
Semua orang yang berkumpul di ruang keluarga pun kaget mendengar teriakan Kayla.
Alex langsung berlari keluar melihat keadaan Kayla.
"Ada apa, Kak?" tanya Alex.
Alex melihat Kayla berdiri mematung, dia tampak shock. Air matanya berlinang membasahi pipinya.
Alex melihat ponsel Kayla terjatuh di lantai, dia melihat panggilan masih tersambung. bergegas Alex mengambil ponsel milik Kayla tersebut.
"Halo, Maaf ini siapa?" ujar Alex setelah menempelkan ponsel milik Kayla di telinganya.
"Maaf apakah ini keluarga dari tuan Raffa?" ujar seorang wanita dari seberang sana.
"Iya, ada apa, ya?" tanya Alex pada wanita tersebut.
"Begini, kami dari pihak rumah sakit ingin menyampaikan bahwa Tuan Raffa baru saja mengalami kecelakaan, saat ini Tuhan Rafa sedang berada di Rumah sakit Semen Padang. Kami ingin melakukan tindakan tapi kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga," ujar wanita itu yang mungkin merupakan seorang suster di Rumah sakit Semen Padang.
"Baiklah, kami akan segera datang ke sana," ujar Alex.
Setelah itu Alex pun merangkul pundak Kayla dan membawanya duduk di sebuah kursi yang terdapat di teras rumah.
"Ada apa, Lex?" tanya Hurry cemas.
Alex memberitahukan kondisi Rafa saat ini pada semua anggota keluarga yang kini tengah berdiri di ambang pintu masuk rumah.
"Yah, ayo kita langsung ke rumah sakit," desak Hurry pada sang suami.
Hendra pun langsung mengambil kunci mobil lalu berangkat ke rumah sakit.
Alex merangkul pundak Kayla dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Raymond dan Alita diminta untuk menyusul belakangan agar mereka bisa memberi kabar pada keluarga yang lain.
Hendra langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, tidak sampai 20 menit jalanan mobil Hendra sudah berada di pekarangan Rumah sakit Semen Padang.
Alex dan Hurry langsung turun dari mobil, Alex meminta Irene untuk memapah Kayla yang masih syok mendengar berita tentang suaminya.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
"Kami keluarga dari Tuhan Rafa," ujar Alex saat berpapasan dengan seorang perawat yang tugas di IGD.
__ADS_1
"Iya, Tuan. mari kita selesaikan urusan administrasinya agar pasien langsung ditindak," ujar perawat tersebut menanggapi.
Alex mengikuti langkah sang perawat dan menyelesaikan berbagai hal yang berurusan dengan administrasi.
Tak berapa lama ke Raffa pun mulai ditindak oleh dokter dan perawat yang bertugas.
Perawat memberitahukan bahwa seorang pria membawa Raffa ke rumah sakit, dalam keadaan tak sadarkan diri. Menurut informasinya Raffa mengalami kecelakaan tunggal di daerah Lubuk Paraku.
Kayla duduk terdiam di sebuah kursi tunggu yang terdapat di ruang IGD bersama Irene yang merangkul pundaknya sebagai bentuk simpati sang sahabat.
Dalam diam Kayla terus meneteskan air matanya, dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada sang suami.
Dia terus mengelus perutnya yang semakin besar, Kayla semakin hancur saat membayangkan nasib yang akan terjadi padanya.
Hurry menatap sendu pada Putri sulungnya. Wanita paruh baya itu pun menghampiri putrinya.
"Bundaaa!" teriak Kayla.
Akhirnya Kayla pun meluapkan kesedihannya dalam pelukan sang Bunda, tangisnya pecah menyayat hati yang mendengarnya.
Irene pun ikut menangis mendengarkan sahabatnya yang terus menangis pilu.
2 jam telah berlalu, dokter masih melakukan tindakan pada Raffa. Namun, Dokter pun belum juga keluar dari ruangan operasi, sesekali perawat keluar masuk mengambil sesuatu yang dibutuhkan.
"Kayla!" pekik Hurry.
Alex yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ruang operasi langsung menoleh ke arah Kayla.
