
Wajah Kayla seketika berubah pucat pasi, dia takut sang suami akan meminta haknya sekarang juga. Kayla tidak mungkin menolak, dia juga belum siap melakukan hal yang seharusnya menjadi kewajibannya sebagai seorang istri.
Kayla buru-buru bangkit, dia duduk di pinggir tempat tidur. Dia menutup wajahnya, otaknya tengah menari-nari membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Jantungnya berdetak begitu cepat, dia bingung harus melakukan apa.
“Kay, kamu baik-baik saja?” tanya Raffa yang kini ikut duduk di samping Kayla.
Raffa menari tangan Kayla, dia menggenggam erat tangan istrinya.
“Kamu takut?” tanya Raffa pada istrinya pelan.
“Aku hanya bercanda,” bisik Raffa.
Raffa yang awalnya memang menginginkan haknya sebagai seorang suami, tapi melihat reaksi sang istri, dia merasa kasihan dan tak ingin memaksakan keinginannya.
Raffa menangkup wajah Kayla. “Aku akan menunggumu,” lirih Raffa menatap dalam wajah istrinya.
Jantung Kayla kembali berdetak dengan normal. Rasa takutnya hilang seketika dengan bisikkan lembut dari sang suai.
“Aku mandi dulu, boleh?” tanya Raffa mengalihkan pembicaraan.
“Boleh,” jawab Kayla.
Kayla pun berdiri mengambilkan handuk dari dalam lemari, dia memberikan handuk itu pada Raffa.
“Tolong, siapkan pakaianku!” pinta Raffa.
“Baiklah,” gumam Kayla.
Raffa masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Kayla. Sementara itu Kayla mengambil barang-barang milik mereka yang tadi diletakkan Raffa di samping lemari.
Kayla mengeluarkan isi travel bag milik Raffa, di sana terdapat pakaian Raffa. Kayla mulai menyusun pakaian Raffa di dalam lemarinya. Saat Kayla menyusun pakaian dalam Raffa, ada rasa geli menyelinap di hatinya.
Setelah menuntaskan pekerjaannya. Kayla mengambil baju kaos oblong dan training panjang milik Raffa lalu meletakkannya di atas tempat tidur tak lupa dengan pakaian dalamnya.
Kayla bergegas keluar dari kamar, dia tak ingin melihat Raffa yang keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan pakaian. Dia memilih untuk melihat ayah dan ibunya yang mana tahu sudah datang.
“Sayang, kamu udah sampai?” tanya Bram saat melihat putrinya turun tangga.
“Ayah, apa kabar?” sapa Kayla.
Seperti biasa Kayla tidak menyalami Bram, karena begitulah permintaan Bram pada Kayla semenjak Kayla beranjak dewasa.
Kayla hanya menyalami Ibu Rita yang duduk di samping ayahnya di ruang keluarga.
“Apa kabar, Bu?” sapa Kayla sopan.
“Ayah sama Ibu sehat, Nak,” jawab Bram.
Bram mewakili sang istri menjawab pertanyaan putrinya karena dia tahu, istrinya takkan menggubris Kayla.
“Ayah dari mana?” tanya Kayla.
“Dari swalayan, nganterin ibumu. Raffa mana?” tanya Bram pada putrinya.
“Di kamar, Yah. Dia sedang mandi,” jawab Kayla.
__ADS_1
“Oh, kamu pasti capek. Udah makan, Sayang?” tanya Raffa penuh kasih sayang.
“Belum, Yah,” jawab Kayla.
“Ya sudah, sana bantuin Bi Narti masak! Udah tahu di sini ada suaminya, ya dilayanilah dengan baik!” bentak Rita kesal.
“Bu, jaga sikapmu! Enggak enak kalau nanti Raffa mendengar ucapanmu.” Bram menasehati istrinya.
“Enggak apa-apa, Yah. Aku ke dapur dulu.” Kayla berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju dapur.
Di dapur Bi Narti tengah sibuk mempersiapkan makan siang untuk keluarga Bramantyo.
“Bi, aku bisa bantu apa?” tanya Kayla ramah.
“Non Kayla, enggak usah, Non. Non Kayla pasti capek, Nona duduk aja, ya,” ujar Bi Narti degan lembut.
Semua yang ada di rumah itu sangat menyayangi Kayla karena sifat dan kelakuan Kayla yang baik, kecuali Rita.
