Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 58


__ADS_3

"Mhm," gumam Kayla mengurungkan niatnya mengambil minuman di atas meja.


"Boleh bunda lihat?" pinta Bunda Hurry penuh harap.


Kayla mengernyitkan dahinya melihat wajah penuh harap yang terpancar dari wajah wanita itu.


Kayla mengulurkan tangannya ke arah Hurry, dengan seksama Hurry memperhatikan tanda ahir yang ada di pergelangan tangan Kayla.


Deg


Seketika jantung Kayla berdetak kencang, dia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di hatinya.


Raffa melihat interaksi antara dua wanita beda generasi itu.


"Apakah Bunda Hurry, ibu kandung Kayla?" gumam Raffa di dalam hati.


Arumi memandang putranya merasakan aapa yang kini juga dirasakan oleh putranya.


Arumi yang mengetahui status Kayla di keluarga Bramantyo mulai berpikiran bahwa Kayla adalah putri dari sahabatnya itu.


"Ada apa, Hur? Apakah kamu mengenali tanda lahir yang ada di tangan menantuku?" tanya Arumi penasaran.


Hurry terpaku, dia hanya bergeming tak sanggup menjawab pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya.


"Bunda," lirih Kayla bergetar.


Buliran bening jatuh di pipi Kayla, begitu juga dengan Hurry tangannya bergetar saat menyentuh tangan Kayla.


"Ara." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Hurry.


"Bolehkah bunda memelukmu?" tanya Hurry bergetar.


Kayla tak menjawab pertanyaan Hurry, dia langsung memeluk tubuh Hurry dengan erat.


"Bunda," lirih Kayla.


Kayla membayangkan bahwa wanita yang kini dipeluknya adalah ibu kandungnya.


Hurry membalas pelukan Kayla dengan erat, dia yakin bahwa menantu dari sahabatnya ini adalah gadis kecilnya yang pernah hilang.


Mereka larut dalam rasa yang mereka sendiri tidak tahu apa artinya.


Raffa dan Arumi hanya diam, mereka mencoba mencerna situasi yang terjadi di antara Kayla dan Hurry.


Setelah beberapa menit mereka meluapkan rasa yang ada di hati mereka, Hurry mengurai pelukannya.


"Maafkan bunda ya, Nak," ujar Hurry sambil mengusap pipinya yang sembab.


"Enggak apa-apa, Bun," lirih Kayla menanggapi.


"Dulu, 15 tahun yang lalu putri bunda dibawa penculik. Jika dia selamat dan masih hidup, kira-kira dia saat ini seumuran dengan kamu, Nak," ujar Hurry jujur mengungkap luka yang pernah dialaminya.


Kayla langsung menoleh ke arah Raffa, dia mengira bahwa Hurry adalah ibunya. Namun, mereka tidak bisa menebak begitu saja tanpa adanya bukti-bukti yang menyatakan Hurry dan Kayla merupakan ibu dan anak.


Kayla hanya diam, dia harus memberitahukan hal ini pada ayahnya Bram.

__ADS_1


"Maukah kamu Bunda anggap putri bunda, Nak?" pinta Hurry pada Kayla.


"Iya, Bun," lirih Kayla.


"Bun, ini pakaian yang bunda minta tadi," ujar Merry yang sempat diam melihat apa yang terjadi antara Hurry dan Kayla.


"Eh, iya. Coba lihat, Rum," ujar Hurry pada sahabatnya.


Seketika dia berusaha menetralkan suasana yang sempat mengharu biru.


Kayla berpindah duduk ke samping Raffa, dia merebahkan tubuhnya ke dada bidang sang suami untuk menenangkan hatinya yang masih dibalut rasa yang tidak menentu.


Raffa mengelus lembut pundak Kayla, dia dapat merasakan apa yang dirasakan sang istri saat ini.


"Hur, aku minta tolong pilihkan beberapa gamis yang cocok buat aku dan Kayla, ya. Nanti kamu kirimkan saja ke rumah lewat gojek," pinta Arumi.


"Melihat suasana hati Kayla, mungkin alangkah lebih baiknya kami pulang terlebih dahulu," ujar Arumi izin pamit pada Hurry.


"Aku minta maaf ya, Rum. AKu sudah membuat Kayla bersedih," ujar Hurry merasa bersalah.


