Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 87


__ADS_3

"Selain mama sama papa kangen kalian, mama dan papa sudah pergi ke rumah Bunda Hurry. Rencananya minggu depan kita akan melakukan tes DNA, untuk mengetahui apakah Kayla dan Bunda Hurry memiliki hubungan darah atau tidak," jelas Arumi.


"Oh gitu, nanti Raffa coba cek jadwal seminar dan bimbingan ya, Ma. Semoga saja tidak bentrok, dan kami bisa berangkat ke Padang," ujar Raffa.


"Oke, Sayang. Sehat-sehat di sana. Jangan bertengkar!" pesan Arumi pada putranya.


Surya mencubit pipi Arumi mendengar pesan yang dilontarkan oleh istrinya kepada pasangan suami istri itu.


Mereka pun tertawa bahagia.


"Ya udah, Ma. Kami makan dulu, pesanan kami sudah tersedia," ujar Raffa lalu dia memutuskan sambungan panggilan video call dengan wanita kedua orang tuanya.


Tak menunggu lama, mereka pun menikmati hidangan yang telah tersedia di atas meja mereka.


"Saya boleh duduk di sini?" tanya Zahra tiba-tiba duduk di kursi tepat di depan Kayla.


Raffa langsung menoleh ke arah Kayla untuk memperhatikan reaksi sang istri. Kayla hanya diam, dia tidak memperdulikan kehadiran Zahra di hadapannya.


Raffa merasa bingung harus berbuat apa, dia geram melihat tingkah Zahra yang selalu mengejar-ngejar dirinya.


"Bang, kamu kalau makan jangan berantakan," lirih Kayla melihat bekas saus menempel di pinggir bibir sang suami.


Kayla mengambil tisu, lalu hendak menghapus bekas saus itu. Namun, Zahra terlebih dahulu menghapusnya.


Raffa menatap tajam ke arah Zahra, dia tidak suka dengan sikap lancang wanita gila di hadapannya itu.


Kayla hanya menghela napasnya, dia berusaha bersikap sabar untuk menghadapi wanita ja*lang yang selalu mengejar sang suami.


"Sayang, aku sudah kenyang, kita pulang!" ajak Raffa muak dengan keberadaan Zahra yang datang tak diundang sama sekali.


Kayla mengangguk, lalu berdiri mengikuti Raffa yang terlebih dahulu melangkah.


"Raffa, tunggu!" pekik Zahra.


Kayla dan Raffa tak mengacuhkan teriakan Zahra.


Zahra pun menghentakkan kakinya kesal. Dia tak menyangka Raffa akan berubah sikap padanya.


"Ini semua pasti gara-gara wanita sialan itu, lihat saja nanti aku akan kasih pelajaran buat kamu," geram Zahra kesal.


Setelah mendapat gangguan dari Zahra, Kayla dan Raffa pun berniat untuk meninggalkan mall.


"Sayang, kita langsung keluar dari mall ini, ya. Nanti kita belanja kebutuhan di supermarket dekat kampus saja," ajak Raffa.


Kayla mengangguk mereka pun memilih meninggalkan mall karena tidak ingin bertemu lagi dengan Zahra.


Raffa dan Kayla sampai di depan asrama pada pukul 21.45. Mereka terlambat pulang karena harus berbelanja berbagai keutuhan terlebih dahulu, dan membeli beberapa oleh-oleh untuk ketiga sahabat Kayla.


"Terima kasih buat hari ini, Sayang," ucap Raffa sebelum Kayla turun dari mobil.


"Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu, Sayang," jawab Kayla.


Raffa menggelengkan kepalanya.


"Membahagiakanmu adalah kewajibanku," ujar Raffa lagi.

__ADS_1


Raffa mengecup puncak kepala sang istri, lalu dia berpindah meraup bibir mungil yang hanya dipoles dengan lipgloss tipis rasa cherry.


"Aku menginginkanmu," bisik Raffa menahan hasratnya yang sudah lama tak tersalurkan.


Sebagai seorang pria normal dia membutuhkan sentuhan dari istrinya.


"Sabar, Sayang. Aku masih nifas," bisik Kayla tersipu malu.


Raffa menghela napasnya panjang.


"Sudah malam, kamu langsung masuk asrama, ya," perintah Raffa.


Kayla mengangguk lalu mengecup lembut pipi Raffa.


Raffa senang mendapatkan kecupan dadakan dari sang istri.


