Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 170


__ADS_3

“Hah?” Kayla memutar bola matanya saat mendengar pertanyaan si pegawai toko.


Gita, Dian,dan Lisa juga ikut kaget saat mendengar ucapan si pegawai toko.


Mendapat tatapan yang aneh dari rombongan pengunjungnya, si pegawai toko itu pun menunjuk pada tangan Kayla yang menggandeng lengan Agung. Kayla yang menyadari hal itu langsung melepaskan tangannya dari lengan kekar sang Kakak.


“Hah, bukan, Mbak. Ini abang saya,” jawab Kayla membantah pikiran si pegawai toko.


“Saya ke sini mau temani abang saya buat cari perhiasan set buat acara pernikahannya dengan teman saya yang ini,” ujar Kayla lagi sambil menggandeng lengan Dian.


“Oh gitu, maaf ya, Mbak. Saya sudah salah paham,” ujar si pegawai toko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Raffa dan Kayla memang sering datang ke toko perhiasan itu walaupun hanya sekadar untuk membeli cincin, gelang atau kalung. Raffa memang lebih suka membelikan Kayla perhiasan untuk investasi bagi istrinya. Walaupun Kayla akan jarang menggunakan perhiasan tersebut.


Makanya si pegawai toko sudah kenal dengan wajah Kayla dan suaminya, sehingga dia sempat berpikiran yang aneh-aneh saat melihat Kayla masuk ke dalam toko sambil menggandeng lengan sang kakak.


“Enggak apa-apa,” sahut Kayla mengerti.


“Lagian, di tempat umum begini pake acara gandengan tangan Agung segala, jadinya ada yang salah paham, kan?” ujar seseorang yang tidak asing di telinga Kayla.


Nada suara cemburu terdengar jelas oleh semua orang yang ada di sana.


“Sayang, kamu udah di sini?” tanya Kayla kaget melihat suaminya juga berada di toko perhiasan itu.


“Kamu cemburu?” tanya Kayla lagi.


Kayla langsung menghampiri sang suami, dia pun bergelayut manja di lengan kekar sang suami. Kayla pun menggandeng manja lengan kekar milik sang suami.


Dian, Gita dan Lisa tersenyum melihat ekspresi manja Kayla pada sang suami.


Dian melihat tingkah Kayla pada Raffa, dia pun membayangkan dirinya tengah bergelayut manja di lengan kekar pria yang memiliki brewok tipis di wajahnya itu. Dia merasa dunia begitu indah setelah mereka halal nantinya.


“Astaghfirullah,” lirih Dian.


Gita dan Lisa heran mendengar ucapan Dian.


“Ada apa, Yan?” tanya Gita heran.


“Mhm, enggak apa-apa,” jawab Dian menunduk malu.


Agung menatap kagum melihat wajah Anggun yang selalu menunduk saat berada di dekatnya.


“Bang Raffa so sweet banget sama Kayla, jadi iri,” celetuk Lisa.


“Iya, jiwa jombloku mulai meronta, nih,” ujar Gita ikut menimpali.


“Hahahaha,” semua orang tertawa mendengar ucapan mereka.

__ADS_1


Ketiga teman Kayla memang sudah sangat arab dengan Raffa,karena Raffa sering membawa mereka jalan-jalan atau sekadar makan siang bareng.


“Gimana, Bro? Lu mau cari apa?” tanya Raffa pada temannya sekaligus kakak iparnya.


Raffa melangkah mendekati Agung lalu menepuk pundak temannya saat duduk di bangku SMA itu.


“Mhm, gue bingung,” jawab Agung.


Agung yang tidak biasa memperlakukan spesial wanita mana pun merasa canggung dan bingung harus memilihkan perhiasan mana yang terbaik untuk calon istrinya.


Raffa pun melangkah masuk ke dalam toko, lalu menghampiri seorang pegawai yang biasa melayani pembeli khusus, di depan pegawai itu terdapat etalase yang memajang beberapa perhiasan limited edition dengan harga selangit.


“Mbak tolong carikan satu set perhiasan untuk teman saya! Saya maunya yang limited edition,” ujar Raffa pada pegawai tersebut.


Agung dan teman-teman Kayla ikut mendekati Kayla dan Raffa.


“Silakan,” ujar si pegawai toko sambil mengeluarkan 3 set perhiasan limited edition.


