
Satya keluar dari mesjid, dia berdiri di teras mesjid menunggu Rayna keluar dari mesjid tersebut.
Setengah jam dia menunggu, Rayna tak kunjung keluar dari mesjid.
Satya mulai gelisah, dia pun masuk ke dalam mesjid dan mencari istrinya di dalam mesjid. Namun, Satya tidak dapat menemukan sang istri di sana.
Satya pun melangkah menuju toilet wanita.
"Maaf, Buk. Apakah di dalam masih ada orang?" tanya Satya pada seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari toilet wanita.
"Tidak ada, Mas. Toiletnya kosong," jawab wanita paruh baya itu.
"Lalu ke mana istri saya, Buk?" tanya Satya panik.
"Maaf, Mas. Saya tidak tahu," jawab wanita paruh baya itu ikut panik.
"Oh iya, maaf ya, Buk," ujar Satya.
Satya mengedarkan pandangannya ke sekeliling mesjid.
Dia berusaha mencari Rayna, tapi dia tidak dapat menemukan istrinya.
Satya langsung menghubungi bodyguard bayaran Satya. Dia memberitahukan bahwa saat ini Rayna menghilang.
Saat Satya keluar dari mall, Satya memang menyuruh kedua bodyguardnya untuk tidak mengikuti mereka lagi karena Satya merasa situasi sudah aman.
"Baik, Tuan. Saya akan melacak keberadaan, Nona sekarang," ujar Rian, bodyguard bayaran Satya.
"Baik, langsung kabari aku," perintah Satya.
Satya memutus sambungan telponnya. Dia langsung masuk mobil menunggu kabar dari Rian.
Tak berapa lama Satya menunggu, Rian menghubunginya.
"Tuan, posisi Nona Kayla saat ini keluar dari kota Bandung, perjalanan menuju Lembang. Saya dan Doni sekarang tengah mengejar posisi Nona Kayla," ujar Rian memberitahukan Satya.
"Astaghfirullah, siapa yang membawanya?" tanya Satya.
"Kami juga belum tahu, Tuan." Rian juga tak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Baiklah, kirimkan lokasimu terupdate, aku akan menyusul," ujar Satya.
Satya pun memutuskan panggilan dan bergegas melajukan mobilnya mengejar Rayna.
Satya menyesali kelalaiannya, seharusnya Satya tidak membiarkan Rayna sendirian.
Sepanjang perjalanan Satya terus merutuki kebodohannya. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya.
"Ya Allah, lindungi Rayna dari kejahatan orang-orang jahat, aamiin." Satya terus berdo'a di dalam hati untuk keselamatan sang istri.
Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia mengikuti jalur yang diarahkan oleh Rian, hingga akhirnya posisi mereka beriringan.
Satu jam Satya mengiringi mobil yang ditumpangi Rian, hingga akhirnya mobil RIan berhenti menghadang sebuah mobil Grandmax berwarna hitam.
Satya ikut menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil itu.
"Woi, minggir!" teriak supir mobil Grandmax berwarna hitam itu.
Rian keluar dari mobil, dia memaksa supir itu membuka pintu mobil.
Melihat hal itu, Satya pun keluar dari mobilnya.
"Buka pintunya sekarang juga!" bentak Rian.
"Siapa kau? Beraninya memaksaku?" teriak sang supir yang terlihat masih muda.
__ADS_1
"Jika kau tidak membuka pintunya, aku akan menghubungi polisi karena kau sudah menculik majikan saya," ancam Rian.
Si supir itu pun menoleh ke belakang, karena takut si supir itu pun membukakan kunci mobil.
Satya melihat Rayna terbaring di jok penumpang dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Rayna!" teriak Satya.
Satya langsung mengeluarkan Rayna dari mobil tersebut dan memindahkan istrinya ke mobil miliknya.
Setelah mengamankan istrinya Satya langsung menghampiri Rian yang kini tengah mencekal tangan si penculik.
"Kamu urus dia, paksa dia untuk mengaku siapa dalang dibalik ini, kabari aku secepatnya!" perintah Satya pada anak buahnya itu.
Satya pun meninggalkan mereka dan membawa Rayna pergi dari tempat itu.
