Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 227


__ADS_3

Raymond menatap dalam pada istrinya, dia merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Alita. Raymond juga melik ke tangannya yang kini sedang dipegang oleh istrinya.


“Ada apa?” tanya Raymond heran.


“Maafkan aku,” lirih Alita.


Raymond tersenyum lalu mengelus lembut pipi sang istri.


“Kamu tidak perlu meminta maaf padaku,” ujar Raymond.


“Maafkan aku saat ini belum bisa mencintaimu, maukah kamu menungguku?” lirih Alita terus terang.


“Kamu tidak perlu memikirkan aku, berada di sisimu sebagai suami sudah cukup bagiku saat ini,” jawab Raymond.


Alita merasa tertampar dengan ucapan Raymond, dia semakin bersalah pada suaminya itu. Saat ini Alita belum bisa memastikan rasa yang ada di hatinya merupakan cinta atau hanya sekadar mengagumi sosok pria yang menyebalkan tapi bikin dia selalu ingin berada di sampingnya.


ALita masih menatap wajah tampan milik sang suami, Raymond tak sanggup menahan gejolak di dadanya, dia takut tatapan istri akan membuat dia lupa diri.


“Yuk, aku udah lapar,” ujar Raymond membuyarkan tatapan Alita pada dirinya.


Alita mengangguk. Raymond keluar mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk sang istri.


“Sekarang kamu sudah menyadari kesalahan-kesalahanmu selama ini, itu artinya saat ini adalah waktuku untuk memperjuangkan cintamu. AKu harus berusaha mencuri hatimu,” gumam Raymond di dalam hati.


Saat Alita sudah berada di luar mobil, Raymond langsung meraih tangan Alita lalu menggenggam tangan sang istri dengan erat hingga mereka masuk ke dalam kafe. Alita melirik ke tangannya yang kini sudah di genggam erat oleh sang suami, ada rasa nyaman menyelinap di hatinya.


“Kamu mau makan apa?” tanya Raymond pada Alita saat mereka sudah duduk di sebuah bangku yang berada di tengah ruangan kafe.


Raymond sengaja memilih duduk di tengah, karena dia ingin menyaksikan berbagai penampilan muda mudi dalam bernyanyi di pentas yang tersedia di tengah-tengah kafe tersebut. Agar mereka dapat menikmati makan malam mereka tanpa ada rasa canggung di antara mereka.


Tak berapa lama mereka duduk, seorang pelayan datang menghampiri mereka.


"Selamat malam, mau pesan apa, Tuan, Nona?" sapa pelayan tersebut pada sepasang suami istri tersebut.


Raymond menoleh pada istrinya yang duduk tepat di sampingnya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Raymond pada sang istri.

__ADS_1


"Terserah kamu aja, aku ikut apa yang kamu pesan," jawab Alita.


Dia bingung mau memesan apa, karena suasana hatinya masih campur aduk. Sebenarnya saat ini dia sama sekali tidak ingin makan, tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan sang suami.


"Ya udah, kami pesan nasi goreng spesial dan orange jus," ujar Raymond.


Selera Raymond memang simple, dia tidak terlalu suka dengan menu yang aneh-aneh, mungkin karena dia bekerja di kafe sehingga menu ala-ala kafe tidak terlalu menarik baginya.


"Raymond!" seorang wanita yang sama kembali menghampiri Raymond.


Raymond kaget saat melihat Diana juga berada di sana. Dia mengedarkan pandangannya berharap Diana datang bersama teman-temannya sehingga Diana tidak akan mengganggu makan malamnya bersama sang istri.


"Kamu kenapa celingak-celinguk seperti itu?" tanya Diana sambil menarik sebuah kursi lalu duduk di dekat Raymond.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Raymond berharap Diana bersama temannya.


"Aku sendiri," jawab Diana santai.


Melihat Diana yang sudah duduk di samping suami dengan jarak dekat, Alita langsung berdiri dan duduk tepat di depan Raymond.