Rita tidak menyukai Kayla karena menurutnya Kayla telah merebut perhatian Bram darinya dan putrinya. Padahal selama ini Bram masih memperhatikan kebahagian dirinya dan Rayna.
“Enggak bisa, Bi. Aku harus menyiapkan makan siang untuk Bang Raffa.” Kayla memaksa Bi Narti agar mengizinkan dirinya membantu.
“Ya sudah, tapi kalau Nona capek, istirahat, ya!” lirih Bi Narti tidak bisa menolak kemauan Kayla.
Sedari dulu Kayla selalu dipaksa Rita untuk bekerja, walaupun di rumah itu telah ada PRT yang bekerja. Rita selalu memaksa Kayla untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah sehingga dia sudah biasa bekerja, berbeda dengan Rayna.
Kayla dan Bi Narti pun mulai menyibukkan diri di dapur mempersiapkan makan siang, sementara itu di dalam kamar.
“Kayla?” Raffa bingung saat mendapati kamar istrinya terlihat kosong.
Raffa melihat bajunya yang sudah tersedia di atas kasur, Raffa menggelengkan kepalanya.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini?” gumam Raffa di dalam hati.
Raffa menyadari bahwa istrinya masih enggan untuk melihat dirinya tanpa pakaian. “Gadis itu benar-benar polos,” gumam Raffa lagi.
Raffa pun mulai mengenakan pakaian yang telah tersedia di atas kasur. Setelah rapi, dia melangkah keluar kamar mencari sosok sang istri. Raffa menuruni anak tangga perlahan.
Dia melihat Ibu dan Ayah mertuanya tengah duduk di ruang keluarga. Raffa menghampiri Bram lalu menyalami ayah mertuanya.
“Apa kabar, Yah, Bu?” sapa Raffa dengan sopan.
“Baik, Nak. Kamu bagaimana kabarnya?” tanya Bram.
“Alhamdulillah baik, Yah,” jawab Raffa.
“Kamu pasti lapar, ayo kita makan!” ajak Bram pada menantunya.
Bram pun berdiri dari posisi duduknya lalu melangkah menuju ruang makan diikuti oleh istrinya dan menantu.
Di ruang makan, terlihat Kayla dengan cekatan menghidang makanan yang baru saja dimasaknya. Bram duduk di kursi meja makan diikuti oleh Rita dan Raffa.
Raffa menatap kagum ke arah istrinya yang sangat pandai memasak dan rajin bekerja.
“Bi, panggilkan Rayna di kamarnya!” perintah Rita pada Bi Narti.
__ADS_1
“Baik, Nyonya.” Bi Narti langsung melangkah menuju lantai 2 untuk memanggil Rayna yang tengah berada di kamarnya.
Keluarga besar Bramantyo mulai menikmati makan siang setelah semua orang berkumpul di ruang makan, Kayla dengan telaten melayani sang ayah. Setelah itu dia juga melayani sang suami, dia mengambilkan makanan untuk Raffa.
“Kamu mau tambah, Bang?’ tanya Kayla saat melihat piring Raffa hampir kosong.
“Tidak, aku sudah kenyang.” Raffa menolak dengan halus.
“Nak Raffa, kalau sama Kayla kamu tidak akan pernah kelaparan, karena dia rajin memasak. APalagi masakannya lezat,” puji Bram.
“Ayah bisa aja,” lirih Kayla malu.
“Benar, Mas. Kak Kayla ini pintar masak, aku paling suka masakan Kakak dari pada Ibu,” ujar Rayna jujur.
Rita melototkan mata pada putrinya. Dia merasa malu dan kesal mendengar ocehan Rayna. Bram hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan putrinya. Raffa dan Kayla hanya tersenyum melihat situasi yang ada di hadapannya.
“Kapan kalian berangkat ke Padang?” tanya Bram pada Raffa mengalihkan perhatian.
“Lusa, Yah. Mama sudah tak sabar lagi mau ketemu Kayla. Katanya kangen,” jawab Raffa.
Rita menyebikkan bibirnya mendengar ucapan Raffa, dia merasa kesal dengan kebahagiaan yang di dapat Kayla setelah menikah dengan Raffa. Semua yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan.
“Ayah kira kalian akan tinggal di sini selama satu minggu,”ujar Bram sedih.
“Padahal ayah masih kangen sama kamu, Nak,” ujar Bram lagi.
“Biarin aja, Yah. Lagian dia bukan anak kadungmu!” ujar Rita kesal.
“Apa?” lirih Kayla tak percaya.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Author🙏🙏🙏
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
Terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1