Hurry tahu, dia tidak boleh menebak Kayla sebagai putrinya yang hilang, karena dia harus mencari bukti-bukti yang valid untuk memastikan bahwa Kayla itu putrinya atau tidak.


Setelah itu, Arumi pamit pada sahabatnya dan membawa anak menantunya keluar dari butik milik sahabatnya.


Sepanjang perjalanan, Kayla hanya diam. Pikirannya jauh ingin mengetahui apakah bunda Hurry adalah ibunya.


Raffa dan Arumi memilih untuk diam karena mereka tahu apa yang saat ini tengah dirasakan oleh Kayla.


Sesampai di rumah, Arumi memilih masuk ke dalam kamarnya dan meminta Raffa untuk membawa Kayla ke kamar.


"Bang, jika bunda Hurry terbukti ibu kandungku, aku akan sangat bahagia," ujar Kayla setelah mereka berada dalam kamar.


"Kamu pasti lelah, lebih baik kamu istirahat dulu," nasehat Raffa pada istrinya.


Kayla mengangguk, dia melepas hijabnya dan mengganti pakaian rumah.


"Aku istirahat dulu, kamu mau ngapain, Bang?" tanya Kayla pada Raffa yang kini sedang duduk di sofa.


"Aku mau reschedule jadwal seminar dulu, minggu depan ada beberapa seminar yang harus aku isi," jawab Raffa.


"Oh, ya sudah." Kayla pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Namun, matanya sulit terpejam. Hangatnya pelukan bunda Hurry masih dapat dirasakannya.


"Aku tidak bisa tidur," keluh Kayla manja.


Dia turun dari tempat tidur lalu melangkah menghampiri Raffa yang masih duduk di sofa dengan laptopnya.


"Aku boleh duduk di sini?" tanya Kayla meminta izin pada suaminya.


"Sini, kenapa harus minta izin?" ujar Raffa.


Sikap Raffa pada Kayla sudah mulai seperti biasanya, karena dia berusaha untuk tetap menjaga hati wanita tidak bersalah yang telah masuk ke dalam kehidupannya.


"Aku takut mengganggu pekerjaan, Abang," jawab Kayla jujur.

__ADS_1


Raffa mengangkat tangannya dan menarik tubuh Kayla ke dalam dekapannya.


"Aku akan selalu berusaha ada di saat kamu membutuhkan dada kekarku," ujar Raffa menggoda istrinya agar terhibur.


"Benarkah?" Kayla mesangsikan ucapan Raffa.


"Tentu, atau kamu mau lebih dari sekedar ini?" goda Raffa yang berhasil membuat wajah Kayla berubah merah.


"Ish, abang genit," ujar Kayla sambil mencubit pelan pinggang suaminya.


Mereka pun tertawa, setidaknya Raffa dapat menghilangkan kesedihan yang ada di hati Kayla.


"Kalau kamu mau berbaring, berbaringlah!" ujar Raffa menawarkan pahanya sebagai bantal.


Kayla pun mengambil posisi berbaring lalu mulai memejamkan matanya.


Selang beberapa menit dia pun stelah tenggelam di alam bawah sadar.


Raffa kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedang berkoordinasi dengan pihak penyelenggara seminar.


Di tempat lain, Bunda duduk termangu di ruangan pribadinya yang terdapat di dalam butik.


"Bun," lirih Agung sebelum masuk ke dalam ruangan sang bunda.


"Ada apa dengan Bunda?" tanya Agung penasaran melihat wajah sang bunda sembab seperti orang yang baru saja menangis.


"Tidak apa-apa, Nak. Bunda hanya ingat sama Ara," jawab Bunda Hurry jujur pada putra sulungnya.


"Bun, Ara sudah pergi, kita juga tidak tahu harus mencari Ara ke mana. Harusnya bunda ikhlas, dan berdo'a, jika Ara masih hidup semoga dia bahagia, dan jika dia sudah tidak ada semoga dia tenang di sisiNya," nasehat Agung pada Bundanya.


"Tidak, Gung. Ara masih hidup, bunda yakin Ara masih hidup!" sahut Bunda.


"Maksud Bunda, apa?" tanya Agung bingung.


Bersambung . . .


.


.


.


.


Hai readers, terima kasih sudah membaca karya AuthorπŸ™πŸ™πŸ™


Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .


- Like


- Komentar


- Hadiah


dan

__ADS_1


-Vote


Terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2