
Setelah Alex selesai makan, Irene baru saja keluar dari kamar, Alex sudah bersiap untuk berangkat ke kafe. Hari ini akan menjadi hari pertamanya bekerja. Raffa dan Satya sudah mempercayakan 2 cabang kafe yang berada di Jakarta untuk dikelola Alex.
Sedangkan 3 cabang kafe yang lainnya dikelola oleh Raymond, sehingga Nick akan fokus mengelola 3 cabang lagi yang berada di Bandung.
“Kamu mau berangkat?” tanya Irene pada Alex.
“Iya,” jawab Alex dingin.
Alex merasa kesal pada istrinya, dia tak menyangka Irene tidak akan memperdulikan dirinya yang akan mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Saat ini, Alex baru memulai kehidupannya yang berat karena di usianya yang terbilang muda, dia harus bertanggung jawab atas wanita yang baru saja dinikahinya. Demi tanggung jawabnya terhadap Irene, dia rela kuliah sambil bekerja. Alex juga tidak ingin kuliahnya terbengkalai karena menikah.
“Sayang, kamu kenapa sih? Pagi-pagi udah jutek kayak gitu sama aku,” protes Irene.
“Aku sudah terlambat, kita bisa bahas masalah ini nanti sepulang aku bekerja,” ujar Alex.
Alex pun hendak melangkah keluar rumah.
“Sayang,” panggil Irene manja.
“Ada apa lagi?” tanya Alex mulai kesal.
Irene mendekati sang suami lalu dia mengantar Alex ke teras rumah, di teras rumah dia meraih tangan Alex lalu menciumi punggung tangan sang suami.
“Hati-hati ya, Sayang,” lirih Irene.
“Mhm,” gumam Alex.
Lalu Alex berlalu menuju sepeda motornya yang sudah terparkir di depan rumah.
“Aku berangkat!” sahut Alex.
Alex melajukan sepeda motor besarnya lalu meninggalkan rumah kontrakannya. Irene hanya diam, dia terlihat kecewa karena Alex tidak melakukan hala yang biasa dilakukannya setiap kali dirinya menyalami sang suami, Alex tidak mencium puncak kepalanya.
Irene melangkah masuk ke dalam rumah, ada rasa kecewa di hatinya.
“Nak Irene, ayo makan!” ajak Mak Ijah saat Irene sudah berada di dalam ruang makan.
“Iya, Mak,” lirih Irene.
__ADS_1
Irene pun duduk dan mulai menyantap nasi goreng buatan Mak Ijah, tapi dia terlihat tak bersemangat.
Mak Ijah hanya diam, dia belum berani mempertanyakan masalah apa sebenarnya yang terjadi di antara sepasang suami istri yang tinggal bersamanya itu.
Mak Ijah belum terlalu mengenal pribadi Irene, dia takut nanti Irene menganggapnya sebagai orang ingin tahu urusan orang lain.
****
“Irene!” panggil Alex saat dia baru saja sampai di rumah.
Kegiatannya hari ini benar-benar menguras tenaga. Raymond mengajaknya ke 2 cabang kafe dan mengajarinya berbagai hal yang harus dikerjakannya. Ternyata pekerjaan yang dijalani Raymond bukanlah sembarang pekerjaan, karena dia pekerjaannya adalah bertanggung jawab dengan kelancaran semua urusan yang ada di kafe. Dimulai dari penyediaan bahan pokok, hingga semua yang berkaitan dengan karyawan.
Walaupun hanya menghandle, tapi dia tidak bisa lengah dan lalai karena salah sedikit akan terjadi kekacauan di kafe.
“Irene.” Alex kembali memanggil istrinya karena sang istri juga tak kunjung keluar menghampirinya.
“Nak Alex sudah pulang?” ujar Mak Ijah menghampiri Alex yang sejak tadi memanggil-manggil sang istri.
