
Akifa meraih kertas yang disodorkan oleh sang suami lalu membacanya.
Dari kesepakatan tersebut tidak ada hal yang memberatkan posisi Akifa.
Akifa hanya dituntut melayani Farhan bagaikan seorang istri pada umumnya, tapi Farhan tidak menuntut haknya sebagai seorang suami atas diri Akifa.
"Kamu setuju?" tanya Farhan pada istrinya.
Akifa mengangguk setuju.
Sekilas dia menatap wajah tampan yang ada dihadapannya, cara dia menatap Akifa membuat hati Akifa merasa tentram.
"Dia tak seburuk yang aku pikirkan, paling tidak aku menjalani kesepakatan ini saja dan bersabar untuk bebas dari pria ini, anggap saja dia sebagai sahabat," gumam Akifa di dalam hati.
"Hari ini aku masih libur bekerja, mungkin aku akan berada di kamar ini seharian. Kamu bisa tanya Mama apa yang harus kamu lakukan," ujar Farhan pada istrinya.
"Baiklah," lirih Akifa.
Tak berapa lama Akifa pun keluar dari kamar dan melangkah kembali menuju dapur hendak melakukan apa yang bisa dilakukannya.
"Lho, ada apa lagi, Sayang," lirih Mama mertua Akifa saat menyadari kedatangannya.
"Mhm, enggak apa-apa, Ma. Aku cuma mau bantu-bantu doang," ujar Akifa merasa bingung mau melakukan apa.
__ADS_1
"Farhan bilang apa sama kamu?" tanya Mama Luna pada menantunya.
"Mhm, tadi dia bilang masih libur, Ma. Dia tidak berangkat kerja, katanya seharian ini mau stand by di rumah," ujar Akifa.
"Oh, ya udah. Berarti kamu harus bawakan sarapan ke kamar untuk suamimu. Farhan akan sarapan di kamar kalau dia tidak berangkat kerja," ujar Luna memberitahu kebiasaan putranya.
"Oh gitu, makasih, Ma," lirih Akifa.
"Itu, bibi udah selesai masak nasi goreng. Kamu tolong ambilkan nasi gorengnya, ya. Setelah itu antar ke kamar," ujar Luna.
"Iya, Ma." Akifa mengambil sebuah piring lalu menyendokkan nasi goreng ke dalam piring tersebut.
Akifa tampak kebingungan saat dia hendak mengambil telur untuk Farhan, dia tidak tahu suaminya itu menyukai telur mata sapi atau telur dadar.
"Oh, gitu ya, Ma." Akifa mengambil telur dadar lalu memasukkannya ke dalam piring.
Akifa hendak melangkah meninggalkan dapur, tiba-tiba Luna memanggilnya.
"Tunggu, Sayang. Ada yang kelupaan, ini," ujar Luna sambil memberikan sebuah toples berisi kerupuk emping.
"Setiap kali Farhan makan dia tidak akan pernah lupa dengan kerupuk ini," ujar Lina memberitahu kebiasaan putranya.
"Oh, iya, Ma." Akifa mengangguk paham.
__ADS_1
Setelah itu Akifa melangkah menuju kamar dengan membawa nampan sarapan pagi untuk sang suami.
"Nih," lirih Akifa sambil meletakkan nampan di atas meja.
Kini Farhan sudah berpindah ke sebuah sofa yang ada di kamarnya dia tengah asik membaca koran.
"Masih ada yang kamu butuhkan?" tanya Akifa pada sang suami.
"Tidak," jawab Farhan.
"Ya sudah kalau begitu aku istirahat dulu," ujar Akifa lalu dia melangkah menuju tempat tidur dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
Akifa bingung harus berbuat apa dia juga tidak lagi punya ponsel, karena dia tidak tahu di mana ponselnya saat ini.
Akhirnya dia diam sambil melirik ke arah Farhan yang hendak menyuapi sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Lho, kamu enggak sarapan?" tanya Farhan pada istrinya.
"Mhm," gumam Akifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sini, kita makan bareng aja," ajak Farhan ramah.
Farhan melangkah menuju tempat tidur dan menghampiri sang istri.
__ADS_1
"Nasi ini terlalu banyak," ujar Farhan sambil bersiap hendak menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut sang istri.