
"Silakan, Nona," ujar Satya pada Rayna yang masih terpesona pada sang supir.
"Eh, iya. Terima kasih," ucap Rayna.
Rayna bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping bangku supir.
Setelah memastikan Rayna duduk dengan nyaman, Satya melangkah mengitari mobil dan masuk lewat pintu kemudi.
"Maaf, Nona. Sabuk pengamannya," ujar Satya mengingatkan Raina yang belum memasang sabuk pengamannya.
"Ya ampun," ujar Rayna sambil menepuk jidatnya.
Rayna pun memasang sabuk pengamannya sendiri.
setelah memastikan semua penumpang duduk dengan nyaman, Satya melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Bramantyo.
Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia mulai membelah jalanan raya yang semakin ramai dengan kendaraan.
Berhubung hari ini hari Sabtu, banyak muda-mudi yang berkeliaran menikmati malam Minggu yang panjang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, Satya memarkirkan mobilnya di depan sebuah mall terbesar di kota Bandung.
Satya turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk majikannya, Raffa dan Kayla turun dari mobil.
Setelah itu Satya juga membukakan pintu mobil untuk Rayna.
"Sat, ikut kita, ya!" ajak Rafa pada supirnya.
"Tidak usah, Tuan." Satya menolak ajakan Raffa.
"Bro, sekarang gue bukan majikan lu!" ujar Raffa.
"Yuk!" ajak Raffa lagi.
Akhirnya Satya pun mengikuti Raffa dan dua gadis bersamanya.
Begitulah Raffa dan Satya, di saat dia berada bersama keluarga besar Satya adalah supirnya, tapi di luar jangkauan keluarga Raffa menganggap Satya sebagai sahabat.
Satya dan Raffa tumbuh bersama, dia bekerja dengan Raffa bukan karena dia tidak bisa bekerja di tempat lain, tetapi dia bekerja dengan Raffa sebagai rasa terima kasihnya pada keluarga Surya yang telah mendidik dan menyekolahkannya hingga tamat S1.
Umur Raffa dan Satya hanya terpaut satu tahun, sebelumnya Satya juga kuliah di Universitas Al-Azhar bersama Raffa.
Satya lebih dulu kuliah, dan dia sudah menuntaskan pendidikannya lebih awal dari Raffa.
Selain bekerja sebagai supir pribadi Raffa, Satya memiliki bisnis online yang gajinya melebihi gaji yang didapatkannya dari pekerjaannya tersebut.
Mereka melangkah memasuki mall tersebut dan langsung mencari foodcourt yang terdapat di lantai 4.
"Mau makan apa?" tanya Raffa setelah mereka duduk di sebuah meja double date yang ada di foodcourt tersebut.
"Chicken steak saus Enoki," jawab Kayla dan Rayna serentak.
Kayla dan Rayna memang memiliki selera makanan yang sama oleh karena itu mereka selalu terlihat kompak.
Rafa melirik kedua wanita itu secara bergantian, dia takjub melihat kekompakan kedua wanita itu.
"Minumannya?" tanya Rafa pada kedua wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Fruity lemon squash," ujar Kayla sambil melirik adiknya.
Rayna mengangguk setuju dengan minuman yang dipilih oleh kakaknya.
"Lu mau apa, Bro?" tanya Rafa pada Satya.
"Gue ikut mereka aja," jawab Satya karena makanan yang dipilih dua gadis itu termasuk makanan yang disukainya.
Raffa pun memesan makanan pada seorang pelayan yang sedari tadi sudah berdiri di samping mereka.
"Baiklah, Tuan. Pesanannya kami proses terlebih dahulu. mohon ditunggu sebentar!" pelayan lalu dia pun berlalu meninggalkan meja tersebut.
"Kalian kompak sekali," puji Rafa pada kedua gadis itu.
"Harus karena kita saudara," seru Rayna bangga mendapatkan pujian dari sang kakak ipar.
