Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 230


__ADS_3

"Mhm, tadi aku cuma pergi jalan-jalan dengan teman-teman baruku, mereka cuma mengajakku refreshing ke mall," jawab Irene.


"Lantas mengapa kamu tidak meminta izin terlebih dahulu padaku? Apakah kamu lupa kalau aku suamimu?" ujar Alex penuh penekanan.


Ada rasa kesal yang menyelinap di hati Alex, dia merasa benar-benar tidak dihargai oleh istrinya.


"Maaf aku lupa," jawab Irene santai.


"Mhm," gumam Alex masih kesal terhadap istrinya.


"Wajar dong aku lupa, selama ini setiap langkahku di kampus, aku jarang memberitahu kamu, aku sudah terbiasa pergi sesuka hatiku di saat masih kuliah di Padang," ujar Irene berusaha membela diri agar Alex tidak marah padanya.


"Itu beda, Ren. Sewaktu kamu kuliah di Padang status kamu masih sebagai kekasihku, sekarang status kamu sudah berubah menjadi istriku. seharusnya kamu sadar diri kalau saat ini kamu sudah menjadi istriku. dan untuk itu kamu harus bisa menjaga diri kamu dan pergaulan kamu dengan lawan jenis di kampus," ujar Alex berusaha menasehati sang istri.


Alex melihat dengan jelas bahwa Irene pergi dengan teman-teman lawan jenisnya meskipun di sana terdapat teman-teman wanita.


"Iya iya, aku ngerti lain kali nggak aku ulangi lagi," ujar Irene.


"Aku capek. Aku mau istirahat dulu," ujar Irene lagi berusaha menghindar dari Alex.


Irene malas untuk meladeni Alex yang saat ini terlihat kesal pada dirinya, dia lebih memilih menghindari sang suami untuk sementara. dia pusing setiap hari harus berdebat dengan sang suami.


Irene melangkah masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamar meninggalkan Alex yang masih mematung di depan teras rumah.


Alex merebahkan tubuhnya di atas kursi yang terdapat di depan teras rumah, dia menghela nafas panjang.


Ada rasa sakit yang menyelinap di hatinya. rasa sedih yang tidak bisa diungkapkannya saat ini.


"Ya Allah apakah ini merupakan ujian darimu?" lirih Alex mengusap wajahnya kasar.


Mak Ijah yang tadi sempat mendengar perdebatan di antara Irene dan Alex langsung keluar dan duduk di samping kursi Alex.


"Nak Alex, kamu yang tabah, ya. mungkin ini adalah ujian yang diberikan Tuhan kepadamu. Allah ingin mengetahui seberapa kuat dirimu menjalani bahtera rumah tangga yang baru saja kamu mulai," ujar Mak Ijah memberi semangat kepada Alex.

__ADS_1


Alex menatap dalam ke arah Mak Ijah yang kini duduk di sampingnya.


"Haruskah aku tetap bersabar menjalani semua ini?" lirih Alex terasa pilu.


"Masalah demi masalah yang kalian hadapi saat ini hanyalah kurangnya rasa pengertian yang ada di diri kalian masing-masing," ujar Mak Ijah mulai memberikan pendapat.


"Tapi, Mak. Hari ini Irene benar-benar keterlaluan, jika hari-hari sebelumnya dia hanya mengeluhkan kekurangan nafkah yang aku berikan padanya, aku masih bisa menerimanya. kali ini dia sudah pergi tanpa izin dariku. dia benar-benar tidak menghargaiku lagi sebagai seorang suami." Alex mencurahkan apa yang ada di hatinya pada Mak Ijah.


"Kamu sabar ya, Nak. Di setiap masalah pasti ada penyelesaiannya. perbanyaklah mendekatkan diri kepada Allah dan mohonkanlah pertolongan dan hidayah dalam menyelesaikan masalah yang tengah kamu hadapi saat ini," nasehat Mak Ijah.


Mak Ijah masih berusaha untuk menguatkan Alex agar dia tidak patah di tengah jalan.


Mak Ijah tahu bahwa Irene adalah wanita yang baik, mungkin saja saat ini dia merasa jenuh dengan kehidupan berkeluarga. Dia yang biasa bebas melakukan apa saja sesuka hatinya kini harus terkekang dalam ikatan sebuah pernikahan.


