Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 115


__ADS_3

Hurry mengernyitkan dahinya. Wanita paruh baya itu mulai penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh wanita yang ada di hadapannya.


Kayla membuka tas yang ada di pangkuannya, dia mengeluarkan album yang dibawanya dari rumah ayahnya.


"Sebelum ayah meninggal,--"


"Ayah Bram meninggal?" tanya Hurry tak percaya.


Kayla mengangguk.


"Kapan, Nak?" tanya Hurry seketika dia lupa dnegan apa yang akan dipertanyakan oleh Kayla.


"Dua minggu yang lalu, Bun," jawab Kayla dengan wajah sendu.


"Kamu sabar ya, Sayang," lirih Hurry sambil mengelus lembut lengan Kayla.


"Iya, Bun." Kayla menatap album yang ada di tangannya.


Hurry juga mengalihkan perhatiannya pada album yang dipegang oleh Kayla.


"Lihatlah, Bun." Kayla memberikan album tersebut pada Hurry.


Hurry mengambil album tersebut dari tangan Kayla, dia heran apa yang akan dipertanyakan oleh Kayla.


Hurry membuka album tersebut, dia kaget dengan apa yang dilihatnya di dalam album itu.


"Ara," lirih Hurry.


Tanpa disadarinya, air mata Hurry mulai membasahi pipinya.


Semua kenangan yang telah dilewatinya bersama gadis kecilnya kembali terlintas di benaknya.


"I-ini foto siapa, Kay?" tanya Hurry pada Kayla.


"Dua gadis di dalam foto itu adalah aku dan Rayna," jawab Kayla.


"Benarkah?" Hurry langsung memeluk tubuh Kayla dengan erat.


"Bunda yakin kamu adalah putri bunda, Nak. Terima kasih Tuhan, kau telah mempertemukanku dengan putriku," lirih Hurry.


"Kata hati seorang ibu tak dapat dipungkiri, hati Bunda sudah yakin kamu adalah putri bunda," ujar Hurry lagi.


Kayla membiarkan Hurry memeluknya dengan erat, karena dia sendiri juga yakin wanita dihadapannya adalah Bundanya.


"Bun, jika memang aku putri Bunda. Ada satu hal yang menjadi pertanyaan bagiku," lirih Kayla bingung menyampaikan hal yang mengganjal di hatinya.


"Bunda," ujar Hendra yang baru saja keluar dari kamarnya.


Dia heran melihat mata sang istri yang sudah sembab berlinangan air mata.


Hurry menghapus air mata yang membasahi pipinya, dia berdiri lalu menghampiri Hendra dengan membawa album yang ada di tangannya.


"Yah, kamu lihat ini!" ujar Hurry penuh semangat.


Hendra mengernyitkan dahinya, lalu mengambil album yang disodorkan Hurry padanya.


Hendra membuka album tersebut secara perlahan, dia mulai mengamati foto dua gadis yang ada di dalam album tersebut.


Hendra tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Bun, ini foto Ara. Di mana Ara sekarang? Apakah Kayla kenal siapa yang memiliki album ini?" tanya Hendra pada istrinya.


Kayla hanya diam mendengar pertanyaan Hendra.


"Yah, dua gadis ini adalah Kayla dan Rayna," jawab Hurry sambil menangis.


"Benarkah? Kayla? Kamu Ara, Nak? Kamu putri kami yang hilang?" tanya Hendra memastikan.


Hendra tak dapat membendung air matanya lagi. Dia pun menangis lalu memeluk sang istri.


"Alhamdulillah, Allah sudah menjawab do'a-do'a kita, Bun," lirih Hendra ikut bahagia dengan berita yang diucapkan oleh sang istri.


"Iya, Yah. Kita sudah bertemu dengan putri sulung kita," lirih Hurry mengangguk bahagia.


"Bun, apa maksud Bunda?" tanya Agung heran mendengar ucapan sang Bunda.


Agung yang baru saja datang dari butik sempat mendengar Bundanya mengatakan bahwa mereka sudah menemukan Ara.


Hendra dan Hurry menoleh ke arah agung yang baru saja datang.


Agung mendekati kedua orang tuanya. Sedangkan Kayla masih duduk diam di tempatnya.


"Gung, coba kamu lihat foto ini," ujar Hurry memberikan sebuah album pada putra sulungnya.


