
"Apa yang kamu lakukan di sini?" bentak Irene kaget saat melihat Varo sudah duduk di bangku taman tepat di samping tempat dia duduk tadi.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu," jawab Varo santai.
Varo menatap dalam pada wanita yang masih asing baginya.
"Kamu tidak berhak mengkhawatirkan diriku, karena kita tak saling kenal," ujar Irene.
Irene tidak suka dengan gaya Varo yang merasa sok dekat dengannya padahal mereka belum saling mengenal sama sekali.
Dia tak suka dengan keberadaan Varo di taman itu, Irene yakin sejak tadi Varo mengikutinya.
"Setelah ini kita akan saling kenal," ujar Varo lagi dengan santainya.
"Aku tidak ingin berkenalan denganmu," ujar Irene ketus.
Secara jelas Irene menolak kenal dengan teman dari kekasih temannya.
Varo tersenyum smirk.
"Santai saja, Nona,--" Varo belum menyelesaikan ucapannya.
Irene langsung melangkah meninggalkan Varo, tapi tiba-tiba dia terjatuh dan tak mengingat apapun lagi.
****
"Fit, aku tadi kayak liat Irene di sini. Tapi, sekarang udah enggak keliatan lagi." Alex tiba-tiba panik.
"Masa' sih?" Fitri menautkan kedua alisnya.
"Iya, tapi,--"
Alex mulai gelisah, tiba-tiba hatinya mencemaskan keadaan istrinya saat ini. Ada firasat tidak enak mengganggu pikirannya.
"Kamu tenang dulu, Lex. Coba kamu hubungi ponselnya terlebih dahulu," saran Fitri berusaha menenangkan Alex yang sudah terlihat cemas.
Alex mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi nomor ponsel sang istri. Berkali-kali panggilan Alex tidak dijawab sama sekali oleh Irene.
Rasa khawatir yang kini menyelimuti hati Alex tidak bisa membuat Alex berdiam diri.
Alex langsung menghubungi Raymond.
"Bro, gue butuh bantuan lu," ujar Alex saat panggilan sudah tersambung ke ponsel sahabatnya sekaligus adik iparnya itu.
"Hei, apa yang terjadi?" tanya Raymond ikut khawatir.
Alex menceritakan perasaannya saat ini yang tiba-tiba mengkhawatirkan keadaan sang istri.
"Oke, lu tunggu gue di sana," seru Raymond.
__ADS_1
Raymond pun bergegas ke lokasi Alex saat ini.
Tak berapa lama, Raymond datang.
"Ayo kita berangkat mencari istrimu," ajak Raymond saat dia sudah bertemu dengan Alex.
"Fit, kita pergi dulu!" seru Alex tergesa-gesa.
Alex langsung melangkah menuju parkiran, dia menaiki kuda besinya dan mulai melajukan sepeda motornya. Raymond duduk berboncengan di belakangnya.
Mereka meninggalkan Fitri yang masih kebingungan melihat kepanikan dua pria itu.
"Berikan ponselmu!" pinta Raymond sebelum Alex melajukan kuda besinya lebih cepat lagi.
Alex mengambil ponsel yang ada di saku jaketnya, lalu menyodorkan ponselnya itu pada Raymond.
Pria yang memiliki talenta dalam bidang perangkat lunak meraih ponsel milik sahabatnya itu.
Sambil berboncengan Raymond melakukan sesuatu di ponsel sahabatnya itu, setelah itu dia pun mulai mengarahkan Alex untuk melintas jalan menuju keberadaan Irene saat ini.
"Bro, ini sudah di luar kota. Ke mana istri gue?" tanya Alex penasaran pada Raymond.
"Cepatlah, lu jangan banyak bicara. Saat ini kita hampir dekat dengan lokasi istrimu," jawab Raymond sambil melihat ponsel Alex yang menunjukkan keberadaan Irene.
Raymond mencari lokasi Irene menggunakan alat pelacak yang di sambungkan melalui nomor ponsel Irene. Bagi Raymond melacak nomor seseorang merupakan hal yang sangat mudah baginya.
Raymond kembali meminta Alex melajukan sepeda motornya lebih cepat lagi karena keberadaan Irene saat ini mulai menjauh darinya.
"Berhenti!" teriak Raymond.
Dengan sekejap Alex menginjak rem, sepeda motornya berhenti tepat di depan mobil Hon*a J**z berwarna hitam yang tengah parkir.
Raymond turun dari sepeda motor, lalu melangkah mendekati mobil yang kini sedang terparkir itu.
Tok tok tok. Raymond mengetuk kaca mobil tersebut.
Perlahan pemilik mobil itu menurunkan kaca mobilnya sedikit saja.
"Maaf, Mas, saya mau tanya," ujar Raymond pada si pemilik mobil tersebut.
"Tanya apa, ya?" ujar si pemilik mobil terlihat tak suka.
Seolah dia merasa terganggu dengan kehadiran Raymond.
Alex juga turun dari sepeda motornya lalu melangkah mendekati si pemilik mobil.
Saat dia melihat ke arah mobil, Alex melihat seseorang terbaring di kursi belakang mobil tersebut.
Pakaian seseorang itu tidak asing di mata Alex.
__ADS_1
"Di-di-mana a-ku," lirih Irene saat baru terbangun dari tidurnya.
Raymond dan pemilik mobil melirik ke bangku belakang, Raymond melihat Irene yang terlihat acak-acakan, dia tak lagi mengenakan hijabnya, rambutnya terlihat acak-acakan.
"Hei, siapa itu?" tanya Raymond curiga.
Si pemilik mobil tak menghiraukan pertanyaan Raymond, Dia langsung memundurkan mobilnya lalu melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
“Cepat, Lex!” teriak Raymond.
Raymond bergegas menaiki sepeda motor Alex, ia mengejar mobil tersebut dengan kecepatan tinggi hingga Alex dapat menyeimbangi laju mobil itu.
“Apa yang sudah kau lakukan padaku?” teriak Irene saat sadar dia berada di dalam mobil Varo.
Dia semakin panik saat tahu dia tak lagi mengenakan hijab, Irene meraih hijabnya yang terletak di bahwa bangku mobil.
Varo hanya tersenyum sinis, dia masih fokus melajukan mobilnya. Dia tak menghiraukan perkataan Irene sama sekali.
Irene tak melihat pakaiannya terbuka sedikitpun, dia yakin Varo berniat jahat padanya, dia baru sempat membuka jilbab yang dikenakannya.
Irene pun menoleh ke arah luar jendela, dia melihat Alex dan Raymond tengah mengejar mobil yang dilajukan oleh Varo.
“Alex? Dari mana dia tahu keberadaanku? Dia pasti datang untuk menyelamatkanku,” gumam Irene di dalam hati.
“Hentikan mobilnya!” teriak Irene membentak Varo.
“Tenanglah, kita harus menjauh dari mereka,” ujar Varo.
Dia tidak tahu bahwa dua pria yang mengejarnya saat ini mengenali Irene.
“Hentikan mobilnya!” bentak Irene lagi.
Varo tetap terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Alex terus berusaha melajukan sepeda motornya mengejar mobil Varo.
Irene semakin panik, dia yakin bahwa Varo bukanlah orang baik-baik. Irene berusaha membuka pintu mobil tapi sia-sia karena Varo sudah menguncinya. Irene tak putus asa, Irene menarik lengan Varo agar dia mau menghentikan mobil.
“Kamu tenanglah di sana!” bentak Varo mulai marah.
“Turunkan aku di sini!” bentak Irene tak kalah sengitnya.
“Lex, lu harus bersiap!” teriak Raymond.
Raymond mengingat pisau lipat yang selalu ada di tas selempangnya yang kini masih di sandangnya.
Alex mengangguk lalu mengiringi laju mobil Varo, dia mendekati mobil dan Raymond pun beraksi.
Dengan keahlian dan kemampuannya, Raymond menusuk ban mobil Varo dengan pisau lipat miliknya, sehingga Varo lepas kendali dan mobilnya menghantam pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang, sebelum mobil Varo jatuh ke jurang, bagian belakang mobil Varo sempat menyenggol sepeda motor yang dikendarai oleh Alex.
Alex pun lepas kendali, Raymond terpental ke pinggir jalan. Alex terseret sepeda motornya dan menghantam pembatas jalan.
__ADS_1
Bersambung…