Diana langsung cemberut melihat tingkah Raymond yang berbeda dengan tadi siang yang duduk berjarak dengan wanita yang bersamanya,


“Siapa wanita yang bersama Raymond, apakah ini pacarnya?” gumam Diana di dalam hati.


Dia bertanya-tanya status Raymond dan wanita yang berada di samping mantan kekasihnya.


Tak berapa lama seorang pelayan datang membawakan makanan yang sudah di pesan Raymond.


“Silakan, Tuan, Nona,” ujar si pelayan kafe.


“Terima kasih,” ucap Raymond ramah.


“Kamu mau pakai kecap, Sayang?” tanya Raymond pada Alita sambil melirik ke arah Diana.


Raymond sengaja memanggil Alita dnegan sebutan ‘sayang’ agar Diana mengetahui hubungannya dengan Alita.


“Hah? Sayang? Apakah aku enggak salah dengar?” gumam Diana di dalam hati.

__ADS_1


“Apa sebenarnya hubungan Raymond dengan wanita di sampingnya?” gumam Diana lagi di dalam hati.


Diana semakin penasaran dengan wanita yang ada di samping mantan kekasihnya, dia tak percaya jika Raymond dengan mudah melupakan dirinya.


Raymond melihat dengan jelas raut tak suka pada wajah Diana dnegan apa yang dilakukannya, Raymond tersenyum sinis.


“Diana? Kamu mau pesan apa?” tanya Raymond pada Diana.


“Eh, mhm. Aku belum lapar,” lirih Diana.


“Sayang, kamu kalau makan jangan belepotan,” ujar Raymond beralih menatap Alita.


Dia mengambil tisu lalu membersihkan sedikit saus yang menempel di sudut bibir Alita. Diana semakin panas melihat sikap Raymond yang seolah memamerkan kemesraan di hadapannya.


ALita hanya diam saja dengan sikap yang dilakukan oleh Raymond, seketika Alita mengingat sikapnya dulu dengan Raffa. Kini dia juga merasakan sakit atas perbuatan yang pernah dilakukannya, posisi yang dirasakannya saat ini sama persis dengan posisi Kayla waktu itu.


Tapi, Alita merasa bersyukur dengan sikap Raymond yang menunjukkan bahwa dia adalah wanita yang spesial baginya di hadapan wanita yang sejak tadi siang ingin mendekati sang suami.


“Ray, aku kangen sama kamu,” ujar Diana tanpa ada rasa malu.


Dia juga tidak peduli dengan status yang ada di antara Raymond dan wanita kampung di hadapannya. Pakaian Alita yang menggunakan hijab seadanya dianggap Diana penampilam orang kampung yang jauh berbeda dengannya yang menggunakan pakaian kurang bahan sehingga memperlihatkan aurat-auratnya yang sensitive di mata para lelaki.


“Kenapa kamu tidak merindukan kekasihmu yang sudah kamu pilih? Dan demi dia kamu sudah meninggalkanku,” ujar Raymond dengan nada datar.


“Apa maksudmu?” tanya Diana.


Saat itu Diana meminta putus dengan alasan ingin menyelesaikan kuliahnya, Raymond menyetujui permintaan Diana walau sakit yang dirasakannya, tapi setelah itu dia dapat kabar dari seseorang bahwa Diana sudah memiliki pacar seorang pengusah yang jauh lebih mapan dari dirinya waktu itu.


“Sudahlah, Diana. Aku sudah mengetahui semuanya. Kamu lebih memilih pria itu karena dia lebih mapan dariku yang hanya seorang karyawan kafe,” ujar Raymond menyudutkan Diana.


“Kamu salah, Ray. Selama ini aku hanya mencintaimu. Dan tidak ada orang yang bisa menggantikan posisimu,” ujar Diana tidak peduli dengan keberadaan Alita di samping Raymond.


“Aku sudah tak peduli dengan apa yang kamu rasakan, karena saat ini aku sudah memiliki wanita yang paling berharga dalan hidupku, yaitu Alita. Dia adalah istriku,” tutur Raymond jujur.


“Apa?” Diana menggelengkan kepalanya tak percaya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2