
Kayla menghentikan aksinya, dia menatap heran ke arah sang suami.
“Ada apa, Sayang?” tanya Kayla heran.
“Perut aku,” lirih Raffa.
“Kenapa perut kamu?” tanya Kayla panik.
“Perut aku ditendang dedek,” ujar Raffa.
Dia pun mengelus lembut perut sang istri dnegan lembut.
“Dedek cemburu, ya. Ayah anu-anu sama Bunda?” ujar Raffa dengan gaya bicara seperti anak kecil.
Dia mengajak ketiga buah hatinya untuk berbicara. Kayla pun mengangkat piyamanya memperlihatkan kulit perutnya dengan jelas.
“Adek mau ikut peluk-peluk bunda juga?” ujar Raffa lagi.
Kulit perut Kayla pun terlihat bergelombang menandakan pergerakan buah hati mereka yang ada di dalam perutnya.
Sesekali perut Kayla menonjol bagian kira, lalu berpindah di bagian kanan. Raffa takjub melihat rekasi ketiga buah hatinya yang merespon setiap kali dia mengajak calon buah hatinya mengobrol.
Jadilah malam itu calon Ayah dan Bunda itu asyik menikmati pergerakan sang calon bayi yang terus bergerak aktif di dalam rahim sang Bunda.
“Semoga anak-anak kita lahir dengan selamat dan sehat, begitu juga doa’a terbaik untuk bunda mereka, Semoga kuat dalam menjalani hari-hari yang berat hingga ketiga buah ita lahir,” lirih Raffa sebelum mereka memejamkan mata dan tertidur dengan lelapnya.
“Aamiin,” lirih Kayla.
****
Pukul 04.00 menjelang subuh.
Alex terbangun dari tidurnya, dia melihat jam yang terpajang di dinding kamarnya.
“Mau subuh,” lirihnya.
Dia pun bangun, dan duduk bersandar sejenak di sandaran tempat tidurnya. Lalu dia mengambil ponselnya yang terdapat di meja belajar di samping tempat tidurnya.
Alex mengaktifkan ponselnya yang semalam mati karena habis baterai, saat membuka ponselnya di sana terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Irene. Jantung Alex tiba-tiba berdegup dengan kencang.
Rasa cemas mulai menghantui jiwanya, tak sabar dia membuka beberapa pesan dari Irene.
Sayang, kenapa ponselnya enggak aktif?
Aku mau kasih tahu ke kamu, Tadi malam Ayah sama Bunda kamu datang ke rumah. Mereka menyatakan ingin melamarku untuk kamu. Alhamdulillah, Sebentar lagi kita akan menikah.
Alex kaget saat membaca pesan tersebut. Dia bahagia dan penasaran dengan apa yang terjadi kemarin malam. Bergegas dia menghubungi Irene. Dia lupa waktu bahwa saat ini masih terlalu pagi untuk menelpon sang kekasih.
Panggilan pertama Irene belum mengangkat panggilan dari sang kekasih, Alex mencoba mengulangi panggilan untuk kedua kalinya. Tak berapa lama terdengar suara Irene dengan suara serak khas orang bangun tidur.
__ADS_1
“Halo,” lirih Irene masih dalam keadaan memejamkan matanya.
“Sayang, kamu udah bangun?” tanya Alex bersemangat.
“Belum, aku masih ngantuk,” jawab Irene dengan susah payah menahan rasa kantuknya.
“Sayang, kamu bangun dulu, ya,” pinta Alex.
“Mhm,” gumam Irene.
“Udah bangun?” tanya Alex memastikan kekasihnya sudah sadar dari alam bawah sadarnya.
“Udah,” lirih Irene.
Dengan susah payah dia mencoba bangun dan mengambil posisi duduk agar rasa kantuknya hilang.
“Sayang, lamaran kedua orang tuaku diterima? Kamu serius? Kamu enggak bohong, kan?” Alex menghujani Irene yang masih setengah sadar dengan berbagai pertanyaan membuat gadis itu menautkan alisnya kesal.
“Sayang, kalau nanya itu satu-satu, dong,” protes Irene pada kekasihnya.
“Eh, maaf, ya. Kamu ceritain dong apa yang terjadi kemarin malam di rumah kamu, ya,” pinta Alex.
“Kemarin kamu ke mana aja, sih?” protes Irene sebelum menjawab pertanyaan Alex.
