
Hubungan Raffa dan Kayla semakin dekat, rasa cinta yang awalnya sama sekali tak ada di antara mereka kini terus tumbuh mekar bersemi.
Setiap satu kal dua minggu Raffa rutin mengajak Kayla keluar dari kawasan kampus sekadar membawa Kayla makan di luar bersama atau pergi shoping. Mereka terus menjalin hubungan dengan baik, mereka bagaikan dua insan yang tengah berpacaran dalam ikatan suci.
Hari demi hari terus berlalu, siang berganti malam, hari berganti minggu, dan minggu pun berganti bulan hingga liburan semester pun tiba. Masa-masa ujian semester dapat mereka lewati dengan belajar bersama.
“Liburan kali ini, mama minta kita pulang ke Padang,” ujar Raffa pada Kayla saat mereka tengah menikmati makan malam.
“Kamu mau ikut ke Padang, kan?” tanya Raffa.
“Mhm.” Kayla bingung.
Sebenarnya dia sangat merindukan ayahnya. Meskipun mereka masih sering berkomunikasi dengan menelpon dan video call, tapi dia tidak bisa menahan rasa rindu untuk bertemu dengan sang ayah. Kayla tidak mungkin menolak permintaan mama mertuanya dihadapan sang suami.
“Kenapa?” tanya Raffa heran saat melihat reaksi Kayla.
“Aku rindu ayah,” lirih Kayla takut.
“Sebelum kita pulang ke Padang kita ke Bandung terlebih dahulu, aku juga tahu ayahmu sangat merindukanmu,” ujar Raffa.
Raffa juga sering berkomunikasi dengan ayah mertuanya. Bram selalu menitipkan putri kesayangannya pada Raffa. Oleh karena itu Raffa mengerti rasa rindu yang ada di antara ayah dan anak itu.
“Benarkah?” tanya Kayla dengan mata berbinar.
Raffa mengangguk.
“Besok, siapkan barang-barangmu. Kita akan berangkat besok pagi pukul tujuh,” ujar Raffa memberitahu Kayla.
“Baiklah,” lirih Kayla.
Keesokkan harinya, Kayla dan Raffa berangkat menuju Bandung dengan sopir pribadinya, Satya. Pria muda yang membawa mereka menuju tempat resepsi pernikahan saat acara pernikahan Kayla dan Raffa beberapa tahun lalu.
Satya selalu berada di kota yang sama dengan Raffa, dia akan mengikuti Raffa di mana pun berada tetapi dia hanya mengikuti Raffa dari kejauhan. Dia akan datang di saat Raffa membutuhkannya.
Raffa sengaja meminta Satya untuk mengemudikan mobil agar dia bisa berdekatan dengan sang istri selama perjalanan menuju Bandung.
Raffa turun dari mobilnya,lalu menunggu Kayla yang baru saja keluar dari asrama. Melihat Kayla membawa sebuah ransel di pundaknya, Satya langsung keluar dari mobil bergegas menghampiri Kayla.
“Biar saya yang membawa barang-barang, Nona,” ujar Satya sopan.
Kayla mengernyitkan dahinya bingung, dia melempar pandanga ke arah Raffa yang berdiri di samping mobilnya. Raffa mengangguk memberi kode pada Kayla.
Akhirnya Kayla memberikan ransel yang dipegangnya pada pria yang hampir sama tampannya dengan Raffa.
Raffa membukakan pintu untuk Kayla, lalu Raffa juga ikut masuk dan duduk di samping Kayla.
“Siapa?” tanya Kayla masih penasaran.
“Satya,” jawab Raffa singkat.
“Maksud aku, siapa si Satya itu?” tanya Kayla masih penasaran.
“Dia supir pribadiku sekaligus sahabatku,” jawab Raffa singkat.
“Bang Raffa nggak pernah kasih tahu aku,” ujar Kayla.
“Sekarang udah tahu, kan?” Raffa mencubit pelan hidung Kayla gemas.
