
Pria yang duduk di kursi roda itu tersenyum melihat ekspresi ketiga sahabat Lisa.
Suami Lisa sudah berada di pintu kamar, setelah itu dia mendorong kursi rodanya seorang diri.
Terlihat Lisa sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan posisi membelakangi suaminya.
Melihat hal itu ibu Lisa menutup pintu kamar dan langsung mengajak ketiga sahabat Lisa menuju ruang tamu.
"Wahai istriku," lirih sang suami memanggil Lisa pelan berharap Lisa akan memalingkan wajahnya menghadap dirinya.
Deg.
Tiba-tiba jantung Lisa berdegup dengan kencang saat mendengar suara yang memanggilnya dengan sebutan istri.
Perlahan Lisa membalikkan tubuhnya, dia melihat dengan jelas pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Paras tampan nan sederhana yang selalu mengisi ruang hatinya kini berada di dalam kamar sederhana miliknya.
Lisa tak percaya saat melihat pria itu berdiri dan melangkah mendekatinya.
Pria itu kini duduk tepat di samping Lisa, dia menatap dalam wajah anggun sang istri.
"Terima kasih kamu sudah mau menerimaku apa adanya," lirih Reza.
Lisa masih tak percaya melihat sosok pria yang sudah dengan susah payah diikhlaskannya kini berada di hadapannya sebagai suaminya.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Reza pada Lisa yang masih diam.
Lisa menepuk-nepuk wajahnya, mungkin saja dia saat ini tengah menghayal atau bermimpi menikah dengan pria yang sangat dicintainya.
"Lisa, ini aku. Pria sederhana yang pernah kamu cuekin," ujar Reza dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Ta-tapi, pria lu-lumpuh yang akan menjadi suamiku," lirih Lisa terbata-bata, dia masih tak percaya dengan apa yang saat ini terjadi.
"Iya, Sayang, aku meminta kak Merry mencarikan jodoh untukku dengan menyatakan bahwa aku adalah pria lumpuh, bagi wanita yang menerimaku apa adanya berarti itulah jodohku, dan ternyata gadis yang menerimaku apa adanya adalah gadis yang selalu menolakku meskipun hatinya sudah ada di tanganku," ujar Reza tersenyum.
Dia berusaha meyakinkan Lisa bahwa kini pria yang sudah sah menjadi suaminya adalah Reza.
Lisa tak dapat menahan rasa haru yang kini menyeruak di hatinya.
Takdir Tuhan yang membawanya menuju pria yang sangat dicintainya.
Lisa menangis sambil terus berucap syukur, setelah 4 tahun dia berusaha melupakan Reza, kini Tuhan mentakdirkan dirinya menjadi milik Reza.
"Alhamdulillah," lirih Lisa.
Reza memegang kedua lengan Lisa, dia menatap dalam wajah cantik milik istrinya.
"Mulai hari ini kamu adalah milikku hingga maut menjemputku," ujar Reza penuh keyakinan.
Lisa tersenyum, sepasang suami istri itu pun saling menatap dalam hingga kini mereka berada di jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
Mata Reza tertuju pada bibir mungil milik istrinya, tak menunggu lama Reza pun mengecup lembut bibir mungil itu dan mereka pun terbawa dalam kenikmatan bertukar saliva.
Reza mendorong tubuh Lisa hingga terbaring, Lisa hanya diam sambil berusaha mengontrol detak jantungnya yang semakin berpacu.
Tok tok tok.
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Lisa.
"Lisa, bawa suamimu keluar," panggil Ibu Lisa.
Ibu Lisa meminta Lisa keluar untuk menemui tamu-tamu yang datang.
"Iya, Bu," teriak Lisa.
Reza langsung duduk, begitu juga Lisa. Dia berusaha merapikan penampilannya yang sempat acak-acakan.
Lisa mengambil tisu yang ada di meja rias lalu membersihkan bekas lipstik Lisa yang menempel di bibir Reza.
Lisa tertunduk malu mengingat apa yang baru saja mereka lakukan.
"Kenapa wajahmu merah?" tanya Reza menggoda istrinya.
"Ah, kamu. Ayo kita keluar," ajak Lisa.
