Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 76


__ADS_3

Surya dan Arumi saling melempar pandangan, mereka kaget mendengar permintaan anak angkatnya.


"Menikah? Kamu serius, Nak? tanya Arumi memastikan pendengarannya tak salah tangkap.


"Iya, Ma. Satya mau menikah," jawab Satya tegas dan penuh keyakinan.


"Sama siapa?" tanya Arumi penasaran.


Surya masih diam, dia sedang menganalisa situasi agar dapat memberikan masukan dan nasehat untuk putra angkatnya.


"Mhm, Rayna, Ma." Satya menyebutkan nama gadis yang sudah mengisi hatinya.


"Rayna?" Arumi melototkan matanya tak percaya.


"Iya, Ma. Rayna gadis yang Satya sayangi, saat ini dia sedang tidak baik-baik saja. Dia tengah mengalami depresi,--" Satya mulai menceritakan situasi yang kini tengah dihadapinya.


Satya juga memberi alasan pernikahannya adalah ingin membantu Rayna tanpa adanya dosa di antara mereka berdua.


Arumi dan Surya masih diam di saat Satya menyelesaikan ceritanya. Arumi menoleh ke arah sang suami, dia menunggu respon dari pria yang sangat dihormati dalam keluarga Surya.


"Apakah kamu benar mencintai Rayna? Bukan atas dasar kasihan terhadap gadis itu?" tanya Surya dengan bijaksana.


"Iya, Pa. Satya sudah menyukainya sejak perjalanan kami keliling Sumatera Barat waktu itu," jawab Satya jujur.


"Baiklah, besok kita berangkat ke Bandung," ujar Surya tegas.


Arumi tersenyum mendengar ucapan sang suami. Dia yakin sang suami sudah memikirkan keputusan tersebut dengan matang.


"Terima kasih, Pa. Maafkan Satya sudah merepotkan papa," ujar Satya terharu mendengar keputusan dari ayah angkatnya.


"Papa yakin kamu tahu yang terbaik untuk dirimu, papa akan mendukung apa saja keputusan kalian," ujar Surya.


Keesokan harinya, keluarga Surya berangkat menuju Jakarta. Arumi sangat senang bisa berjumpa dengan menantu kesayangannya.


"Satya, katakan pada Raffa untuk bersiap-siap berangkat ke Bandung! Kebetulan besok hari Sabtu mereka libur kuliah, kan?" perintah Surya pada Satya saat mereka dalam perjalanan menuju Bandara.


"Iya, Pa." Satya pun mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Raffa.


πŸ’Œ Bro, sekarang papa dan mama sedang perjalanan menuju Jakarta. Kita berangkat ke Bandung sore ini, ajak istrimu.


Satya mengirimkan pesan itu pada Satya.


Raffa yang sedang berkutat dengan berbagai buku yang ada di atas mejanya, menghentikan kegiatannya saat melihat pesan masuk di ponselnya.


"Hah? Papa dan Mama sedang dalam perjalanan?" gumam Raffa di dalam hati.


Akhirnya Raffa pun menutup buku-bukunya, lalu dia pun bersiap-siap untuk mencari Kayla.


Akhir-akhir ini, Raffa sulit menghubungi Kayla lewat ponsel, karena sang istri lebih sering mengabaikan pesan atau panggilan masuk darinya.


Sebelum dia melangkah mencari Kayla, Raffa terlebih dahulu menghubungi Gita untuk menanyakan posisi mereka saat ini.

__ADS_1


"Kayla," panggil Raffa saat dia telah berdiri di samping Kayla.


Kayla dan teman-temannya sedang mengerjakan tugas kelompok di taman depan Fakultas Syari'ah.


Kayla mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang memanggil namanya.


Semua teman-teman Kayla yang ada di sana juga ikut melihat kedatangan suami dari temannya.


Kayla berdiri dari posisi duduknya dan menarik tangan Raffa menjauh dari posisi mereka tadi.


"Ada apa, Bang?" tanya Kayla dingin.


Untuk saat ini Kayla masih kesal dengan suaminya, maka dari itu dia hanya berbicara dengan sang suami seadanya saja.


"Sore ini kita berangkat ke Bandung," ujar Raffa.


