
Semua mata tertuju pada Raffa, terlihat amarah yang terpendam dari mata ayah tiga anak itu.
Dia seolah tak ingin putrinya didekati oleh ular betina yang sudah berniat jahat pada kakak kandungnya.
Meskipun waktu itu Alita belum tahu bahwa Kayla adalah kakaknya tapi perbuatannya tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Alita menghentikan gerakannya, dia mundur beberapa langkah, ada rasa kecewa yang menyelimuti dirinya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia sadar, mungkin perbuatannya terhadap Kayla selama ini tidak bisa dimaafkan oleh Raffa.
Kayla menoleh ke arah Raffa, dia kecewa dengan sikap Raffa pada adiknya. Kayla sudah memaafkan semua perbuatan Alita pada dirinya, dan apa salahnya Raffa juga memaafkan Alita.
Kayla tahu selama ini, Raffa adalah sosok yang baik hati dan mudah memaafkan tapi kenapa dengan Alita tidak.
Seketika ruangan itu berubah suasana menjadi tegang.
Raymond merasa kasihan pada istrinya, dia dapat memaklumi sikap Raffa terhadap istrinya. Makanya dia hanya diam saat istrinya dibentak oleh Raffa.
Bentakan itu adalah hukuman bagi Alita yang sudah berbuat jahat pada Raffa dan istrinya.
"Bun, kami pamit berangkat dulu," ujar Raymond.
Suara Raymond mulai mencairkan suasana yang tadi tegang.
"Eh iya, Ray. Kalian hati-hati, ya," ujar Hurry.
Raymond dan Alita pun berpamitan dengan semua orang yang ada di sana. Alex dan Irene juga pamit untuk mengantarkan Raymond dan Alita ke Bandara.
Setelah kepergian Raymond dan Alita, ketiga bayi Raffa dan Kayla tertidur pulas.
Para nenek pun meletakkan cucu mereka di atas box bayi yang sudah tersedia di ruangan itu.
"Hur, kita beli sarapan di luar, yuk. Kayaknya lebih enak," ajak Arumi pada sahabatnya.
Arumi ingin memberi ruang pada Kayla dan Raffa, karena saat ini terlihat Kayla sedang kesal pada suaminya.
"Oh, yuk. Ayo, Yah. Kita makan di luar," ajak Hurry mengajak sang suami.
Mereka pun keluar dari ruangan Kayla dan Raffa.
Tak berapa lama semua orang tua sudah keluar, Kayla menoleh ke arah sang suami.
__ADS_1
"Sayang," lirih Kayla memanggil suaminya.
"Mhm," gumam Raffa menanggapi panggilan dari sang istri.
"Kenapa kamu bersikap seperti tadi pada Alita?" tanya Kayla pelan.
Raffa menatap dalam pada istrinya.
"Ini semua karena perbuatannya yang tak bisa dimaafkan, Sayang. Dia sudah melakukan hal yang tak bisa dimaafkan," gumam Raffa di dalam hati.
Raffa tidak bisa mengungkapkan alasan dia membenci adik iparnya itu.
Dia tidak ingin istrinya kecewa saat mengetahui perbuatan jahat Alita terhadapnya.
"Kenapa diam, Bang?" tanya Kayla lagi.
Kayla semakin bingung dengan sikap sang suami. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi sehingga membuat Raffa sangat membenci Alita.
"Selama ini kamu tidak pernah memperlihatkan kebencianmu terhadap Alita, tapi mengapa hari ini,--"
"Sayang, kita tidak usah membahas hal ini, ya," pinta Raffa memotong perkataan Kayla.
"Tidak, Sayang. Aku hanya tidak ingin tangan kotornya mengotori putriku yang masih sangat suci," jawab Raffa masih tidak mau mengatakan kebenarannya pada sang istri.
"Tapi,--"
"Sudahlah, jangan pernah membahas hal ini lagi," ujar Raffa tegas.
Hal itu membuat Kayla terdiam. Semua pertanyaan di dalam hatinya terpaksa membiarkannya begitu saja.