Ketiga perhiasan yang dikeluarkan oleh pegawai toko tersebut memiliki keunikan dan kecantikan berbeda-beda sehingga setiap pembeli akan ragu dalam memilihnya.


“Kamu mau yang mana?” tanya Agung gugup pada Dian yang kita telah berdiri tepat di sampingnya.


Dian menatap kagum pada keindahan perhiasan yang ada di hadapannya. Namun, dia sendiri bingung harus memilih yang mana.


“Terserah Bang Agung saja,” jawab Dian Malu.


Jiwa iseng Raffa keluar begitu saja saat melihat kecanggungan yang terjadi di antara kedua calon pengantin itu.


Kayla mencubit pinggang sang suami. Kayla tahu saat ini Raffa ingin mengerjai kakaknya dan sahabatnya.


“Kamu jangan iseng deh, Bang,” bisik Kayla.


“Hahaha, lagian lucu liatin mereka malu-malu gitu. Belum sah aja malu-malu, nanti kalau udah sah malu-maluin,” bisik Raffa sambil menahan tawanya.


Gita dan Lisa terkekeh mendengar candaan Raffa, sedangkan Dian dan Agung semakin canggung menahan rasa malu di antara mereka.


“Ya udah, yang ini aja, Mbak.” Agung memilih perhiasan yang paling bagus menurutnya dari ketiga perhiasan yang disodorkan oleh pegawai toko.


“Yakin, Tuan?” tanya pegawai toko memastikan.


“Iya, menurut saya, ini paling bagus,” jawab Agung.


Setelah itu Agung pun menoleh ke arah dua sahabat Kayla yang berdiri tak jauh dari samping calon istrinya.


“Kalian mau apa? Kalung atau cincin?” tanya Agung pada Gita dan Lisa.


Agung menawarkan perhiasan untuk kedua sahabat calon istrinya itu sebagai hadiah dan ucapan terima kasih.

__ADS_1


“Hah? Bang Agung tanya sama kami?” tanya Gita tak percaya.


“Iya, kalian pilihlah mana yang kalian mau,” ujar Agung pada Gita dan Lisa.


Agung memang berencana memberi hadiah untuk Lisa dan Gita sebagai wujud rasa syukurnya dapat ditakdirkan bersatu dengan wanita yang dicintainya.


“Enggak usah, Bang.” Lisa berusaha menolak.


“Asyik,” seru Gita bersamaan dengan Lisa.


Mereka pun saling melempar pandangan, yang satu menolak dan yang satu lagi menerima dengan senang hati.


“Enggak apa-apa, kalian pilihlah mana yang kalian suka. Anggap saja itu hadiah dari aku,” ujar Agung sambil tersenyum.


Akhirnya Gita dan Lisa pun melihat-lihat kalung yang bagus untuk mereka.


“Aku mau yang ini, kamu yang mana Sa?” tanya Gita pada Lisa.


“Aku ikut pilihan kamu aja,” jawab Lisa merasa tidak enak hati pada Agung.


“Ya udah, Mbak. Tolong ambilkan pilihan mereka, ya,” pinta Agung.


“Lu enggak adil, Gung. Masa iya, Gita sama Lisa lu belikan giliran adik sendiri enggak,” protes Raffa pada kakak iparnya.


“Enggak usah, Bang. Lagian aku sudah punya kalung dibelikan Bang Raffa,” ujar Kayla.


“Kalau kamu mau enggak apa-apa, Dek. Kamu pilih aja mana yang kamu suka,” tawar Agung.


“Iya, Sayang kamu pilih aja mumpung gratis. Sekalian pilih yang mahal,” ujar Raffa ingin mengerjai temannya.


“Enggak masalah, Bro. Gue masih punya tabungan kok,” ujar Agung menantang adik iparnya itu.


“Enggak, Bang. Saat ini aku sedang tidak membutuhkan perhiasan,” ujar Kayla berusaha menolak.


“Kamu serius, De?” tanya Agung memastikan.


“Iya, Bang.” Kayla mengangguk.


“Ya udah, tolong dihitung semuanya ya, Mbak,” pinta Agung.


“Total semuanya, 30 juta untuk satu set perhiasannya dan 10 juta untuk 2 kalung ini,” ujar si pegawai.


“Ya udah, ini!” Agung mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar belanjaannya.


“Maaf, Tuan. Semua perhiasan ini sudah dibayar lunas,” ujar sang pegawai.


“Hah?” Agung tak percaya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2