
“Aku bersyukur tak terjadi apa-apa dengan Raymond, maafkan aku jadi merepotkanmu,” ujar Irene pada Rayna.
Irene tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang mencelakai Raymond, dia akan merasa bersalah dengan Alita
“Ya allah, ampunilah dosa hamba,” lirih Irene.
“Alhamdulillah kamu dan Raymond baik-baik saja, saat ini kita hanya perlu berdo’a agar Bang Alex lekas sembuh,” ujar Rayna sambil mengelus lembut bahu kakak sepupunya.
“Makasih ya, Dek,” lirih Irene.
“Kamu sudah kasih tahu Ibu dan Ayahku, Ray?” tanya Irene pada Rayna.
“Sudah, Kak. Tadinya mereka mau datang, tapi karena kakak sudah baikan mereka tidak jadi datang,” ujar Rayna penuh penyesalan dengan sikap kedua orang tua Irene.
Sebagai saudara Rayna sengaja datang menjaga kakak sepupunya karena saat ini hanay dia yang bisa menemani Irene di rumah sakit, karena Kayla sedang repot dengan 3R.
Irene menunduk, dia sangat kecewa dengan sikap kedua orang tuanya.
“Irene!” panggil Hurry yang baru saja datang dengan Hendra.
Irene mengangkat wajahnya dan melihat ibu mertuanya langsung menghampirinya, Hurry langsung memeluk tubuh Irene. Wanita paruh baya itu mengelus lembut punggung Irene.
“Kamu sabar ya, Nak. Kita harus berdo’a yang terbaik buat Alex, semoga Alex cepat sembuh,” ujar Hurry menenangkan menantunya.
Hati Irene semakin tersentuh mendengar ucapan wanita yang sudah melahirkan suaminya, Irene merasa sangat disayangi oleh ibu mertuanya.
Tangis Irene kembali pecah, dia semakin menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini. Bunda Hurry tulus menyayanginya seperti anaknya sendiri, sementara itu orang tuanya sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang menimpa dirinya.
“Maafkan Irene ya, Bun,” lirih Irene setelah dia meluapkan rasa yang ada di hatinya dalam tangisnya di pelukan ibu mertuanya.
“Maaf untuk apa, Sayang? Kamu tidak salah, ini adalah takdir yang datang dari Allah, Kita Harus serahkan semuanya pada Allah,” ujar Bunda Hurry penuh kasih sayang.
“Iya, Nak. Kita harus ikhlas menerima ujian dari Allah,” tambah Hendra menguatkan hati Irene.
Irene semakin terharu mendengar perkataan Ayah mertuanya, dia semakin sadar bahwa hidup bahagia bukan dinilai dari harta semata. Kasih sayang dari orang-orang sekeliling kita akan membuat hidup kita lebih bahagia dari pada harta.
“Makasih ya, Bun.” Irene mengusap wajahnya yang sudah basah karena air mata.
“Kamu istirahatlah terlebih dahulu, supaya kamu bisa lekas pulih. Setelah itu kamu bisa menjaga Alex, semoga dia semakin cepat sembuh dengan perawatanmu,” ujar Hurry memberi nasehat pada menantunya.
Irene mengangguk paham, lalu Hurry meminta perawat untuk kembali mengantarkan Irene ke dalam ruang rawatnya.
Tiga hari berlalu, Irene sudah sembuh total. Hendra terpaksa pulang ke Padang terlebih dahulu karena urusan pekerjaannya yang sudah mulai menumpuk.
__ADS_1
Hurry meminta Mak Ijah menggantikan dirinya mengasuh 3R karena Hurry harus menjaga Alex di rumah sakit.
“Bun,” lirih Irene yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Alex.
“Irene, sini!” ajak Bunda Hurry.
Bunda Hurry memberikan sebuah kursi pada menantunya agar Irene bisa duduk di samping suaminya.
“Hingga saat ini, belum ada perubahan yang terjadi pada Alex,” lirih Hurry menatap sendu putranya yang semakin kurus itu kini terbaring lemah di atas tempat tidur.
Irene meraih tangan Alex, dia mengelus lembut tangan Alex.
“Maafkan aku, Lex,” lirih Irene di dalam hati.
Irene menatap dalam pada wajah suaminya.
“Semoga dengan adanya kamu di sampingnya dapat membuat dia sembuh, kamu jangan lupa untuk terus berdo’a untuk Alex, ya,” ujar Bunda Hurry.
Irene mengangguk.
“Makasih, Bun,” lirih Irene.
“Pagi, Bu.” Seorang perawat menghampiri Bunda Hurry.