Satya hanya tersenyum melihat majikannya yang mengobrol dengan akrab.
"Oh iya, Kay. kamu pasti belum kenal dengan Satya? Satya ini adalah kakak sekaligus sahabat aku sejak kecil." Rafa mulai memperkenalkan jati diri Satya.
"Bukannya, Bang Satya ini yang bawa kita ke gedung pernikahan waktu itu?" tanya Kayla pada suaminya.
"Iya, Satya akan selalu ada di mana aku berada, tapi dia hanya memantauku dari kejauhan." Raffa menjelaskan tugas Satya.
Mereka terus mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.
Tak berapa lama, pelayan datang membawakan makanan yang sudah dipesan tadi.
Dia menghidangkan makanan di atas meja.
"Silakan, Tuan, Nona," ujar pelayan pada sang pelanggan.
Pandangan teduh pria itu membuat Rayna semakin terpesona dengan aura kharismatik yang terpancar di dirinya.
Kayla menendang kaki Rayna memberi peringatan pada sang adik.
"Istighfar, dosa," bisik Kayla di. telinga adiknya.
"Ih, kakak. Apaan sih?" gerutu Rayna pada kakaknya.
Rayna merasa terganggu dengan peringatan sang kakak.
Raffa tersenyum geli melihat tingkah kakak adik itu, sementara itu Satya menyadari tatapan dari Rayna yang duduk tepat di hadapannya.
Satya sengaja bersikap santai, agar Rayna tidak malu dengan sikapnya yang konyol di hadapannya.
Menurut Satya, Rayna merupakan gadis remaja yang masih labil. Wajar bagi gadis seumuran dia mengagumi seorang pria seperti dia.
Setelah selesai makan malam bersama mereka keluar dari foodcourt tersebut lalu berkeliling mall sambil melihat-lihat berbagai barang yang terpajang di sana.
Raffa dan Kayla berjalan bergandengan tangan sedangkan Rayna dan Satya berjalan canggung di belakang mereka.
"Sombong amat nih cowok," gerutu Rayna kesal. melihat sikap Satya yang dingin terhadapnya.
"Bukannya sombong, tapi malas bicara," bisik Satya di telinga Rayna.
Rayna malu saat menyadari bahwa Satya mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Lagian ngajakin ngobrol dikit kenapa? Enggak salah deh kayaknya," gerutu Rayna terang-terangan.
"Bingung mau ngobrol apa," balas Satya cuek.
"Ngomong apa kek, nanya nama kek, nanya alamat kek, nomor hape, atau terserah yang penting enggak garing seperti ini," cerocos Rayna mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
Satya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Rayna yang apa adanya.
"Eh, kak Kayla sama Mas Raffa mana?" tanya Rayna saat menyadari mereka ketinggalan langkah suami istri itu.
"Biarin aja, kan masih ada aku," jawab Satya santai.
"Ish, kepedean," cicit Rayna.
"Kita nonton bioskop, Yuk!" ajak Rayna melupakan kekesalannya yang sudah ditinggal oleh kakak dan kakak iparnya.
Rayna menarik lengan baju Satya agar si cowok tampan dengan tubuh ideal itu mau mengikuti langkahnya.
"Tapi, Nona. " Satya berusaha ajakan Rayna dengan pelan.
"Tidak ada tapi-tapian ayo ikut aku sekarang juga," ujar Rayna.
Rayna kini telah berada di depan bioskop, dia sengaja memilih film horor kesukaannya yang akan di tayangkan sekitar tiga puluh menit lagi.
"Aku hubungi Raffa terlebih dahulu," ujar Satya lalu mengeluarkan ponselnya.
"Jangan, biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka," bantah Rayna.
Di saat mereka tengah duduk di ruang tunggu menunggu jadwal tayang film yang dipesannya tadi, seorang pria berjaket hitam datang menghampiri Rayna.
Pria itu menarik tangan Rayna.
"Jangan ada yang mendekat!" ancam sang pria.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya πππ