
Keesokkan harinya, jenazah Bram pun diselenggarakan fardhu kifayahnya.
Raffa dan Satya sebagai menantu di rumah itu, mereka ikut melakukan semua fardhu kifayah untuk sang mertua.
Setelah usai dikafani, Raffa sebagai menantu tertua menyampaikan kalimat terakhir dari keluarga sebelum jenazah dibawa ke mesjid untuk dishalatkan serta langsung dibawa ke pemakaman.
Sesampai di pemakaman Rita, Kayla dan Rayna kembali histeris. Seakan mereka tak sanggup membiarkan sosok pria kebanggaan mereka ditimbun dengan tanah.
"Ayah!" isakkan mereka menggema di tempat pemakaman umum itu.
Raffa dan Satya tidak bisa berbuat banyak, karena mereka juga ikut kehilangan sosok wibawa dalam rumah itu.
"Ayah jangan tinggalkan a,--" Kayla tak dapat melanjutkan ucapannya.
Tiba-tiba pandangannya kabur dan dia pun pingsan.
Raffa yang selalu berada di samping istrinya langsung menangkap tubuh sang istri.
"Sayang," lirih Raffa.
Raffa langsung menggendong tubuh Kayla dan membawanya ke bawah pohon yang rindang.
Rayna dan Rita masih histeris dengan kepergian Bram.
Satya merangkul pundak sang istri memberi kekuatan pada istrinya, sementara itu Rita bersama Lina.
Sebagai kakak, Lina satu-satunya orang tempat adiknya bertumpu melepaskan luka kehilangan sang suami.
"Yah, jangan tinggalkan aku," gumam Kayla walau matanya masih terpejam.
"Sayang, sabar ya," lirih Raffa memeluk Kayla.
Raffa sangat sedih melihat istrinya yang sangat terpukul.
Arumi juga datang menghampiri menantu kesayangannya.
Dia tahu, sang menantu saat ini sudah lemah karena sejak kemarin malam, Kayla belum mengisi perutnya dengan apa pun.
Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat meninggalkan pemakaman.
Saat ini hanya tertinggal keluarga dekat yang ikut merasakan kehilangan sosok Bram.
Rayna duduk di samping batu nisan sang ayah.
"Yah, kenapa ayah harus pergi secepat ini," lirih Rayna.
Dia belum bisa menerima kenyataan akan kepergian sang ayah.
Kini dia tak lagi menangis dengan histeris, dia mulai lelah.
Satya ikut jongkok di samping sang istri, dia masih merangkul pundak Rayna.
Mungkin jika saat ini Satya tak ada bersamanya, dia akan lebih terpukul lagi.
Dengan keberadaan Satya bersamanya membuat dia sedikit kuat, masih memiliki tempat bertumpu.
"Sayang, setiap manusia akan dipanggil oleh sang pemiliknya. KIta harus mencoba untuk ikhlas walau hal itu berat. Saat ini aku akan selalu ada untukmu dan Ibu," ujar Satya berusaha menguatkan sang istri yang masih rapuh.
Setelah memberi ruang untuk Rayna meluapkan kesedihannya, Satya mengajak Rayna dan ibu mertuanya untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Rayna dan Rita pun berdiri, mereka mulai melangkah meninggalkan makam sang ayah.
Kayla yang baru saja sadar, berdiri dan melangkah tertatih menuju makam sang ayah, dibantu oleh Raffa.
Kayla bersimpuh di depan gundukan tanah penutup jasad sang ayah, lalu dia mengangkat tangannya dan berdo'a untuk sang ayah.
"Yah, ayah adalah orang baik, aku akan selalu berdo'a untuk ayah, agar ayah selalu bahagia di amal sana.
"Sampai kapan pun ayah Bram tetap ayah terbaik dalam hidup Rayna. Jika suatu hari nanti, Kayla bertemu dengan ayah kandung Kayla, aku akan tetap menganggap ayah sebagai ayah Kayla," gumam Kayla di daam hati.
Akhirnya Kayla pun berdiri, dia mulai melangkah meninggalkan gundukan tanah kuburan sang ayah.
Arumi dan Raffa menggandeng Kayla berjalan menuju mobil. Mereka takut Kayla kembali pingsan.
Di mobil Surya sudah menunggu mereka, Raffa dan Kayla masuk ke dalam mobil di jok belakang sedangkan Arumi duduk di jok depan bersama Surya.
