Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 225


__ADS_3

“Iya, Ma,” seru Kayla.


Dia bergegas keluar dari kamarnya.


“Ada apa, Ma?” tanya Kayla saat dia sudah membuka pintu kamar.


“Itu, Alita dan Raymond datang.” Arumi memberitahukan Kayla kedatangan adik dan adik iparnya.


“Serius, Ma? Tumben,” ujar Kayla.


“Di mana mereka,Ma?” tanya Kayla pada ibu mertuanya.


“Di kamar 3R,” jawab Arumi.


“Oh, ya udah. Aku ke sana sekarang,” ujar Kayla.


Mereka pun melangkah menuju kamar 3R.


“Sayang, mama mau mandi dulu, ya,” ujar Arumi lalu dia pun melangkah menuju kamar yang sudah disediakan oleh Raffa dan Kayla untuk kamar dua nenek tersebut.


Berhubung kamar di rumah itu hanya ada tiga maka, dua nenek itu tinggal di kamar yang sama yaitu kamar yang dulu ditempati oleh Fitri, 3R di kamar yang satu lagi yan biasa digunakan oleh Satya dan Rayna.


Kayla melangkah menuju kamar 3R, di sana Raymond dan Alita sudah bermain dengan 3R sambil dipantau oleh bunda Hurry.


“Sudah lama, Al?’ tanya Kayla pada adiknya saat dia sudah masuk ke dalam kamar 3R.


“Eh, Kakak. Belum terlalu lama, Kak” jawab Alita lalu berdiir dan mendekati sang Kakak, ALita menyalami kakaknya.


“Kangen, Kak,” lirih Alita.


“Kakak juga kangen sama kamu,” ujar Kayla memeluk sang adik.


“Tumben kamu datang?” tanya Kayla.


“Emangnya aku enggak boleh ketemu kamu, Kak. Aku juga kangen sama bunda. Mumpung Bunda di sini ya aku minta dianterin Ray, ke sini.” Alita menyampaikan alasan kedatangannya.


Alita ingin sekali bermain dengan ketiga bayi kembar sang kakak, tapi dia takut kakak iparnya melihat hal itu dan lagi-lagi dia akan marah besar padanya.


Mereka pun mengobrol, saat Kayla sedang menyusui Raja, Ratu bangun dan menangis minta digendong. Hurry sudah menggendong Raju.


“Al, tolong gendong Ratu, ya,” pinta Kayla pada adiknya.

__ADS_1


Dengan takut Alita pun mencoba hendak mengambil Ratu yang sedang menangis di atas kasur. Belum sempat Alita menyentuh Ratu, Raffa sudah berdiri di depan pintu dengan menatap tajam ke arah Alita.


“Jangan pernah kau menyentuh anak-anakku dengan tangan kotormu itu!” ujar Raffa dengan tegas.


Sorotan matanya menatap Alita penuh kebencian, Jika sebelum Raffa kecelakaan, Dia memang tidak suka pada Alita tapi tidak pernah memperlihatkan ketidak sukaannya, kini dia tak memandang Bunda Hurry yang juga berada di kamar 3R.


Ayah 3 anak kembar itu kini benar-benar membenci Alita, dan baginya takkan ada pintu maaf untuk wanita yang sudah berniat jahat terhadap istrinya.


Arumi mendengar teriakan Raffa, dia merasa tidak enak melihat tingkah Raffa terhadap Alita. Apalagi saat ini Hurry juga berada di kamar 3R. Seharusnya Raffa bisa mengendalikan emosinya di hadapan ibu mertuanya walau bagaimanapun Alita adalah putri Hurry sehingga tindakan Raffa akan membuat hati Hurry berkecil hati.


Kayla menatap heran pada sang suami, sambil menggendong Raja, Kayla menghampiri Raffa. DIa mengelus lembut lengan sang suami dnegan sebelah tangan memapah tubuh kecil Raja.


“Bang, tolong kendalikan emosimu,” lirih Kayla.


Kayla tak ingin Bunda Hurry berkecil hati akibat sikap Raffa terhadapa Alita.


“Sayang, aku hanya tidak ingin tangan kotor adikmu ini menyentuh ketiga anak-anak kita, dia adalah wanita ular yang akan siap membunuh kita di waktu kita lengah,” ujar Raffa sambil menunjuk ke arah Alita yang kini menundukkan kepalanya.


Arumi bergegas menghampiri putranya, dia harus bertindak. Arumi menarik tangan Raffa dan membawanya ke teras rumah.