“Bisakah kami meminta tolong?” tanya perawat pada bunda Hurry.
“Ada apa?” tanya Hurry pada sang perawat.
“Ini ada resep dokter yang harus kita berikan kepada pasien, dan kebetulan obatnya ini di apotik rumah sakit sedang kosong, bisakah Bu Hurry membantu kami membelinya di apotik luar?” pinta perawat tersebut pada Hurry.
“Oh, ya udah. Biar saya yang pergi membeli obatnya di apotik luar rumah sakit,” ujar Hurry menanggapi permintaan sang perawat.
“Terima kasih, Bu,” ujar sang perawat.
Lalu perawat itu pun kembali melangkah keluar dari ruang rawat Alex. Hurry menoleh ke arah Irene yang masih duduk di samping tempat tidur.
“Bunda keluar sebentar, ya. Kamu di sini dulu jagain Alex,” ujar Hurry pada Irene.
Irene mengangguk.
“Iya, Bun. Biar Irene yang menjaga Bang Alex,” ujar Irene.
Hurry pun keluar dari ruang rawat putranya, dia mulai melangkah keluar dari kawasan rumah sakit.
__ADS_1
Sebelumnya dia sudah menanyakan pada perawat dimana apotik paling lengkap dan terdekat dari rumah sakit.
Bunda Hurry menggunakan ojek online untuk mengantarkannya menuju apotik.
Di dalam ruang rawat Alex, Irene meraih tangan yang semakin hari semakin kurus. Irene meletakkan tangan itu di pipinya yang sembab.
“Lex, bangun,” lirih Irene.
“Aku ingin minta maaf atas kesalahanku. Aku ingin kita perbaiki kembali rumah tangga kita,” lirih Irene lagi.
Irene kembali menangis di telapak tangan suaminya.
“Aku siap kamu menghukumku, aku rela kamu ingin melakukan apa saja padaku, tapi jangan pernah tinggalkan aku, aku janji tidak akan menuntutmu lebih dari kemampuanmu. Aku akan menjadi istri yang baik untukmu,” ujar Irene mengajak suaminya mengobrol.
Menurut dokter, pasien yang sedang kritis masih dapat mendengar siapa pun yang mengajaknya bicara hanya saja dia tidak dapat menanggapi pembicaraan siapapun yang mengajaknya bicara. Namun, hal itu sangat baik dilakukan agar pasien semakin mudah untuk sadar.
Irene kembali mengenang masa-masa indahnya bersama Alex, kebahagiaan yang sellau diberikan Alex padanya sejak pacaran hingga akhirnya Alex memperjuangkan dirinya.
Semua yang dilakukan Alex terhadapnya membuat Irene merutuki kebodohannya satu bulan terakhir sudah mengecewakan pria yang sangat tulus mencintai dirinya.
Pria yang kini terbaring di atas tempat tidur itu telah rela melakukan apa saja demi kebahagiaan dirinya. Tapi, dia sudah membuat suaminya kecewa dengan tidak menerima Alex hanya karena ekonomi.
Walaupun mereka hidup seadanya tapi, Alex tidak pernah membiarkan Irene kelaparan dan membiarkan Irene ke kampus tanpa ada uang di tangannya. Pengorbanan Alex begitu besar terhadapnya.
“Ya Allah, aku memang wanita bodoh yang tidak bersyukur dengan apa yang sudah dilakukan oleh suamiku,” lirih Irene.
Seketika, Irene teringat nasehat Alex.
“Jika kita dalam menghadapi masalah apa pun, kita harus serahkan semuanya pada Allah,” pesan Alex yang masih jelas terngiang di telinga Irene.
Irene pun mengusap air matanya, dia berdiri dari duduknya lalu dia melangkah menuju kamar mandi, Irene mencoba untuk melaksanakan shalat sunat dhuha, lalu diiringinya dengan shalat taubat dan shalat hajat.
Irene memohon ampun pada Tuhan atas kesalahannya, setelah itu dia pun memohonkan kesembuhan sang suami.
Setelah Irene selesai shalat, dia menghampiri Alex masih dnegan mengenakan mukenanya, dia mengambil Alquran yang terletak di lemari samping tempat tidur Alex.
Irene mulai membacakan ayat-ayat Alquran, meskipun suaranya tak semerdu suara Alex, dia tidak mengurungkan niatnya untuk memohon kesembuhan Alex pada Allah.
Saat Irene terus membaca Alquran, tiba-tiba kepala Irene terasa sangat pusing dan akhirnya dia terjatuh tak sadarkan diri.
Dia tergeletak di lantai di samping tempat tidur Alex.
Bersambung...
__ADS_1