Alex langsung berlari mengejar Kayla, dia pun mengangkat tubuh sang Kakak dan meminta bantuan perawat membawa Kayla ke ruang pemeriksaan.
"Tolong kami, Sus," pinta Alex pada perawat untuk memeriksa keadaan Kayla.
Alex cemas terjadi sesuatu pada kandungan Kayla.
"Baik, Tuan. Kami yakin, Nona hanya syok dan butuh istirahat," ujar perawat sambil memeriksa tekanan darah Kayla.
"Tekanan darah Nona ini melemah, dia harus beristirahat. Kami akan memasang infus agar Nona memiliki tenaga," ujar Perawat tersebut.
Tak berapa lama, Kayla pun tersadar dari pingsannya. Di sana Hurry dan Irene sudah menemaninya.
"Bun, bagaimana keadaan Bang Raffa?" tanya Kayla senang suara pelan.
__ADS_1
"Sabar ya, Nak. Alex masih di sana menunggu kabar dari dokter. Semoga Raffa baik-baik saja," ujar Hurry.
Kayla menatap nanar langit-langit ruangan rumah sakit. Dia bagaikan seorang yang hilang semangat hidup.
"Sayang, istighfar. Ini semua ujian dari Allah. Kita harus sabar menerimanya," ujar Hurry memberi semangat pada Kayla kalau dirinya pun rapuh menghadapi ujian ini.
"Pa, gimana ini? Kita harus cepat sampai Padang," rengek Arumi.
Mereka tengah dalam perjalanan menuju kota Padang. Kemarin sore mereka berangkat ke Payakumbuh karena ada urusan pekerjaan di sana, saat mereka mendapat berita tentang keadaan putranya.
Dia pun langsung berangkat ke kota Padang, hanya saja saat ini mereka tengah terjebak macet di daerah Koto Baru Padang Panjang.
"Sabar, Ma. Kita juga tidak mungkin jalan kaki, sementara itu jalanan masih macet. Saat ini kita hanya bisa berdo'a agar Raffa baik-baik saja," ujar Surya menenangkan istrinya yang sangat mengkhawatirkan sang putra.
"Ya Allah, lindungi putra hamba," lirih Arumi.
Terakhir Alex memberi kabar bahwa Raffa sedang menjalani operasi karena terjadi pendarahan di otaknya.
Arumi tidak bisa membayangkan berbagai hal buruk yang akan menimpa putra kesayangannya. Di sepanjang jalan Arumi terus menangis.
Sementara itu Satya dan Rayna yang berada di daerah Pariaman menyelesaikan urusan perusahaan Surya juga langsung menuju kota Padang setelah mendapat kabar musibah yang menimpa Raffa.
"Bagaimana keadaan kakak ipar saya, Dok?" tanya Alex saat dokter baru saja keluar dari ruang operasi.
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Namun, saat ini kami belum bisa memastikan bagaimana kondisi pasien. Kami akan menunggu reaksi tubuh pasien hingga esok hari agar kami dapat mengetahui tindak lanjutnya," jelas dokter panjang lebar.
"Untuk sementara waktu, pasien akan dirawat di ruang ICU," ujar dokter lagi.
"Tapi, Dok. Nyawa pasien bisa terselamatkan, kan?" tanya Alex memastikan kondisi Raffa baik-baik saja.
"Untuk hal ini kami belum bisa memastikan," jawab Dokter singkat.
"Lakukan apa saja yang bisa menyelamatkan nyawa kakak ipar saya," ujar Alex memohon.
"Kami hanya bisa berusaha, masalah nyawa itu urusan Allah," ujar Dokter menanggapi permohonan Alex.
Bagi seorang dokter kata-kata yang dilontarkan Alex sudah biasa didengarnya dari keluarga pasien yang kritis.
Dokter pun pergi meninggalkan Alex yang kini hanya diam, Alex bingung memikirkan cara untuk menyampaikan keadaan Raffa pada sang kakak yang kini tengah mengandung.
Alex tak sanggup menyampaikan keadaan Raffa pada Kayla.
__ADS_1
"Alex!" panggil Arumi saat baru saja sampai di rumah sakit.
Bersambung...