Dia tak mungkin menentang perkataan sang suami, akhirnya Kayla pun diam dan menundukkan kepalanya sedih.
Raffa merasa bersalah melihat wajah istrinya yang bersedih, dengan susah payah Raffa mencoba turun dari tempat tidur, dia ingin menghampiri istrinya yang berada di tempat tidur yang berbeda dengannya.
Raffa meraih selang infus lalu hendak turun dari tempat tidur.
Brukk
Raffa terjatuh ke lantai, karena kakinya masih belum kuat menumpu bobot tubuhnya hingga akhirnya dia terjatuh ke lantai.
Kayla kaget melihat sang suami yang sudah berada di lantai. Dengan reflek Kayla pun turun dari tempat tidur hendak membantu sang suami. Namun, dia yang juga masih lemah akhirnya juga terjatuh di lantai.
__ADS_1
Kini suami istri itu sudah terbaring lemah di lantai, tak seorang pun yang bisa membantu mereka.
Mereka menelentang menatap langit-langit ruang rawat yang berwarna putih.
Mereka memilih diam di sana, karena tak ada orang yang bisa menolong mereka.
Berteriak pun akan percuma, karena belum tentu ada orang di luar ruangan itu.
Raffa meraih tangan istrinya, dan menggenggam tangan yang kini terlihat lemah.
Kayla menoleh pada sang suami yang kini tepat berbaring di sampingnya.
"Apa yang kamu lakukan, Bang?" lirih Kayla pelan sambil menahan rasa sakit.
"Aku ingin pindah ke tempat tidurmu," jawab Raffa pelan juga sambil menahan rasa sakit.
"Mau ngapain?" tanya Kayla heran.
"Aku hanya ingin menghiburmu, maafkan aku yang sudah membuatmu bersedih," lirih Raffa pelan.
"Bang, aku hanya kecewa dengan sikapmu terhadap Alita. Walaupun dia sudah berbuat jahat terhadapku selama ini tapi dia tetap adik kandungku, saudara yang terlahir dari rahim yang sama. Jika aku tidak bisa memaafkan semua perbuatan, kedua orang tuaku pasti akan sedih melihat putri mereka yang tidak akur," ujar Kayla mengungkapkan isi hatinya.
"Aku tahu itu, Kayla. Kamu adalah wanita yang baik hati dan pemaaf, kamu tidak akan pernah dendam pada siapa pun apalagi itu saudaramu sendiri, tapi apakah kamu akan memaafkannya jika kamu mengetahui dalang dibalik peristiwa waktu itu adalah adikmu sendiri?" gumam Raffa di dalam hati sambil menolehkan kepalanya menatap dalam pada sang istri.
"Maafkan aku, Sayang. Untuk saat ini sulit bagiku untuk maafkan adikmu. Lebih baik aku tidak berkomunikasi dengannya. Aku harap kamu mengerti dengan sikapku saat ini," lirih Raffa memohon pengertian dari sang istri.
Kayla menghela napas panjang, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Baiklah, Bang. Tapi, aku harap kamu tidak melarang aku berkomunikasi dan berhubungan dengannya, karena walau bagaimanapun dia tetap adik kandungku," pinta Kayla.
Kali ini Kayla berusaha untuk memahami sikap Raffa. Dia yakin suatu hari nanti Raffa akan memberi tahukan alasannya belum bisa memaafkan Kayla.
Arumi, Hurry, Surya, dan Hendra meninggalkan kantin rumah sakit setelah mereka menikmati sarapan. Hendra dan Surya hanya minum kopi karena mereka sudah makan sarapan yang disiapkan oleh Irene tadi.
Mereka berempat melangkah kembali ke ruang rawat Kayla dan Raffa.
Mereka melangkah masih asyik mengobrol membahas kebahagiaan yang mereka rasakan setelah kehadiran tiga bayi mungil Kayla dan Raffa.
Surya membuka pintu ruang rawat Kayla dan Raffa, matanya terbelalak saat melihat tempat tidur Kayla dan Raffa kosong tak ada orang.
Bersambung...
__ADS_1