
Pagi ini semua orang di rumah kediaman Bramantyo sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah Dian, mereka akan mengantarkan mempelai pria menuju rumah mempelai wanita.
Kayla tengah bersiap-siap, dia mengenakan gaun berwarna toska dengan desain simpel yang di rancang khusus untuk ibu hamil, gaun nan indah itu membuat penampilan calon ibu itu terlihat sangat anggun.
Sedangkan Raffa mengenakan kemeja batik senada dengan gaun yang dikenakan oleh wanitanya.
Kayla masih mengenakan hijabnya yang lebar dengan polesan make up tipis natural membuat Raffa semakin terpesona melihat sang istri.
Raffa melangkah mendekati istrinya, dia melingkarkan tangannya di pinggang Kayla. Lalu dia meletakkan dagunya di pundak Kayla.
Dia menatap pantulan tubuh mereka di cermin yang ada di hadapan mereka.
"Bidadariku, sangat cantik," bisik Raffa memuji sang istri.
Kayla tersipu malu mendengar pujian yang dilontarkan oleh sang suami.
Dia membalikkan tubuhnya, sehingga posisi mereka menjadi berhadapan.
Kayla merapikan kerah baju Raffa yang sebenarnya sudah rapi, dia mengelus dada bidang milik sang pujaan hati.
"Kamu pun semakin tampan," lirih Kayla memuji sang suami.
Raffa gemas melihat tingkah sang istri, dia mencubit pelan hidung calon ibu dari anak-anaknya.
"Kamu bisa aja memuji aku, dari dulu aku mang sudah tampan, kan? Makanya kamu mau jadi istri aku," ujar Raffa dengan percaya diri.
"Iya, Sayang. Aku mau menjadi istrimu dan aku sudah jatuh cinta padamu, tapi bukan sejak awal bertemu karena saat itu pria yang sah menjadi suami sah bagiku tak menginginkan diriku," ujar Kayla memanyunkan bibirnya.
"Itu karena suamimu sangat mencintai gadis yang bernama Zahra, dan ternyata gadis yang aku cintai itu adalah istriku," jawab Raffa.
"Sejak aku mengetahui bahwa kamu adalah Zahra gadis kecil yang selalu menghiasi hari-hariku di waktu kecil adalah kamu. Maka rasa cinta dan sayangku semakin tumbuh dan bermekaran untukmu seorang," ujar Raffa jujur dan tulus dari dalam hatinya.
Kayla pun memeluk erat tubuh kekar yang mempesona itu.
Aku sangat mencintaimu, Bang," lirih Kayla.
"Kak," panggil Alita dari luar kamar.
"Iya," sahut Kayla.
Mereka pun menghentikan drama romantis yang baru saja mereka lakukan.
"Ya udah kamu keluar duluan aja," ujar Raffa.
Raffa enggan keluar bersamaan dengan istrinya, karena dia malas bertemu dengan Alita, sang adik ipar.
"Oke, kamu jangan lama-lama,y. Mungkin semuanya udah pada siap," ujar Kayla.
__ADS_1
Kayla keluar dari kamar seorang diri dengan penampilan yang sangat menawan.
"Kakak, kamu cantik banget," puji Alita berbasa-basi.
Dia merasa iri dengan pesona natural yang terpancar dari diri sang kakak.
Kayla menatap sang adik dengan penampilannya yang juga tak kalah memukau, hanya saja mata Kayla merasa risih melihat hijab Alita yang pendek.
"Akan lebih cantik lagi jika hijabnya diperpanjang sedikit, Dek," nasehat Kayla.
Sang kakak yang biasa berpenampilan tertutup itu tidak ingin mata pria melihat keindahan tubuh sang adik dengan mudah.
"Panas, Kak," bantah Alita.
"Sayang, lebih panas azab api neraka lho, Dek," ujar Kayla mencoba menasehati sang adik.
"Ih, kakak," gerutu Alita.
Alita terlihat tidak suka dengan nasehat Kayla.
Dia yang sengaja menawarkan diri saat semua keluarga sudah siap karena ingin bertemu dan dekat-dekat dengan Raffa malah dapat nasehat yang tidak disukainya.
"Dek," panggil Kayla.