“Eh iya, Mak. Irene mana, Mak?” tanya Alex menautkan kedua alisnya heran karena sang istri belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Mhm, tadi Mak perhatikan dia ada di kamar. Mungkin ketiduran,” jawab Mak Ijah.
“Memangnya sejak tadi dia ngapain aja, Mka?” tanya Alex penasaran dengan apa saja yang dilakukan istrinya selama dia pergi.
Alex mengangguk paham, lalu dia pun masuk ke dalam rumah dan melangkah langsung menuju kamarnya.
Alex membuka pintu kamarnya, betapa kagetnya saat melihat kamarnya kini sudah berubah. Kamarnya yang biasanya mendominasi warna hitam dan putih kini sudah berubah menjadi warna netral.
Irene juga merapikan barang-barang yang ada di kamar itu sehingga yang selama ini letaknya tak beraturan kini sudah tertata dengan rapi.
Alex juga melihat beberapa pakaian yang ada di dalam lemari sudah tertata dengan rapi, yang biasanya pakaian Alex di dalam lemari masih terbungkus rapi dnegan plastic laundry.
Sprei tempat tidur sudah berganti dengan yang baru, di atas tempat tidur terlihat Irene sedang tertidur dengan pulasnya.
“Pantesan dia tidak menyahut panggilanku, ternyata dia sedang tidur,” gumam Alex.
Alex menatap wajah lelah bercampur sedih di raut wajah sang istri, Alex pun mulai merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya tadi pagi.
Alex mendekati sang istri, dia hendak menciumi puncak kepala sang istri, tapi dia teringat dirinya yang baru saja datang dari luar. Alex takut membawa virus pada istrinya, akhirnya Alex pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Alex memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu setelah itu dia akan membangunkan istrinya untuk shalat ashar karena waktu ashar sudah masuk.
Setelah selesai mandi, Alex membuka lemarinya, dia melihat di dalam lemari kebanyakan pakaian miliknya sedangkan pakaian sang istri hanya beberapa helai.
"Ya ampun, Irene hanya membawa pakaian apa adanya. Nanti aku akan membawanya pergi ke mall, aku akan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya. Mumpung uang tabunganku masih ada," gumam Alex di dalam hati.
Alex tahu, Irene mungkin sengaja membawa pakaiannya seadanya karena dia masih berat untuk menetap di sini, ini hanya awal. Alex akan berusaha membuat istrinya betah tinggal di Jakarta.
Alex mengambil baju kaos dan celana pendek selutut, lalu dia mengenakan pakaian itu.
Setelah rapi, Alex pun melangkah menghampiri sang istri. Alex membelai lembut kepala sang istri.
"Kamu jahat banget sama aku, Lex, hiks." Tiba-tiba Irene menangis.
Alex heran mendengar ucapan istrinya lalu dia melihat dalam pada istrinya yang masih memejamkan matanya.
"Irene mimpi?" gumam Alex di dalam hati.
"Astaghfirullah, apa yang sudah aku lakukan," gumam Alex di dalam hati.
Alex merasa kasihan pada sang istri.
"Maafkan aku ya, Ren," gumam Alex lagi sambil mengelus lembut pipi Irene.
"Mhm," gumam Irene lalu menggeliatkan tubuhnya.
Irene mulai membuka perlahan matanya karena merasakan sentuhan lembut dari sang suami.
Irene kaget melihat Alex sudah berada di hadapannya.
"Lex, kamu sudah pulang?" tanya Irene tak percaya bahwa Alex kini sedang duduk tepat di samping dirinya berbaring.
"Iya, aku sudah pulang. Kamu kecapekan, ya?" tanya Alex.
"Mhm, iya," lirih Irene pelan.
Dia masih tak percaya Alex berbicara dengannya dengan lembut, tidak seperti tadi pagi.
"Kamu ngapain aja seharian, sampai tidurnya nyenyak begitu, aku pulang saja kamu masih enak tidur," ujar Alex pada istri.
__ADS_1
"Apakah kamu mau marah lagi?" tanya Irene.
Bersambung...