Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 290


__ADS_3

Jarum jam dinding sudah menunjukkan ke angka 10 itu artinya malam sudah semakin larut, hati Akifa sangat senang saat Farhan tak kunjung juga datang.


Alex masuk ke dalam ruang keluarga, dia tampak kecewa. Dia tak menyangka Farhan akan mengingkari janjinya.


Akifa terlihat senang, karena akhirnya dia bisa memilih dalam menentukan pendamping hidupnya.


"Sudah terlalu malam tidak mungkin Farhan akan datang untuk menunjukkan itikad baiknya," ujar Hendra kecewa.


Hendra hendak berdiri dan melangkah menuju kamarnya. namun tiba-tiba terdengar suara sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah kediaman keluarga Hendra.


Langkahnya terhenti lalu dia menoleh ke arah Alex dan meminta Alex untuk melihat siapa yang datang.


Dengan sumringah Alex melangkah menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Dia yakin kamu yang datang adalah Farhan.


Alex melihat sebuah mobil Pajero masuk ke dalam pekarangan rumah.


Tak berapa lama keluar Farhan dari mobil tersebut diikuti oleh kedua orang tuanya.


Alex tersenyum menyambut temannya yang datang.


"Maaf, Bro, tadi di jalan macet makanya kami datang terlambat," ujar Farhan menjabat tangan Alex.


"Iya, Nak. Tadi ada kecelakaan yang menyebabkan kami terjebak dalam kemacetan." Ayah Farhan ikut membela putranya.


"Tidak apa-apa, Om. Silakan masuk," ajak Alex mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.


"Siapa yang datang, Lex?" tanya Hendra tak sabar menunggu Alex.


Dia melihat ke arah Farhan dan kedua orang tuanya yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.


Tanpa menunggu jawaban dari putranya dia langsung duduk berhadapan dengan kedua orang tua Farhan.


Hurry dan yang lainnya pun ikut keluar ingin tahu siapa tamu yang datang.


Mereka semua berkumpul di ruang tamu kecuali Akifa, dia memilih mengintip dari ruang keluarga apa yang akan dibicarakan oleh para kedua orang tuanya dan kedua orang tua Farhan.


"Selamat malam, Pak Hendra. Sebelumnya kami minta maaf kedatangan kami sudah mengganggu waktu istirahat Bapak dan keluarga, kami sudah berangkat dari rumah sejak sesudah Maghrib tapi kami terjebak macet di tengah jalan mau ke sini," ujar Papa Farhan berbasa-basi.


"Oh, tidak masalah, Pak. Yang penting Farhan mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya," ujar Hendra ramah.


Entah mengapa Hendra merasa bahwa keluarga Farhan adalah keluarga yang baik. Mereka mengobrol sejenak saling memperkenalkan jati diri keluarga masing-masing hingga tibalah saatnya mereka membahas tujuan kedatangan Farhan bersama keluarga ke rumah Hendra.

__ADS_1


"Farhan telah menceritakan semuanya pada kami, meskipun tidak terjadi apa-apa pada mereka tadi malam. Farhan ingin melamar putri bapak," ujar Papa Farhan berterus terang.


"Kami juga tidak ingin, putri bapak di cap gadis yang bukan-bukan," tambah Mama Farhan.


"Alhamdulillah, kalau seperti itu. Saya kagum dengan niat baik Nak Farhan, kami sudah mendiskusikan hal ini tadi pagi. Kami serahkan takdir pada Allah, jika memang Farhan adalah pria yang baik untuk Akifa maka Farhan akan datang menjemput jodohnya," ujar Hendra jujur.


Dia terlihat sangat senang dan mulai simpati pada sosok Farhan, terlebih dia yakin Farhan adalah pria yang baik.


"Kalau begitu kita bisa bicarakan masalah pernikahan mereka secepatnya, Pak Hendra?" ujar Papa Farhan meminta pendapat.


Mereka sudah lama menyuruh Farhan untuk menikah, tapi Farhan cuek dan tidak peduli dengan usianya semakin bertambah.


