Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 254


__ADS_3

"Aku tidak tahu secara pastinya bagaimana aku bisa berada di dalam mobil Varo, tapi ada satu hal yang membuat aku merasa aneh, kenapa aku tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri saat berada di taman. Di saat itu Varo mengikutiku." Irene mulai menceritakan apa yang dilakukannya pada siang itu.


Awal bertemu dengan Varo dan rencana teman-temannya yang ingin mengenalkan dirinya dengan Varo.


"Apakah sebelum kamu meninggalkan kantin, kamu sempat meminum atau memakan sesuatu?" tanya Farhan pada Irene.


"Irene mencoba mengingat kembali, dia memang sempat meminum es teh yang dipesan oleh Lola," ujar Irene.


Farhan menatap Raffa.


"Karena kejadian ini sudah berhari-hari, kita tidak bisa memeriksa darah Irene apakah dia sempat meminum sesuatu yang membuat dia tak sadarkan diri," ujar Farhan.


Tok tok tok.


Terdengar seseorang mengetuk pintu, mereka semua menoleh ke arah pintu.


Terlihat Fitri sudah berada di dalam ruangan.


"Assalamu'alaikum," ucap Fitri saat masuk ke dalam ruangan tersebut.


Fitri menjadi gugup saat kedatangannya disambut oleh mata yang tampak tegang membahas permasalahan Alex.


"Wa'alaikummussalam," jawab semua orang yang ada di sana.


"Apakah kedatanganku mengganggu?" tanya Fitri ragu untuk masuk.


Farhan menatap sosok wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Alex, pakaiannya yang terlihat santai dengan mengenakan kemeja berwarna biru langit serta kelana kulot jeans dan hijab senada yang tidak terlalu panjang.


"Enggak, Fit. Kita sedang membahas kasus Raymond," jawab Raffa.


Farhan mengalihkan pandangannya dari Fitri saat mendengar Raffa berkata.


Terlihat tatapan tidak suka dari sorot mata Irene ke arah Fitri yang ikut duduk bersama mereka.


"Maaf, Tuan. Tadi aku ke kantor polisi menemui Pak Raymond untuk memberi kabar penting, dia memintaku untuk datang ke sini menemui Tuan," ujar Fitri.


"Mhm, katakan. Berita penting apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Raffa penasaran.


Fitri mengeluarkan ponselnya dari saku celana kulotnya. Lalu menyalakan sebuah rekaman pembicaraan antara Lola dan kekasihnya.

__ADS_1


“Aku tak menyangka Varo akan pergi secepat ini,” ujar Lola bersedih.


“Ini semua gara-gara teman baru kamu itu,” ujar kekasih Lola.


“Kenapa Irene yang kamu salahkan?” tanya Lola heran.


“Jika saja dia jujur kalau sudah memiliki kekasih, hal ini tidak akan terjadi,” ujar kekasih Lola lagi.


“Pria yang datang menolongnya itu adalah suaminya,” bantah Lola.


“Kalau saja kita tahu dia adalah wanita bersuami mana mau kita jadikan dia mangsa untuk Varo,” ujar kekasih Lola.


Rekaman tersebut terhenti.


Semua orang yang ada di sana saling melempar pandangan, Irene menunduk malu. Dia sudah salah dalam memilih teman, selama ini dia mengira Lola adalah teman yang baik baginya, ternyata Lola dan kekasihnya ingin merusak dirinya.


Irene semakin bersyukur memiliki Alex yang sangat mencintai dirinya dan menjaga dirinya hingga saat dia dalam bahaya sang suami berusaha menyelamatkan dirinya. Demi menyelamatkan wanita yang dicintainya, dia malah terbaring kritis di rumah sakit.


Irene kembali menangis, penyesalannya kembali membuncah membuat air matanya jatuh begitu saja.


Alita yang berada di sampingnya langsung memeluk kakak iparnya itu, sekedar memberi tempat untuk meluapkan rasa sedihnya.


“Berarti, Lola dan kekasihnya memang ada niat jahat terhadap Irene?” tanya Raffa memastikan.


Dia merasa semua orang akan mengerti arah kelanjutan pembicaraannya tersebut.