"Aku masih ingin berdua denganmu," bantah Reza mulai candu menggoda sang istri.
"Ish, kamu. Teman-teman kita sedang menunggu di luar," ujar Lisa.
"Hei, tunggu aku," ujar Reza.
Reza berdiri dan melangkah menghampiri kursi rodanya.
"Sayang, kamu mau kan dorong kursi rodaku?" tanya Reza menggoda Lisa.
Lisa tersenyum lalu mendorong kursi roda yang diduduki oleh sang suami.
Mereka keluar dari kamar, dan menemui teman-teman mereka yang kini duduk di bangku panjang yang ada di teras rumah Lisa.
Mereka disambut senyuman bahagia dari sahabat-sahabat mereka yang kini sedang menikmati makanan yang terhidang di meja yang ada di tengah-tengah mereka.
"Selamat, Lisa. Ternyata jodohku Cinta Pertamaku," seru Gita sangat bahagia.
"Ternyata pria lumpuh yang dengan ikhlas kamu terima itu adalah Reza yang kamu tolak, hahaha," sahut Nick tertawa.
Raffa, Agung dan Nick awalnya juga tidak mengetahui siapa pria lumpuh yang akan menjadi suami Lisa.
Mereka kaget saat rombongan pengantin pria datang, yang ternyata pengantin pria nya adalah Reza.
"Aku tak menyangka jalan takdir kalian benar-benar rumit," ujar Raffa.
"Iya, nih. Padahal aku sudah membujuk Lisa untuk membatalkan pernikahan ini, hehe," sahut Gita lagi bersemangat.
__ADS_1
Reza pun tersenyum lalu dia menceritakan apa yang sudah terjadi.
Beberapa hari yang lalu saat Lisa menolak dirinya, Reza galau dan hancur.
Kakak Reza mengatakan ada seorang wanita yang mau dijodohkan dengannya meskipun Merry mengatakan bahwa adiknya lumpuh.
"Apakah Kakak sudah menyelidiki siapa wanita itu?" tanya Reza pada kakaknya.
"Dia adalah rekan kerja kakak di kampus," jawab Merry.
"Dia wanita yang baik dan ramah, satu hal yang istimewa darinya dia adalah seorang wanita sholehah," ujar Merry menambahkan.
"Boleh aku lihat foto nya?" tanya Reza pada sang kakak.
Akhirnya Merry mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wanita yang menerima tawaran perjodohan tersebut meskipun Merry menyatakan bahwa sang pria lumpuh.
"Lisa?" gumam Reza di dalam hati.
Reza langsung menyetujui perjodohan yang dilakukan oleh kakaknya. Setelah itu dia datang menemui Lisa di rumah kontrakannya.
Reza pura-pura kecewa dengan keputusan Lisa dan berusaha meyakinkan bahwa Lisa benar-benar menerima takdir Tuhan dengan ikhlas.
"Jadi kamu sudah tahu bahwa calon istri kamu adalah aku?" tanya Lisa kesal.
Reza mengangguk tersenyum.
"Ih, kamu menyebalkan," gerutu Lisa sambil memukul lengan sang suami.
"Aauw," rintih Reza pura-pura sakit.
"Eh, sakit ya, Sayang?" tanya Lisa merasa bersalah.
"Ciiee, yang lagi kasmaran dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak," seru Nick menggoda sepasang suami istri itu.
Mereka pun tertawa, kebahagiaan menyelimuti rumah sederhana yang berada di desa terpencil di Yogyakarta.
Tawa mereka menghangatkan suasana, kebahagiaan terus terpancar di wajah semua orang yang ada di sana.
"Dek, aku, mama, dan papa akan balik ke Padang sore ini, ya," ujar Merry tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Mhm, iya, Kak." Reza mengangguk.
"Kak Sandra, terima kasih. Ternyata pria ini adalah cinta pertamaku," tutur Lisa pada rekan kerjanya sekaligus sahabatnya di kampus.
"Lho, kenapa kak Sandra?" tanya Reza heran.
"Helo, namaku kan Merry Sandra," ujar Merry santai.
"Oh iya, ya," Reza menepuk jidatnya.
Mereka pun tertawa bahagia.
__ADS_1
Bersambung...