ijah," ujar Hurry penuh pengertian.


"I-iya, Bun." Alex hanya bisa mengangguk pasrah.


Raffa mencermati gelagat Alex yang terlihat aneh tidak seperti biasanya, tapi saat ini dia memilih untuk diam.


****


Keesokan harinya, Alex terbangun dari tidurnya sebelum azan subuh. Dia berdiri lalu melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Sejak malam itu Alex memilih tidur terpisah dengan Irene. Alex tidak ingin emosinya terus terpancing di saat melihat sang istri tak lagi memperdulikan dirinya.


Istrinya yang kini lebih sibuk dengan ponselnya, dan yang merasa bahwa dirinya masih seorang gadis yang tidak memiliki tanggung jawab terhadap suaminya.


Alex masuk ke dalam kamarnya, dia melihat istrinya yang masih tidur dengan nyenyaknya.


Alex menghampiri sang istri, dia menatap dalam pada wajah polos istrinya yang masih terlelap dalam mimpinya.


"Ya Allah, berikanlah petunjuk pada istriku. Semoga dia bisa mengerti dengan keadaanku saat ini dan dapat menerima apapun yang saat ini aku usahakan untuknya," gumam Alex memohon pada Allah.


Setelah itu Alex langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap melaksanakan ibadah shalat subuh.


Saat adzan subuh berkumandang, Alex melangkah mendekati sang istri yang masih terlelap.


"Ren, bangun sudah adzan subuh," ujar Alex mengingatkan istrinya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


"Mhm," gumam Irene menggeliatkan tubuhnya.


Dengan berat dia berusaha membuka matanya perlahan. Irene melihat sosok sang suami sudah rapi dengan pakaian kok dan bersiap untuk pergi ke mesjid yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.

__ADS_1


"Sudah adzan, bangunlah. Laksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah," ujar Alex pada istrinya dengan nada datar.


Setelah itu Alex melangkah keluar dari kamar. Dia menapaki jalanan komplek menuju mesjid.


Irene menghela napas panjang, lalu dia berusaha duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Ya ampun, masih subuh begini sudah bangun," gerutu Irene kesal.


Kebiasaan Irene yang bangun setengah enam setiap harinya ketika dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya membuat dia merasa kesulitan untuk bangun sepagi ini.


Perlahan Irene melangkah pelan menuju kamar mandi, dia mulai membersihkan diri. Dia tidak ingin Alex semakin marah padanya melihat dirinya yang masih tidur saat dia pulang dari mesjid nantinya.


Setelah selesai mandi, Irene langsung melaksanakan shalat subuh, setelah itu dia duduk di atas tempat tidur sambil membuka ponselnya.


Lagi-lagi dia sibuk dengan ponselnya seperti yang dilakukannya saat dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya.


"Ren, nanti. Bunda dan Ayah akan datang ke sini, bersikap sebagai seorang istri dan menantu yang baik. Aku tidak mau mereka kecewa sudah memperjuangkan wanita yang kini mulai tak menghargai putranya," ujar Alex saat dia sudah pulang dari mesjid.


Kata-kata Alex bagaikan sembilu yang menancap di hati Irene. Wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya merasa tersindir dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Alex.


Irene terdiam mendengar kata-kata dari suaminya. Ada luka yang tertoreh oleh lisan sang suami, tapi entah mengapa lidahnya kelu tak sanggup membantah perkataan dari sang suami.


Alex mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dalam hatinya berharap Allah membukakan hati sang istri yang berubah begitu saja terhadap dirinya.


Entah memang sifat Irene saat gadis atau dia yang belum siap berlaku menjadi seorang istri, hanya dia yang tahu.


Mak Ijah, kini sudah sibuk memasak di dapur, dia mengerti situasi rumah tangga Alex dan Irene, tapi dia memilih untuk tetap diam agar tidak semakin memperkeruh keadaan.


"Mak, aku bantuin ya." Tiba-tiba Irene datang dan menghampiri Mak Ijah yang sedang memotong-motong sayuran.


"Oh iya, Nak," lirih Mak Ijah kaget.


Tak seperti biasanya Irene akan datang menghampiri di dapur lalu membantunya mengurusi urusan dapur.


"Aku bantuin apa, Mak?" tanya Irene pada Mak Ijah.


"Ini saja, ngupas kentang dan wortel," ujar Mak Ijah mengarahkan Irene.

__ADS_1


Terlihat dengan jelas bahwa Irene memang tak biasa bekerja, walaupun dia sedikit bisa memasak tapi hanya sekadarnya saja.


Mereka pun mulai asyik masak di dapur sambil menikmati lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari suara merdu milik Alex.


Pada pukul 07.00 semua makanan untuk sarapan sudah terhidang di atas meja, Irene datang menghampiri Alex yang masih membaca Alquran.


"Lex, yuk sarapan," ajak Irene.


Alex menoleh ke arah istrinya, dia menatap dalam pada sang istri yang terlihat mulai berubah di matanya.


Tapi, dia tidak mudah untuk menerima perubahan tersebut karena Alex tidak ingin kembali kecewa jika perubahan istrinya hanya dikarenakan rencana kedatangan kedua orangtuanya.


Alex menutup bacaannya dan meletakkan Al-Qur'annya di atas meja, lalu dia berdiri melangkah menuju ruang makan untuk sarapan.


Setelah sarapan, Alex dan Mak Ijah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV, berhubung hari ini hari Minggu dia tidak ada kegiatan. Sedangkan Irene langsung masuk kamar dan kembali asyik dengan ponselnya.


Pada pukul 10.00 Ayah Hendra dan Bunda Hurry datang.


"Assalamu'alaikum," ucap Bunda Hurry dan Ayah Hendra saat mereka telah berada di teras rumah kontrakan milik Alex.


"Wa'alaikummussalam."


Alex dan Mak Ijah yang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi menjawab salam dari kedua orang tua Alex.


Mak Ijah berdiri dan melangkah keluar membukakan pintu untuk ayah Hendra dan Bunda Hurry.


Irene yang berada di kamar langsung menghentikan kegiatannya bermain ponsel dan keluar dari kamarnya untuk menyambut kedatangan kedua mertuanya.


"Bunda udah datang?" tanya Irene pada suaminya yang masih duduk di depan TV.


Alex mengangguk, dia melambaikan tangannya meminta Irene untuk duduk di sampingnya.


Irene pun melangkah menuju posisi sang suami, dia mengikuti permintaan Alex.


Mereka berdua berdiri menyambut kedatangan ayah Hendra dan bunda Hurry, saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.


"Bunda," lirih Irene lalu menyalami tangan wanita yang berstatus sebagai mertuanya.

__ADS_1


"Kamu udah enakan, Sayang?" tanya Bunda Hurry pada sang menantu sambil mengelus lembut kepala sang menantu.


"Hah?" Irene menautkan kedua alisnya heran mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya.


__ADS_2