Raymond hanya diam, dia tak bisa berbuat banyak untuk istrinya karena dia sendiri tidak tahu apakah istrinya sudah berubah atau masih bersandiwara.


“Raffa!” bisik Arumi penuh penekanan.


“Ada apa, Ma?” tanya Raffa heran dan kesal.


Di saat dia ingin memberitahukan kebusukkan Alita, mamanya justru menariknya keluar dari rumah.


“Raffa, tolong kendalikan emosimu. Saat ini, Hurry sedang ada di sana, tolong jaga perasaan ibu mertuamu,” ujar Arumi mengingatkan sang putra.


“Aku tidak bisa menahan emosiku jika bertemu dengan wanita ular itu, Ma. Dia benar-benar busuk!” ujar Raffa dengan penuh rasa benci di hatinya.


Arumi mengernyitkan dahinya bingung.


“Apa maksud kamu berkata seperti itu pada Alita,” tanya Arumi heran.


“Dia adalah wanita yang sudah menyamar sebagi Zahra untuk merusak rumah tanggaku dengan Kayla. Dia juga sudah berniat untuk menjebakku di malam saat kita berlibur, dan untuk ada Alex dan Raymond sehingga di malam itu yang berada di kamarnya adalah Raymond.” Raffa menghela napas panjang.


Arumi masih mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh putra semata wayangnya.


“Dia juga sudah menyuruh orang untuk memperkaos Kayla saat kami berada di perkemahan,” ujar Raffa penuh penekanan.

__ADS_1


“Ini adalah alasanku sangat membencinya. Apakah aku salah membenci orang yang ingin menghancurkan kehormatan istriku, Ma?” tanya Raffa semakin membenci Alita saat mengingat kejadian itu.


“Apa? Alita separah itu?” tanya Arumi tak percaya.


Dia melihat sosok Alita masih polos dan tidak mungkin melakukan hal yang dikatakan oleh Raffa.


“Iya, Ma. Aku sudah tahu siapa dirinya sebenarnya,” tambah Raffa.


“Kamu tahu semua ini dari mana, Fa. Kamu tidak boleh sembarangan berbicara. Nanti jatuhnya fitnah,” ujar Arumi mengingatkan putranya.


“Benar, Ma. Aku dengar sendiri Alex menceritakan semua kebusukkan Alita pada Om rahman,” ujar Raffa mengingat kejadian di sebelum dia mengalami kecelakaan.


“Apa? Alex tahu itu dari mana?” tanya Arumi masih belum percaya dengan kelakuan buruk Alita.


“Raymond menyuruh seseorang untuk memata-matai Alita, dari orang suruhan Raymond mereka dapat mengetahui apa saja yang dilakukan Alita dan apa saja yang akan dilakukan oleh wanita itu,” ujar Raffa menjelaskan pada mamanya.


Arumi hanya menghela napas panjang, dia mencoba menerima semua kelakuan Alita dan berharap ALita akan berubah.


Arumi mengelus lengan Raffa.


“Fa, kalaupun seperti itu, paling tidak kamu harus bisa menjaga sikapmu di depan Bunda Hurry, Mama tidak mau mertuamu akan bersedih melihat sikapmu pada adik iparmu itu,” nasehat Arumi.


“Tapi, Ma. Aku tidak ingin tangan kotornya menyentuh buah hatiku. Aku tidak ingin putra-putriku ketularan jahatnya Alita,” bantah Raffa.


“Kamu tidak boleh seperti itu, mana tahu Alita sudah berubah. Allah saja maha pemberi maaf kenapa kita sebagai hambaNya tidak bisa memaafkan tindakan manusia lainnya.” Arumi terus berusaha menasehati putranya.


“Huhhfft.” Raffa menghela napas panjang.


Di kamar 3 R, Kayla merasa tidak enak pada bunda dan adiknya.


DIa meletakkan Raja di atas kasur dan memberikan mainan agar Raja tidak rewel.


“Bun, Kayla minta maaf aatas sikap Bang Raffa terhadap Alita,” ujar Kayla memohon pada Bunda Hurry.


“Kamu tidak salah, Nak. Bunda tak tahu apa yang sudah dilakukan adikmu sehingga Raffa sangat membenci adikmu,” lirih Hurry kecewa.


Hurry menatap dalam pada Alita, dia ingin Alita memberitahukan apa sebenarnya sudah dilakukannya sehingga Raffa sangat membencinya.


“Alita, ceritakan pada bunda apa sebenarnya sudah kamu lakukan?” tanya Hurry meminta penjelasan pada Alita.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2