Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 226


__ADS_3

Alita terdiam dan terpaku. Dia tak tahu harus bagaimana.


“Al, ceritakan sama Bunda apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan?” tanya Hurry dengan nada penuh kekecewaan.


Alita menatap sendu ke arah sang bunda. Dia merasa takut untuk jujur untuk mengakui kesalahannya.


“Bun,” lirih Alita.


Alita mulai menangis tersedu-sedu. Dia menutup wajahnya, rasa bersalah kini menyelimuti hatinya. Raymond terpana melihat istrinya yang menangis.


Raymond merasa iba dengan istrinya, dia mendekati sang istri lalu memeluk dengan erat tubuh sang istri yang terguncang karena menangis. Di saat seperti ini Raymond tidak bisa bersikap dingin dan datar pada istrinya, dia terlihat tulus mencintai Alita.


Alita melepaskan pelukan Raymond setelah dia merasa sedikit tenang.


“Bunda, Kak Kayla. A-aku minta ma-af,” lirih Alita terbata-bata.


Dia mengingat semua kelakuan dan kejahatannya pada Kayla selama ini. Kayla dan Hurry saling berpandangan, mereka menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Alita.


Perlahan, Alita mengungkapkan semua yang sudah dilakukannya terhadap Kayla dan Raffa. Dia juga mengungkap niat buruknya yang menyebabkan Raffa sangat membencinya.


“A-aku sadar, aku tidak pantas dimaafkan. Aku sadar tak mudah bagi Bang Raffa memaafkan apa yang sudah aku lakukan.” Alita mengakhiri ucapannya dengan kata maaf dan penyesalan.


Hurry menatap kecewa pada putri kedua adiknya, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa mendidik Alita menjadi pribadi yang baik. Hurry juga menyesal membiarkan Alita memilih dan memutuskan jalan hidupnya tanpa arahan dirinya.


Hurry mendekati Alita, dia merebahkan kepala Alita di dadanya, dia mendekap erat tubuh putrinya. Hurry baru menyadari, ternyata sudah lama dia tak pernah lagi mendekap dan memberi kehangatan pada Alita.


“Bunda juga minta maaf ya, Sayang. Seharusnya bunda tetap memantau kamu walaupun kamu sudah tidak tinggal di rumah lagi,” lirih Hurry.


Hurry sudah salah melepaskan begitu saja tanggung jawab mendidik pada adik dan adik iparnya. Seharusnya Hurry masih tetap memantau perkembangan Alita walaupun dia tinggal bersama Rahman.


Kayla masih terpaku, dia merasa shock mendengar penuturan dari Alita, semua kelakuan Alita selama ini sudah dimaafkannya, tapi saat dia tahu bahwa adiknya pernah menyuruh seseorang untuk merenggut kehormatannya, dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Alita melihat kekecewaan yang terpancar di wajah sang kakak, Alita langsung menghampiri sang kakak. Dia langsung meraih tangan sang kakak dan bersimpuh menangis dihadapan Kayla.


“Kak, maafkan aku. Aku menyesali semua perbuatanku, aku takkan pernah mengulangi kelakuan jahatku. Aku mohon, Kak. Maafkan aku, Kak.” Alita memohon maaf dari sang kakak.


Lama Kayla bergeming, hingga akhirnya. Kayla memegangi lengan Alita lalu membawa sang adik ke dalam dekapannya.


“Aku memaafkanmu, Dek,” lirih Kayla berusaha lapang dada menerima permintaan maaf dari sang kakak.


Raymond menyaksikan ketulusan Alita yang meminta maaf pada sang Kakak, hati Raymond mulai yakin bahwa Alita benar-benar sudah berubah.


Sebelum azan magrib, Raymond mengajak Alita pulang, Dia merasa cukup untuk hari ini, dia tak ingin nanti Raffa datang dan kembali meluapkan emosinya pada Alita.


“Bun, Kayla. Mungkin kami permisi pamit terlebih dahulu, karena hari semakin petang,” ujar Raymond izin pamit pada Bunda dan Kayla.


“Ya udah, kalian hati-hati, ya,” ujar Hurry.