Satya dan Rayna berada di dalam mobil yang berbeda, mereka sudah melaju meninggalkan TPU lebih awal.
Di dalam mobil, Arumi memberikan sebotol air mineral dan sepotong roti untuk Kayla.
Raffa mencoba membujuk istrinya untuk memakan roti itu sekadar pengganjal perutnya yang kosong.
"Sayang, kamu makan dulu roti ini, ya. Kasihan anak kita," bujuk Raffa pelan.
Raffa membukakan kemasan roti itu lalu menyuapi sang istri dengan potongan roti.
Pelan-pelan Kayla mulai mengunyah roti itu, dia juga kasihan pada janin yang ada di dalam perutnya.
Dia mengelus perutnya yang masih Rata.
"Maafkan bunda ya, Nak. Bunda larut dalam kesedihan sehingga bunda melupakan keberadaan kalian," gumam Kayla di dalam hati.
Sesampai di rumah, tamu-tamu masih yang berdatangan untuk mengungkapkan turut berduka atas kepergian Bramantyo mulai dari para tetangga, rekan kerja dan rekan bisnis Bramantyo.
Malam pun tiba, cuaca mendung malam ini membuat para tamu mulai sedikit.
Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing.
Di dalam kamarnya Kayla berdiri di balkon kamarnya, Dia menatap kosong ke luar.
Kayla masih mengingat perpisahannya dnegan sang ayah, dia terus memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh sang yah padanya.
Raffa melihat sang istri termenung seorang diri, dia pun melangkah mendekati istrinya.
Raffa melingkarkan tangannya di pinggang istri.
"Sudah malam, Sayang. Nanti kamu masuk angin," ujar Raffa.
Kayla menghela napasnya dalam, dia membalikkan tubuhnya sehingga dia kini berhadapan dengan Sang suami.
Wanita yang kini tengah berduka itu, merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami mencari sebuah kehangatan untuk menguatkan hatinya dalam menjalani ujian berat yang dialaminya.
"Kita masuk ya, Sayang. Kasihan anak-anak kita, masuk angin." Raffa membawa Kayla masuk.
Raffa mengajak Kayla untuk naik ke atas tempat tidur, Raffa membaringkan tubuh sang istri di dalam pelukannya.
"Sekarang kita istirahat, ya. Kalau kamu sakit, kasihan anak-anak kita," pinta Raffa sambil mengelus lembut perut Kayla yang masih rata.
Kayla hanya mengangguk, dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
__ADS_1
Dia berusaha memejamkan mata, tapi Kayla tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
Kayla masih teringat dengan pesan terakhir yang disampaikan oleh Bram sebelum dia meninggal.
Kayla tak sabar ingin mengetahui apa sebenarnya yang disimpan ayah angkatnya tentang dirinya. Namun, Kayla tidak mungkin masuk ke dalam ruang kerja Bram di tengah malam seperti ini.
Dia berusaha memikirkan cara untuk masuk ke dalam ruang kerja ayah angkatnya dan dapat berlama-lama di ruangan itu.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi Arumi dan Surya berangkat ke Padang. Surya tidak bisa berlama-lama di Bandung karena Surya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
"Mama dan papa pamit ya, Sayang," ujar Arumi sambil mengecup puncak kepala Kayla.
Rita hanya melihat kesal ke arah keduanya, dia tidak suka melihat kedekatan antara putri angkatnya dan besannya.
"Iya, Ma," lirih Raffa dan Kayla bersamaan.
Setelah itu, Arumi dan Surya pun berpamitan dengan Satya dan Rayna.
Arumi juga memperlakukan Rayna sama seperti Kayla. Dia menunjukkan kasih sayang yang besar untuk Kayla dan Rayna.
"Kalian harus kuat, Raffa dan Satya akan selalu ada buat kalian," pesan Arumi pada kedua menantunya.
Sebelum berangkat, Arumi dan Surya juga berpamitan dengan Rita, besan mereka.
Arumi dan Surya pun meninggalkan kediaman keluarga Bramantyo.
"Sayang, aku mau seminar dulu, ya," ujar Raffa pada Kayla.
"Iya, Bang. Aku mau beres-beres dulu," ujar Kayla.
Rayna dan Satya memilih untuk kembali ke kamar begitu juga dengan Rita.
"Ini kesempatan buat aku," gumam Kayla di dalam hati.
Setelah semua orang pergi Kayla pun melangkah menuju ruang kerja sang ayah.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