“Varo membayar kekasih Lola dnegan jumlah yang besar untuk menjadikan Irene sebagai mangsanya," tambah”Fitri lagi.


“Jika nanti di persidangan apakah Lola mau menjadi saksi?” tanya Raffa pada Fitri.


“Iya, dia bersedia menjadi saksi. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjaga Lola agar dia tidak kabur atau ada seseorang yang akan mencelakainya,” ujar Fitri lagi.


Fitri memang seorang gadis yang cekatan dan cepat tanggap. Saat Raymond memintanya untuk menyelidiki kasus kecelakaan itu, dia langsung menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk turun tangan.


Fitri yang berasal dari kalangan anak jalanan membuat dia mudah melakukan penyelidikan tersebut, karena teman-temannya masih banyak bekerja serabutan di jalanan.


Fitri dan Raymond sudah saling mengenal jauh sebelum mereka bekerja di kafe SatRa. Pekerjaan yang dipercayakan Satya pada Raymond membawanya ikut masuk ke dalam dunia perkafean seiring semakin majunya kafe yang dirintis Satya dan Raffa.


Melihat kecakapan Fitri dan Raymond Satya menjadikannya sebagai orang kepercayaan sekaligus sebagai mata-mata yang bisa diandalkan saat dibutuhkan.

__ADS_1


“Kerja bagus, Fit. Enggak salah Satya sangat mempercayaimu,” puji Raffa.


Irene juga menaruh kekaguman pada wanita yang sangat dekat dengan suaminya itu, tapi Irene harus tetap berhati-hati untuk tetap menjaga suaminya agar tidak berpaling pada wanita pintar itu.


Alita kagum melihat kecekatan Fitri, dia bersyukur Raymond memiliki teman sebaik dan seperhatian Fitri, karena dengan ini suaminya akan terbebas dari tuduhan percobaan pembunuhan itu.


“Kasus ini sangat mudah untuk diselesaikan, kita harus mengikuti prosedurnya. Dengan saksi dan bukti ini kita bisa membebaskan Raymond dari penjara, jika keluarga Alvaro masih tetap menuntut Raymond kita bisa kembali menuntut balik atas tuduhan pencemaran nama baik.” Farhan mengambil kesimpulan dari informasi yang diberikan oleh Fitri.


“Nona Fitri, apakah besok bisa membawa Lola ke kantor polisi agar kita bisa membebaskan Raymond?” tanya Farhan pada Fitri.


“Iya,” lirih Fitri mengangguk menerima perintah.


Farhan mulai kagum dengan sosok wanita itu, dia tak menyangka ada seorang wanita memilih kecerdasan melebihi pria.


“Kerja yang bagus, Fit. Semoga masalah ini cepat selesai, dan kita menunggu Alex sadar dan melewati masa kritisnya,” ujar Raffa.


“Kalau begitu saya pamit, dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Fitri.


Fitri masih bertanggung jawab atas kafe yang biasa dihandle oleh Alex. Dia tidak bisa berlama-lama meninggalkan kafe.


"Terima kasih, Fit. Semua ini akan membantu Raymond keluar dari masalah ini," ujar Raffa.


"Sama-sama, Tuan. Ini adalah kewajiban saya. Raymond adalah sahabat saya, dan sebagai seorang sahabat, saya ingin sahabat saya cepat keluar dari penjara," ujar Fitri.


Ucapan Fitri membuat Farhan merasa kagum padanya.


"Terima kasih, Kak Fitri." Alita ikut berterima kasih pada Fitri.


Selama ini dia tidak suka dengan sosok Fitri karena dia terkesan seperti seorang yang sombong dan selalu ikut campur urusannya.


"Sama-sama, kamu harus sabar, ya," ujar Fitri menyemangati Alita.


Alita mengangguk, setelah itu Fitri pun melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Tak berapa lama Fitri meninggalkan mereka, Bunda Hurry datang dengan seseorang bersamanya.


"Assalamu'alaikum," ucap Bunda Hurry.


"Wa'alaikummussalam," jawab semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Farhan terpaku melihat sosok yang berada di samping Bunda Hurry.


Bersambung...


__ADS_2