Agung pun meraih album tersebut lalu membukanya.


"Ini foto Ara, Bun. Siapa yang membawa album ini ke sini?" tanya Agung setelah mengamati foto yang ada di dalam album tersebut.


"Ini Kayla, Sayang," jawab Hurry dengan wajah yang berbinar.


"Benarkah, Bun?" tanya Agung memastikan.


Agung langsung mendekati Kayla yang masih duduk diam di sana.


"Kayla, kamu Ara?" ujar Agung mulai menitikkan air mata bahagianya.


Agung memegangi pundak Ara, dia tak dapat menahan air mata bahagianya.


"Maafkan abang, Dek. Ini semua salah Abang, saat itu Abang tidak bisa menjagamu dengan baik," ujar Agung dihadapan Kayla.


Kayla masih mematung, dia juga ikut menangis mendengar penuturan dari pria yang menyebut dirinya sebagai kakak lelakinya.


"Bertahun-tahun Aku hidup dalam penyesalan atas kebodohanku yang tidak bisa menjaga kamu, Dek." Agung mulai terisak.


Bahunya terguncang karena tak sanggup menahan air matanya, penyesalan dan perasaan bersalahnya pada gadis yang ada di hadapannya membuat dia tak tahan menahan tangisnya.


"Bang Agung,ini semua bukan salah kamu, Bang," lirih Kayla mulai berbicara.


Kayla menggenggam tangan pria yang menangis dihadapannya. Pria yang kini tengah tenggelam dalam perasaan bersalah pada dirinya.


"Karena Agung lalai menjagamu, kamu harus menjalani hidup terpisah dari kami," isak Agung masih menyalahkan dirinya.


"Tidak, Bang. Ini semua adalah takdir yang dituliskan Allah untuk kita, ini terjadi karena Allah yang berkehendak," ujar Kayla ikut menangis.


Dia tak menyangka pria tampan yang terlihat penuh wibawa saat dia berjumpa selama ini, kini tengah menangis rapuh dihadapannya.


Semenjak kecil, Agung memang lebih menyayangi Ara daripada adiknya yang lain. Ara yang lahir saat Agung masih berusia tiga tahun membuat Agung tak kesepian lagi.


Sejak Ara bayi, hingga Ara menghilang Agung selalu mencurahkan kasih sayang yang lebih pada Ara.

__ADS_1


Setelah puas menangis, mereka pun duduk bersama di ruang keluarga itu.


"Sebelum ayah Bram meninggal, beliau memberitahuku bahwa beliau menyimpan sesuatu yang bisa mengungkapkan jati diriku. Aku menemukan album ini di tempat yang dikatakan ayah sebelum beliau pergi. Aku sempat melihat foto yang sama di album ini di sini, makanya aku langsung datang ke sini," ujar Kayla memulai membuka pembicaraan setelah mereka hening sejenak.


"Iya, Nak. Foto yang ada di album itu adalah Ara," ujar Hendra.


"Lalu aku juga menemukan benda ini," ujar Ara sambil mengeluarkan benda yang di simpannya.


"Itu, itu kalung yang selalu dipakai Ara, dia tidak pernah mau melepaskan kalung itu," ujar Agung saat melihat kalung yang ada di tangan Kayla.


Sesaat Agung teringat kejadian 15 tahun yang lalu.


"Bang Gung, bantuin Ara," isak Ara datang menghampirinya sambil menangis.


"Ada apa, Dek?" tanya Agung pada adik perempuannya.


"Ini, kalung Ara putus," ujar Ara sambil mengulurkan sebuah kalung yang ada di tangannya.


Sebagai seorang kakak, agung pun memperbaiki kalung sang adik.


"Kalau enggak bisa diperbaiki, buang aja, Dek," ujar Agung iseng pada adiknya.


"Enggak mau, Bang Gung harus perbaiki kalung itu," rengek Ara pada Agung.


"Ara sangat menyukai kalung itu," ujar Agung meyakinkan bahwa Kayla adalah benar-benar adiknya yang hilang.


"Bun, aku yakin Bunda adalah ibuku. Dan kalian semua adalah keluargaku, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di dalam hatiku," ujar Kayla.


"Apa, Sayang?" tanya Bunda dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa hasil tes DNA waktu itu tidak ada kecocokan di antara kita?" tanya Kayla.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2