"Syukurlah, Rayna masih dalam keadaan belum sadarkan diri. Jika tidak jiwanya akan kembali terguncang," gumam Satya di dalam hati sambil mengelus kepala Rayna yang masih tak sadarkan diri.
Dalam situasi seperti ini, Satya tidak mungkin membawa istrinya pulang karena Satya tidak mau orang tua Rayna khawatir dengan keadaan Rayna.
Satya mengambil ponselnya, lalu menghubungi ayah mertuanya memberitahukan bahwa malam ini mereka tidak pulang ke rumah.
Setelah itu Satya pun membawa Rayna ke sebuah hotel. Dia menggendong tubuh sang istri yang masih tak sadarkan diri hingga kamar hotel.
Satya membaringkan tubuh Rayna di tempat tidur.
Dia menggenggam erat tangan Rayna menunggu wanitanya sadar.
"Mhm," gumam Rayna sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya Satya.
AKhirnya Satya dapat bernapas dengan lega.
"Kita ada di hotel, tadi kamu pingsan. Jadi aku bawa ke hotel saja takut Ayah sama ibuk khawatir dengan kondisi kamu," jawab Satya memberi alasan pada istrinya.
"Tapi, tadi." Rayna mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.
"Tidak apa-apa, Sayang," kamu hanya pingsan.
Satya sengaja berbohong karena dia tidak ingin Rayna kembali shock dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kamu mau mandi dulu?" tanya Satya pada istrinya.
"Tapi, Mas. Pakaian gantiku?" tanya Rayna.
"Kamu tenang saja, tadi aku sudah menyuruh anak buahnya mengantarkan pakaian ganti untukmu. Lagian kalau kamu enggak pakai pakaian juga enggak apa-apa," ujar Satya santai sambil menarik turunkan alisnya.
"Hah? Maksud Mas Satya?" tanya Rayna bingung dan takut.
"Hahaha," tawa Satya pecah saat melihat wajah Rayna yang sudah berubah warna menjadi merah karena menahan malu.
Rayna memutar bola matanya melihat Satya tertawa.
"Mas Satya apaan, sih?" dengus Rayna kesal.
"Sana mandi!" perintah Satya.
"Ya udah aku mandi dulu," lirih Rayna.
Wanita itu bangun dari tidurnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket karena keringat.
Satya memandang punggung istrinya dalam diam.
"Aku akan menahan diri untuk tidak menyentuhmu hingga aku tahu kamu hamil atau tidak ulah perbuatan dosa yang sudah aku lakukan," gumam Satya di dalam hati.
__ADS_1
Tak berapa lama Rayna masuk ke dalam kamar mandi, terdengar seseorang mengetuk pintu.
Satya berdiri dan melangkah ke pintu, seorang pelayan datang membawakan paper bag berisikan pakaian untuk mereka.
"Ini, Tuan," ujar pelayan hotel itu.
"Terima kasih," ujar Satya dan memberi pelayan hotel itu tips dengan dua lembar uang seratus ribuan.
"Terima kasih, Tuan," ucap sang pelayan.
Satya kembali menutup pintu setelah si pelayan pergi.
"Sayang, ini pakaianmu," teriak Satya sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Rayna.
Dia mengulurkan tangannya untuk meraih pakaian yang disodorkan oleh suaminya.
Setelah itu, Satya kembali duduk di atas tempat tidur menunggu Rayna keluar dari kamar mandi.
Rayna keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaiannya, tapi rambutnya masih dibalut dengan handuk.
Satya terpesona melihat penampilan natural sang istri.
Dia melangkah mendekati Rayna lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Kamu begitu cantik," bisik Satya membuat bulu kuduk Rayna berdiri.
"Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Rayna merinding.
Pikirannya telah melayang mengingat perbuatan dosa yang pernah dilakukannya.
"Aku hanya memeluk istriku. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu sebelum kita memastikan perbuatan hina. yang sudah kita lakukan tidak membuahkan hasil yang nista," ujar Satya.
Rayna terdiam.
"Kamu setuju dengan pendirianku?" tanya Satya.
Rayna mengangguk mengiyakan pertanda dia setuju dengan apa yang diinginkan oleh suaminya.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1