“Kemarin ponsel aku mati, jadi aku lupa mengaktifkannya lagi setelah di charger,” jawab Alex.
“Kemarin malam apa yang terjadi di rumah kamu?” Alex sudah tak sabar ingin tahu apa yang terjadi sehingga kedua orang tua Irene menyetujui hubungan mereka.
“Oh begitu, berarti ini semua atas bantuan Kak Kayla. Aku harus bertemu dengan dia nanti, aku akan menyampaikan ucapan terima kasihku padanya,” ujar Alex setelah mengetahui apa yang terjadi.
“Iya, aku juga nanti akan menghubunginya,” ujar Irene.
Irene juga merasa berhutang budi pada sepupunya, ini untuk kedua kalinya sang sepupu menyelamatkan dirinya dari perjodohan yang dipaksa oleh kedua orang tuannya.
“Ya udah, kamu bangun, ya. Jangan tidur lagi! Siap-siap untuk shalat subuh,” ujar Alex mengingatkan Irene.
“Iya,” jawab Irene.
“Ya udah, Sayang. Udahan dulu, ya. Di sini sebentar lagi mau azan subuh,” ujar Alex.
Mereka pun memutuskan panggilan yang tersambung. Alex meletakkan ponselnya di atas meja belajarnya, lalu dia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah di masjid.
Setelah shalat subuh berjama’ah di masjid, Alex melangkah menuju dapur. Di sanan dia mendapati Mak Ijah sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Alita.
“Pagi, Mak,” sapa Alex dengan senyuman yang mengembang.
“Ceria sekali anak Mak, ada apa?” tanya Mak Ijah heran melihat wajah Alex yang sumringah.
Dia masih mengingat wajah murung pria tampan itu saat kedua orang tuanya kembali ke Padang.
__ADS_1
“Alhamdulillah, Mak. Aku sama Irene masih ditakdirkan untuk berjodoh,” ujar Alex bahagia.
“Alhamdulillah, Mak ikut senang, Nak,” ujar Mak Ijah.
Alex pun mengajak Mak Ijah mengobrol, tapi wanita paruh baya itu masih tetap melakukan pekerjaannya.
“Alita mana, Mak?” tanya Alex.
Dia belum melihat Alita keluar dari kamarnya sejak tadi.
“Kayaknya masih di kamar, tadi Mak udah bangunkan dia buat shalat katanya lagi halangan, jadinya Mak langsung ke dapur buat masak,” jawab Mak Ijah.
“Oh gitu, aku coba bangunkan dia dulu ya, Mak.” Alex pun berdiri dan melangkah menuju kamar Alita.
Tok tok tok.
“Al, kamu sudah bangun?” tanya Alex.
“Al!” panggil Alex lagi.
“Mhm,” gumam Alita saat mendengar suara Alex dari luar kamarnya.
“Kamu udah bangun? Kamu kuliah kan hari ini?” tanya Alex.
“Iya, aku udah bangun, Bang,” jawab Alita kesal.
“Al, kamu kuliah jam berapa?” tanya Alex lagi.
“Masuk pagi, Bang,” jawab Alita.
“Ya udah, cepatan siap-siap. Aku antarkan kamu ke kampus nanti,” ujar Alex.
Dia pun kembali melangkah menuju ruang makan, saat Alex masuk ke ruang makan nasi goreng spesial buatan Mak Ijah sudah terhidang di atas meja dengan aroma yang menggugah selera.
“Wah enak sekali,” puji Alex.
“Alex makan ya, Mak,” ujar Alex.
Dia pun mengambil piring lalu mengisi piringnya dengan nasi goreng, Alex menyantap sarapan paginya dengan lahap.
Tak berapa setelah itu, Alita pun ikut bergabung dengan Alex menyantap sarapan pagi.
“Tumben kamu mau antarkan aku ke kampus, Bang?” ujar Alita curiga Alex ada urusan dengan Kayla.
“Memangnya aku enggak boleh anterin adek aku?” ujar Alex menjawab pertanyaan Alita.
Alex sengaja tidak memberitahukan Alita bahwa dirinya ingin berjumpa dengan Kayla pada Alita.
Setelah mereka selesai sarapan, mereka pun berpamitan ada Mak Ijah lalu berangkat ke kampus.
__ADS_1
Alex membonceng Alita dengan sepeda motor gede miliknya menuju Universitas Al-Azhar.
Bersambung…