Alita melangkah mengabaikan panggilan dari Kayla.
"Udah biarin, aja," ujar Raffa yang tiba-tiba datang menghibur istrinya.
Kayla dan Raffa melangkah menuruni anak tangga, perlahan-lahan dan sangat hati-hati, Raffa menjaga istri dan calon bayinya.
"Kalian sudah siap?" tanya Hurry menyambut putri sulungnya saat sudah bergabung dengan semua keluarga.
"Udah, Bun." Raffa mengangguk.
"Ya udah, yuk kita berangkat!" ajak Bunda Hurry.
"Alex, kamu bawa mobil aku saja, . Kamu bawa pengantin pria serta bunda dan Ayah, Aku dan Kayla bareng Rayna dan Satya," ujar Raffa pada adik iparnya itu.
"Gita, Lisa, dan Fitri ikut gabung di mobil kami aja," ajak Raffa.
Raffa membagi akomodasi untuk seluruh keluarga dan teman-teman yang lain, agar semua bisa berangkat menggunakan armada yang tersedia.
"Aku ikut satu mobil sama kak Kayla, ya," rengek Alita.
Kayla dan Raffa saling melempar pandangan. Mereka bingung harus menjawab apa.
Melihat situasi itu, Alex memiliki inisiatif buat menyuruh Raymond membawa mobil yang lainnya.
__ADS_1
"Alita, kamu sama Raymond dan keluarga yang lain saja, sekaligus temanin Raymond biar bisa akrab dengan keluarga yang lain," perintah Alex.
Raymond yang mendapat tugas hanya mengangguk paham.
"Aku maunya sama kak Kayla," bantah Alita.
"Al, Alex benar, mending kamu temani Raymond kasihan dia nanti enggak ada yang dikenalnya," bujuk Hurry.
Mau tak mau akhirnya, Alita terpaksa pasrah untuk berangkat bersama Raymond.
Raymond tersenyum, dia mendapat kesempatan untuk bisa bersama dengan Alita.
"Ya sudah, kita berangkat. Kasihan pengantin wanita terlalu lama menunggu pengantin pria," ujar Hendra.
Mereka pun tertawa mendengar ucapan Hendra, lalu masing-masing mereka masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia.
Raymond membukakan pintu mobil untuk Alita.
"Silakan masuk!" ujar Raymond dengan sopan.
"Idih, biasa aja kali." Alita masuk ke dalam mobil dengan hati mendongkol.
Raymond pun iku masuk ke dalam mobil, diikuti oleh keluarga lainnya.
Raymond menoleh ke arah Alita sebelum melajukan mobilnya.
"Kamu mau aku yang pasangkan sabuk pengaman?" tanya Raymond mengingatkan Alita.
Alita menarik tali sabuk pengaman lalu langsung memasangkan sabuk tersebut di tubuhnya.
"Senyum dulu, dong, hilang lho cantiknya kalau cemberut," ujar Raymond sambil melirik ke arah Alita.
Setelah itu, Raymond mengendarai mobilnya di kecepatan sedang, dia mengikuti laju mobil yang dibawa oleh Alex yang berada di urutan pertama.
Tak berapa lama mereka pun sampai di kediaman keluarga Hidayat.
Rumah yang tak kalah besarnya dengan rumah Bramantyo itu sudah mulai dihias dengan berbagai hiasan bunga memberi kesan bahwa di sana sedang dilaksanakan hajatan.
Alex menghentikan mobil yang dikendarainya, diikuti oleh 4 mobil di belakang.
Semua anggota keluarga yang ikut mengantar pun turun dari mobil, sementara itu keluarga besar Hidayat datang menyambut kedatangan rombongan pengantin pria.
"Silakan masuk, Jeng," ujar Fatimah mengajak Hurry masuk ke dalam rumah.
Hurry mengangguk, mereka pun melangkah masuk mengikuti langkah Hurry menuju sebuah ruang tamu yang sudah disulap menjadi tempat yang sakral bagi Agung nantinya.
Mereka pun mengambil posisi duduk di dalam ruangan itu, Hurry dan Hendra duduk di tempat yang sudah disediakan untuk pengantin pria serta orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung...