
"Ya ampun, kamu ngapain ke sini?" tanya Raffa dengan nada marah pada istrinya yang datang membawa 3R beserta mama dan Mak Ijah.
Kayla menundukkan kepalanya sambil menggendong Ratu.
"Aku juga pengen jengukin Alex," lirih Kayla merasa bersalah karena dia membawa anak-anaknya keluar dari rumah tanpa izin sang suami.
"Kenapa kamu keluar rumah tidak menghubungi aku terlebih dahulu, aku kan bisa jemput kamu," suara Raffa mulai melunak saat melihat istrinya menunduk.
"Ponsel kamu ketinggalan di rumah," jawab Kayla lagi sambil mengeluarkan milik suaminya dari dalam tas.
"Astagfirullah," lirih Raffa.
"Fa, kamu jangan marah sama Kayla. Mama juga mau melihat Alex, sejak Alex dirawat Mama belum pernah datang ke sini," ujar Arumi membela menantunya.
Akhirnya Rafa menghela napas panjang. Kini tak ada alasan lagi baginya untuk marah pada sang istri. dia hanya tidak suka putra-putrinya dibawa ke rumah sakit.
Kayla melangkah mendekati Alex dengan menggendong Ratu.
Kayla menyentuh tangan adik sepersusuannya itu.
Ibu 3 anak itu menatap sendu ke arah Alex yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri.
Kayla menggenggam dengan erat telapak tangan Alex, dengan seketika monitor detak jantung Alex bergerak dengan cepat.
"Lex, kamu tahu aku di sini?" lirih Kayla saat melihat perubahan monitor detak jantung adiknya.
Raffa menatap tajam ke arah tangan istrinya yang menggenggam erat tangan adik iparnya.
Entah mengapa api cemburu terus membara di saat istrinya berdekatan dengan pria lain walaupun pria tersebut sudah jelas-jelas muhrim bagi istrinya.
"Bun," lirih Kayla menunjuk ke arah monitor yang mengukur detak jantung pasien.
Hurry melangkah mendekati tempat tidur putranya, matanya berbinar penuh harap melihat respon yang diberikan oleh Alex saat Kayla menggenggam tangannya.
"Kayla, ikatan bathin kalian memang kuat," lirih Bunda takjub melihat kedekatan Kayla dan putra bungsunya.
Irene pun melangkah mendekati tempat tidur Alex.
Semua orang juga mulai menghampiri tempat tidur Alex berharap Alex sadar.
"Lex, aku di sini. Kamu bangun, dong," ujar Kayla.
Kayla mulai duduk di kursi samping tempat tidur Alex. Dia tak lagi dapat menahan air matanya, berhari-hari Kayla menahan diri untuk tidak datang ke rumah sakit dengan alasan ketiga buah hatinya.
Di saat dia sudah berada di rumah sakit, dia ikut merasakan sakit yang di rasakan oleh Alex.
"Lex, bangun," ujar Kayla mulai meninggikan suaranya seraya dengan tangisan yang kini mulai pecah.
__ADS_1
Bunda Hurry meraih Ratu yang ada dalam gendongan putrinya, Raffa menghampiri sang istri. Raffa merangkul pundak istrinya yang kini terus menangis.
"Ka-ka-ka-kak ja-ja-ja-ngan na-na-nangis."
Tiba-tiba Alex sadar dan berujar terbata-bata.
Semua mata yang mendengar lirihan Alex langsung menoleh pada Alex, termasuk Kayla.
"Alex, kamu udah bangun?" tanya Kayla tak percaya.
Alex mengerjapkan matanya, dia mulai memindai satu per satu orang yang ada di sekelilingnya.
"I-irene, ka-ka-kamu," lirih Alex saat matanya menangkap sosok sang istri yang menunduk dalam menyimpan kesedihan serta penyesalan.
Irene langsung memeluk tubuh sang suami.
"Maafkan aku, Lex, maafkan aku," tangis Irene kembali pecah di atas tubuh sang suami yang terbaring.
Perlahan Alex mengangkat tangannya, lalu memeluk tubuh sang istri.
Kekecewaan yang dirasakannya sirna begitu saja saat sang istri sudah mengucapkan kata maaf.
Tak berapa lama, Raymond datang dengan seorang dokter. Raymond sengaja memanggil dokter saat Alex mulai sadar.
"Bisa kami periksa pasien terlebih dahulu," ujar dokter menghilangkan suasana haru antara sepasang suami istri itu.
Kayla memeluk Raffa, dia sangat senang melihat adiknya sudah sadar kembali.
"Kayla, sejak dulu kamu dan Alex bagaikan anak kembar. Ikatan bathin di antara kalian dapat menyembuhkan adikmu," ujar Hurry takjub melihat kedekatan antara keduanya.
"Alhamdulillah, Bun. Sejak tadi pagi, aku risau ingin bertemu dengan Alex, Bun. Mungkin ini adalah petunjuk dari sang Maha Kuasa," ujar Kayla.
"Lex, maafkan aku," lirih Irene lagi setelah dokter dan perawat meninggalkan mereka.
"A-aku su-sudah me-me-maaf-kanmu," lirih Alex masih terbata-bata.
Mereka semua kembali masuk ke dalam ruangan setelah dokter keluar dari ruangan tersebut.
Mereka semua bahagia melihat Alex sudah sadarkan diri, dan kini mereka tinggal menunggu Alex benar-benar pulih agar dapat kembali beraktivitas.
****
Di tempat lain, Reza tengah duduk memandang jauh lautan lepas yang ada di hadapannya.
"Ada apa denganmu? Kenapa aku tak lagi bisa menghubungimu," lirih Reza menyimpan rindu yang mendalam pada gadis yang kini tiba-tiba memutuskan kontak dengannya.
Sepertinya Lisa sudah memblokir nomor ponselnya sehingga dia tak lagi bisa menghubungi gadis yang sudah mengisi relung hatinya.
__ADS_1
"Apa salahku? Tak seharusnya kamu berbuat seperti ini padaku," lirih Reza lagi dalam duka yang mendalam.
Reza mulai membuka galeri foto yang ada di ponselnya, kini dia hanya bisa melihat gadi pujaan hatinya dari beberapa foto yang dimilikinya.
Reza sudah mencoba menghubungi Lisa lewat akun sosial medianya, tapi akun sosial medianya sudah diblokir oleh Lisa.
"Sampai kapanpun aku akan menunggumu, hatiku kini sudah tertambat padamu. Saat ini aku belum bisa meminangmu, karena kamu masih kuliah. Seandainya kamu sudah selesai kuliah, aku akan menikahimu sekarang juga dan membawamu ke sini," ujar Reza berbicara dengan foto yang ada di layar ponselnya.
Tiba-tiba, Reza teringat pernah menyimpan nomor ponsel Gita.
Reza pun mulai mencoba menghubungi Gita agar dia bisa bicara dengan Lisa.
Reza membuka daftar kontak di ponselnya, satu per satu dilihatnya.
Reza mulai menekan tombol panggil setelah menemukan nomor kontak Gita, sahabat dari gadis yang dicintainya.
Satu kali panggilan tak ada jawaban dari seberang sana, Reza pun mengulangi panggilan tersebut berharap kali ini si pemilik ponsel mau mengangkat panggilan darinya.
"Halo," sahut seorang wanita dari seberang sana.
Reza masih ragu untuk berbicara.
"Halo, ini siapa?" tanya Gita heran dengan panggilan tak dikenalnya itu.
Reza masih diam, dia sendiri bingung harus berkat apa nantinya.
"Halo, ini siapa, ya?" tanya Gita sekali lagi berharap orang yang menelponnya mau berbicara.
"Halo," sahut Gita mulai kesal.
Akhirnya Gita memutuskan panggilan tersebut, Gita malas berurusan dengan seseorang yang tidak dikenalnya.
Gita meletakkan ponselnya di atas tempat tidur lalu dia melangkah menuju kamar mandi berniat hendak mandi sore.
"Huhhft." Reza menghela napas panjang.
Rasa ragunya membuat dirinya gagal bisa bicara dengan wanita yang dirindukannya.
Reza kembali mencoba menghubungi Gita, dia menyiapkan mentalnya agar dia sanggup berbicara dengan Gita.
"Git, ponselmu berdering," teriak Lisa yang sedang asik memainkan ponselnya.
"Tolong angkat, ya," pinta Gita.
Lisa pun mengambil ponsel tersebut lalu menekan tombol hijau.
"Halo," sahut Lisa saat panggilan sudah tersambung.
__ADS_1
Bersambung...