Oleh sebab itu kedua orang tua Farhan langsung setuju saat Farhan meminta melamarkan seorang gadis untuknya.


"Untuk masalah pernikahan kami akan membahas hal ini dengan putri kami terlebih dahulu, karena Akifa saat ini masih dalam masa kuliah. Kami harus meminta pendapat padanya terlebih dahulu," ujar Hendra.


"Baiklah, Pak Hendra. Kalau begitu bisakah kita melakukan pertunangan terlebih dahulu agar mereka merasa saling terikat satu sama lain sebelum pernikahan kita laksanakan?" pinta Papa Farhan.


"Baiklah, nanti biar kami kabari kapan kita akan mengadakan prosesi acara pertunangan itu." Hendra setuju.


"Baiklah kalau begitu, mungkin masalah ini akan kita lanjutkan di pertemuan berikutnya," ujar Papa Farhan.


Pembicaraan mereka tak berlangsung lama. Dengan mudah Hendra menyetujui perkataan kedua orang tua Farhan.


Alex senang dengan apa yang dilihatnya barusan, akhirnya Akifa bisa terlepas dari pria tak benar itu.


Akifa mendengar semua yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya sangat membuat dia hancur.


Dia kecewa dengan kenyataan yang harus dijalaninya nanti setelah menikah bersama pria yang sama sekali tidak disukainya.


Akifa langsung masuk kamar tanpa berbicara sepatah kata pun dengan keluarganya.


Keesokan harinya, Akifa kembali beraktivitas seperti biasa. Dia berangkat ke rumah sakit, dia melewati hari tanpa semangat.


Wajahnya yang selalu ceria kini murung bagaikan cuaca yang mendung.


"Hai, kamu kenapa?" tanya Hansel pada Akifa yang sedang duduk di kantin rumah sakit tanpa memakan menu yang sudah dipesannya.


"Akifa?" panggil Hansel lagi sambil melambaikan tangannya memberi kode pada Akifa.


"Eh," lirih Akifa tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Hansel penasaran.


Dia terlihat khawatir pada Akifa yang sejak tadi murung.


"Mhm," gumam Akifa.


"Kamu ada masalah?" tanya Hansel lagi.


"Mhm, enggak ada apa-apa," ujar Akifa malas.


Dia tak bersemangat berbicara dengan siapapun.


"Kalau ada masalah silakan cerita padaku," ujar Hansel pada mencoba membujuk Akifa agar mau bercerita dengannya.


"Mhm, aku memang ada sedikit masalah, tapi aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah yang kini aku hadapi," ujar Akifa jujur pada Hansel.


"Masalah apa?" tanya Hansel mulai penasaran.


"Aku akan dinikahkan oleh kedua orang tuaku," tutur Akifa murung.


"Apa?" tanya Hansel tak percaya.


Hansel kaget mendengar ucapan Akifa, dia tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu karena menurutnya Akifa masih sangat belia.


"Iya, Hans. Kedua orang tua ku akan menikahkan aku dengan pria yang tidak aku sukai, mereka ingin aku menikah dengan pemuda itu," tutur Akifa mengeluarkan uneg-uneg yang dirasakannya pada Hansel.


"Apakah kamu tidak menolak perjodohan itu?" tanya Hansel cemas.


Dia takut apa yang dikatakan oleh Akifa benar-benar terjadi, itu artinya dia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Akifa.


"Aku sudah menolaknya, tapi Abangku tidak menerima penolakan ku," tutur Akifa jujur.


"Kenapa? Bukankah pernikahan itu kamu yang akan menjalaninya?" ujar Hansel.


"Iya, tapi mereka yakin aku akan bahagia dengan pria itu, padahal aku sendiri sudah memilih seorang pria yang merupakan cinta Pertamaku," ujar Akifa jujur.


"Siapa pria yang sudah ada di dalam hatimu?" tanya Hansel penasaran.


Akifa terdiam sejenak dia tampak berpikir akankah dia mengungkapkan apa yang ada di hatinya pada Hansel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2