"Ngapain? Apa yang terjadi?" tanya Kayla cemas.


Pikiran negatif tentang keluarganya mulai terlintas di benaknya.


"Rayna sakit, Papa dan Mama sudah dalam perjalan ke sini. Bersiaplah, sesampai mereka di sini kita akan langsung berangkat!" perintah Raffa pada Kayla.


"Baiklah," lirih Kayla.


"Raffa, kamu di sini?" Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri Raffa.


Raffa dan Kayla menoleh pada wanita yang baru saja datang menghampiri mereka.


Raffa masih diam, dia menatap ke arah Kayla yang kini hanya menunduk menyimpan rasa luka.


"Raffa, kamu dengar aku?" tanya gadis itu mendesak Raffa.


"Apa?" tanya Raffa lagi.


"Antarkan aku ke kost sebentar, ada tugasku yang tertinggal" pinta Zahra.


Teman-teman Kayla menatap risih ke arah Zahra. Mereka tidak suka dengan sikap Zahra yang terlihat manja pada suami teman mereka.


"Zahra, maaf. Aku tidak bisa mengantarkanmu sekarang," jawab Raffa menanggapi permintaan Zahra.


"Please, tolong aku sebentar." Zahra menarik lengan Raffa.


Dengan terpaksa Raffa pun mengikuti langkah Zahra. Sejak Zahra kecil, dia memang tidak pernah menolak apa pun yang diminta oleh Zahra, sehingga saat ini dia pun tidak bisa menolak permintaan gadis kecilnya.


Kayla mengangkat kepalanya yang tadi menunduk, dia menatap punggung sang suami yang berlalu mengikuti langkah wanita yang bernama Zahra.


"Teman-teman, aku harus pergi. Nanti aku akan mengerjakan tugasku di rumah, aku akan mengirimnya lewat email," ujar Kayla berpamitan pada teman-temannya.


Saat ini Kayla tidak bersama dengan ketiga sahabatnya karena mereka berbeda kelompok.


Kayla melangkah menuju asrama, dia menuruti perintah Raffa untuk bersiap-siap berangkat ke Bandung.

__ADS_1


Setelah Raffa mengantarkan Zahra ke kostannya, Raffa langsung melangkah menuju asrama putri untuk menemui sang istri.


πŸ’Œ Sayang, aku di depan asrama menunggumu.


Raffa mengirim pesan pada Kayla, berharap Kayla akan keluar menemuinya.


Tak menunggu lama, Kayla keluar dari asramanya. Dia menemui sang suami dengan hati luka.


Saat ini Kayla harus bisa menutupi lukanya, karena dia tidak ingin mertuanya tahu keadaan rumah tangganya yang sedang dilanda masalah.


Raffa langsung memeluk tubuh sang istri saat Kayla sudah berada di hadapannya.


"Maafkan aku," bisik Raffa.


Kayla hanya diam, dia tidak membalas pelukan dari sang suami. Dia mematung. Namun, air matanya yang jatuh mengungkapkan luka yang dirasakannya saat ini.


"Maafkan aku, Kayla. Aku tidak bisa menolak permintaan Zahra." Raffa masih berusaha meminta maaf pada sang istri.


Kayla mendorong tubuh Raffa perlahan, dia tidak sanggup lagi mendengar ucapan Raffa yang seakan lemah di hadapan gadis yang bernama Zahra.


"Bang, kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Jika jauh di lubuk hatimu masih tersimpan rasa pada gadis yang bernama Zahra itu. Kamu cukup anggap aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku hanyalah orang asing yang terpaksa masuk dalam kehidupanmu. Jika suatu hari nanti kamu akan mengusirku dalam hidupmu, lebih baik lakukan sekarang, di saat hatiku masih belum terlalu dalam mencintaimu." Kayla mengungkapkan semua rasa sesak yang dipendamnya selama ini.


Kayla mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir begitu saja di saat dia mengungkapkan semua isi hatinya pada sang suami.


Tiba-tiba, Kayla merasa lelah dan lemah hingga akhirnya dia tidak dapat menahan bobot tubuhnya.


"Kayla," teriak Raffa panik saat Kayla ambruk.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2