Menurut Mak Ijah Irene hanya dalam proses menyesuaikan diri.


"Makasih ya, Mak. seandainya Mak Ijah tidak ada di sini mungkin aku dan Irene akan selalu bertengkar setiap harinya, dan bisa dipastikan rumah tangga kami yang baru seumur jagung hancur begitu saja," ujar Alex menatap sendu pada Mak Ijah.


"Iya, Nak. inilah gunanya Mak Ijah berada di samping kamu saat ini, Bunda Hurry dan ayah Hendra sangat mengkhawatirkan hubungan rumah tangga kamu, jadi kamu harus bisa mempertahankan rumah tanggamu ini," nasehat Mak Ijah pada Alex.


"Mak, Aku masuk dulu, ya. Aku ingin membaca Alquran untuk menenangkan diri sambil menunggu waktu maghrib masuk," ujar Alex pamit pada Mak Ijah.


"Iya, Nak, hanya Allah tempat yang terbaik untuk mengadukan semua keluh kesah yang kita rasakan," ujar Mak Ijah sambil tersenyum.


Alex mengangguk lalu dia berdiri dan melangkah menuju kamarnya.


Sesampai di kamar Alex melihat Irene sedang berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel di tangannya.


Terlihat Irene sama sekali tidak menyesali apa yang sudah dilakukannya. Dia terlihat santai dalam kegelisahan hati Sang suami.


"Irene, kamu sedang ngapain?" tanya Alex menyapa sang istri yang kini tengah mengabaikan dirinya.


"Nggak ada cuman main HP aja buka Facebook dan Instagram," jawab Irene masih cuek terhadap Alex.

__ADS_1


Alex menghela napas panjang, dia memilih untuk masuk ke kamar mandi dan berwudhu mempersiapkan diri untuk bersiap-siap menunaikan shalat magrib.


Sesudah berwudhu Alex mengambil alqurannya lalu duduk di kursi meja belajar yang tersedia di dalam kamar tersebut.


Alex membuka al-qurannya, sebelum memulai mengaji, dia melirik ke arah Irene yang masih saja asik dengan ponselnya.


Alex pun mulai melantunkan ayat-ayat suci Alquran untuk menenangkan artinya yang tengah bergejolak menahan amarah dan emosi yang berkecamuk di hatinya.


Irene masih saja tidak menghiraukan apa yang tengah dilakukan oleh sang suami.


saat adzan maghrib tiba, Alex langsung mengembangkan sajadahnya dan menunaikan ibadah salat magrib.


"Ren, katakan ponselmu sudah waktunya untuk shalat magrib." Alex mengingatkan Irene sebelum dia memulai ibadahnya.


Irene yang masih saja asik dengan ponselnya, akhirnya meletakkan pasalnya di atas nakas sambil menggerutu kecil yang sama sekali tidak dapat didengar oleh Alex.


Irene masuk ke dalam kamar mandi dan berwudhu, setelah itu dia pun mulai melaksanakan ibadah shalat magrib seorang diri, padahal Alex sengaja menunggunya untuk shalat berjamaah.


Alex benar-benar kecewa dengan sikap yang sudah ditunjukkan oleh sang istri.


"Ren, Aku ingin membicarakan sesuatu padamu," ujar Alex Setelah dia menyelesaikan shalat maghrib.


"Mau bicara apa?" tanya Irene ketus.


Alex mengajak Irene untuk duduk di atas tempat tidur.


"Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi untuk saat ini aku hanya ingin membahas sikapmu yang mulai tidak menghargaiku sebagai seorang suami." Alex mulai membuka pembicaraan di antara mereka.


"Apakah ada sikapku yang tidak mengenakkan terhadapmu," tanya Irene pada Alex.


Irene merasa malas membahas sikapnya, karena dia yakin Alex pasti masih ingin mempermasalahkan kejadian siang ini.


"Ren, saat ini kamu adalah istriku. Aku harap kamu bisa membatasi pergaulanmu dengan teman-teman lawan jenis," ujar Alex pelan-pelan agar Irene tidak tersinggung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2