Kayla keluar dari mobil dengan membawa beberapa kantong barang belanjaan untuk dirinya dan teman-temannya yang dibelikan oleh sang suami.


Kayla melambaikan tangannya lalu melangkah masuk ke dalam asrama.


Raffa melajukan mobilnya setelah memastikan sang istri masuk ke dalam asrama dengan selamat.


"Kamu baru pulang, Kay?" tanya Gita saat membukakan pintu kamar untuk Kayla.


Kayla mengangguk dan memberikan beberapa kantong oleh-oleh makanan untuk ketiga sahabatnya.


"Banyak banget, Kay," pekik Lisa girang.


"Buat cadangan makanan kata Bang Raffa," jawab Kayla sambil menyimpan sebuah paper bag berharga ke dalam lemarinya.


"Itu apaan, Kay?" tanya Gita penasaran saat melihat paper bag yang hendak di simpan Kayla.


"Penasaran, boleh lihat dong," rengek Gita penasaran.


"Git, jangan!" Dian menggelengkan kepalanya merasa tidak enak pada Kayla.


"Mhm, nih. Bang Raffa belikan aku ini," Kayla pun memperlihatkan sekotak perhiasan limited edition.


"Wah, suami kamu kaya banget, Kay. Perhiasan ini pasti harganya mahal banget," ujar Lisa.


Kayla hanya mengangkat bahu, dia tidak mau mengumbar harga perhiasan yang sudah dibelikan oleh suaminya.


"Aku jadi penasaran, deh. Sekaya apa sih suami kamu, Kay. Dia kan cuma seorang mahasiswa yang kerja sambilan sebagai motivator," ujar Gita penasaran.


"Entahlah, aku sendiri enggak tahu sebanyak apa kekayaan mereka, yang aku tahu hanya kasih sayang yang mereka berikan padaku benar-benar tulus," tutur Kayla mengenang semua perlakuan baik keluarga sang suami padanya.


"Kamu beruntung, Kay. Dipaksa nikah sama orang yang baik, jodoh orang baik ya sama orang baik juga," ujar Lisa.


"Alhamdulillah, semoga kebahagiaan ini tetap abadi hingga ajal menjemput, aamiin," ucap Kayla.


"Eh, itu ada martabak Bandung kesukaan kalian, makan gih! Nanti keburu dingin," ujar Kayla.


Lalu Kayla pun menyimpan perhiasannya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, dia akan memakai perhiasan itu saat mereka kembali ke Padang nanti.


Keempat sahabat itu pun menikmati martabak dan berbagai cemilan yang dibawa Kayla sambil mengobrol tanpa arah.

__ADS_1


****


Kayla dan Raffa sudah sampai di Padang, mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan tes DNA sesuai kesepakatan yang sudah di buat keluarga Surya dengan Keluarga Hendra.


Di rumah sakit, Arumi dan Surya sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya.


"Assalamu'alaikum, Ma, Pa," sapa Raffa dan Arumi saat berjumpa dengan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikummussalam, Alhamdulillah kalian sudah sampai. Yuk, kita langsung masuk ke laboratorium. Hurry dan suaminya sudah berada di laboratorium," ujar Arumi mengajak anak dan menantunya untuk langsung ke labor.


Kayla dan Raffa mengangguk.


Mereka pun melangkah menuju laboratorium sebuah rumah sakit ternama di kota Padang.


"Hur, Kayla sudah datang," ujar Arumi menyapa Hurry yang duduk di kursi yang tersedia di depan laboratorium.


"Kayla," lirih Hurry lalu dia menghampiri wanita yang diyakininya adalah putri sulungnya.


Kayla menyalami Hurry dengan sopan.


"Bunda, apa kabar?" tanya Kayla sekadar basa basi.


"Bunda baik, Sayang," lirih Hurry.


Hurry memeluk Kayla, dia merasa sangat dekat dengan Kayla ada ikatan batin yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Begitulah juga dengan Kayla, dia juga merasakan kehangatan seorang ibu dari pelukan wanita paruh baya itu.


Hurry dan Kayla pun melakukan prosedur tes laboratorium yang akan menjelaskan ikatan yang ada di antara mereka.


Satu jam berlalu setelah pengambilan sampel darah, mereka menunggu hasilnya dengan mengobrol satu sama lainnya.


"Nyonya Hurry," panggil seorang petugas laboratorium menghentikan semua obrolan di antara mereka.


Mereka pun tak sabar menunggu hasil tes DNA tersebut. Namun, Hurry hanya diam.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan

__ADS_1


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2