Raymond dan Alita pun berdiri, mereka mulai melangkah keluar dari kamar 3R. Setelah itu melangkah menuju depan rumah. Mereka tidak lagi mendapati Arumi dan Raffa berada di teras rumah. Mungkin Arumi kembali masuk ke dalam kamarnya setelah berbicara dengan Raffa tadi begitu juga dengan Raffa.


“Bunda shalat dulu, ya,” ujar Hurry meninggalkan Alita sejenak di kamar 3 R.


3R sudah biasa anteng di waktu maghrib, sehingga Kayla tidak kerepotan menemani 3R seorang diri di kamar mereka.


Di perjalanan pulang, tak ada suara yang terjadi di antara Alita dan Raymond. Raymond sengaja menyetel mp3 untuk menghapus kesunyian yang terjadi di antara mereka berdua.


Sebelum sampai di rumah, azan sudah berkumandang. Raymond menghentikan mobilnya di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat maghrib. Sejak mengenali Raffa dan Satya Raymond mulai mendekatkan diri pada Allah.


Jika sebelum itu, dia jarang shalat dan tidak membatasi pergaulan dnegan muhrimnya kini dia sedikit demi sedikit mulai menjalani kehidupan mengikuti ajaran agama islam yang sesungguhnya, terlebih saat ini dia sudah menikah.


“Kita shalat dulu,” ajak Raymond pada Alita sebelum turun dari mobil saat Raymond sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan masjid.


Mereka turun dari mobil, dan masuk ke dalam masjid. Alita melangkahkan kakinya masuk ke dalam masjid. Setelah sekian lama dia jarang menunaikan ibadah shalat, ALita mulai menghadap sang penciptanya.

__ADS_1


Alita mencoba melaksanakan shalat dengan khusuk, perlahan dia mulai menyadari kesalahan demi kesalahan yang sudah dilakukannya selama ini.


“Ya Allah, diriku sangat kotor. Selama ini banyak dosa yang sudah aku lakukan, aku mohon ampunilah dosa-dosa yang sudah aku lakukan.”Alita kembali menangis kini dia memohon ampun pada Allah.


Usai shalat maghrib, Raymond menunggu Alita di teras masjid sambil menikmati keindahan langit malam yang beriringan.


Hampir satu jam terlewat, Raymond masih setia menunggu Alita hingga waktu shalat isya pun masuk. Raymond kembali masuk ke dalam masjid, sebelum masuk dia mencari sosok Alita, dnegan jelas dia melihat istrinya tengah berdo’a dan memohon ampunan.


Dengan menyaksikan kesungguhan yang dilihatnya, Raymond yakin saat ini istrinya benar-benar sudah bertaubat. Raymond tersenyum.


“Perlahan kamu sudah mulai menyadari kesalahanmu, kini aku hanya menunggu hatimu berpindah padaku, aku harus berusaha untuk mendapatkanmu,” gumam Raymond di dalam hati.


Setelah shalat isya, Raymond tak lagi menunggu Alita dengan lama, istrinya keluar dari masjid dengan wajah yang sembab karena menangis saat memohon ampun pada sang maha Kuasa.


“Udah?” tanya Raymond saat melihat Alita sudah berada di depan mobilnya.


“Mhm,” gumam Alita sebagai jawaban dari pertanyaan sang suami.


Raymond membukakan pintu mobil untuk istrinya, Alita menatap Raymond yang kini sudah membukakan pintu.


“Masuklah, kita cari makan dulu. Kamu pasti lapar,” ujar Raymond menyuruh Alita masuk ke dalam mobil.


Raymond pun melangkah mengitari mobilnya lalu masuk melalui pintu kemudi. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Raymond mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan masjid.


Tak berapa lama mobil melaju, Raymond menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe yang terlihat sangat ramai dengan muda mudi.


“Kita makan di sini, yuk. Kabarnya di sini makanannya enak,” ajak Raymond pada sang istri.


Saat Raymond hendak keluar dari mobil, Alita meraih lengan sang suami sehingga Raymond menatap heran pada sang istri.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2