__ADS_1
Satya melajukan mobilnya setelah memastikan majikannya duduk dengan nyaman di dalam mobil.
Raffa menarik tubuh Kayla, agar tak ada jarak di antara mereka.
“Malu, Bang,” bisik Kayla sambil melirik ke arah Satya.
“Nggak apa-apa, aku Cuma memelukmu tak lebih dari itu,” gumam Raffa cuek.
Mereka asyik bercerita sepanjang perjalanan, hingga akhirnya Kayla tertidur di dada Raffa karena lelah. Dengan senang hati membiarkan sang istri menggunakan dada bidangnya sebagai tumpuan.
“Kay, kita udah sampai,” bisik Raffa menggoyangkan tubuh Kayla agar terbangun.
“Mhm,” gumam Kayla masih memejamkan matanya.
“Kita udah sampai di rumah kamu,” ujar Raffa.
Kayla mengangkat kepalanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ternyata mobil suaminya telah terparkir di depan rumah keluarga Bramantyo.
“Yuk, turun!” ajak Raffa.
Kayla dan Raffa turun dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Bramantyo.
“Assalamu’alaikum,” ucap Raffa dan Kayla serentak.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Rayna dari ruang keluarga.
Rayna menghambur keluar saat mendengar suara yang tak asing baginya.
“Kakak, aku kangen.” Rayna langsung memeluk kakaknya.
Walaupun ibunya tidak menyukai Kayla, Rayna tetap menyayangi Kayla karena semenjak kecil Kayla menjadi pelindung baginya di mana pun mereka berada.
“Mas Raffa,” sapa Rayna setelah mengurai pelukannya dari sang kakak.
Raffa tersenyum dengan sikap ramah sang adik ipar.
“Ayah mana, Dek?” tanya Kayla.
Dia sudah tak sabar untuk bertemu sang ayah.
“Ayah sama ibu pergi keluar sebentar, Kak. Ayo, masuk!” ajak Rayna.
“Aku udah bereskan kamar kakak,” ujar Rayna.
“Yuk, Bang!” ajak Kayla.
Kayla bingung harus membawa Raffa ke kamar tamu atau membawanya masuk ke dalam kamarnya.
“Bang, kamu mau tidur di kamar aku atau,…” Kayla menggantung ucapannya.
“Ya ampun kakak, masa iya, suaminya di suruh tidur di ruang tamu,” ujar Rayna menanggapi ucapan sang kakak.
Kayla pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raffa hanya tersenyum melihat kepolosan istri.
“Di kamar kamu, dong,” bisik Raffa menggoda istrinya.
Seketika wajah Kayla berubah merah seperti udang rebus, dia malu mendengar Raffa berkata lembut padanya di hadapan sang adik.
__ADS_1
“Cie, Mas Raffa romantis banget!” Rayna ikut menggoda sang kakak.
“Kamu apaan sih?” Kayla mencubit pinggang Rayna kesal.
“Hahaha,” tawa Rayna lalu dia kabur menuju ruang keluarga.
Raffa dan Kayla pun melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Kayla yang berada di lantai dua. Rumah keluarga Bramantyo memang besar, tapi tidak sebesar rumah keluarga Surya.
Kehidupan Kayla dan Raffa memang tak jauh berbeda hanya saja Kayla dan Rayna tidak di fasilitasi mobil per orang. Bram ingin anak-anaknya tumbuh sederhana walaupun mereka hidup terbilang lebih dari kata cukup.
Sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam kamar Kayla yang besarnya hampir sama dengan kamar Raffa.
“Nona, ranselnya.” Bi Narti datang membawakan barang-barang Kayla dan Raffa.
“Makasih, Bi,” ucap Kayla.
Raffa meraih barang-barang yang telah disodorkan Bi Narti. Dia membawa masuk barang-barang milik mereka ke dalam kamar. Raffa meletakkan barang-barang tersebut di samping lemari.
“Nyaman, juga.” Raffa duduk di atas tempat tidur sambil mengedarkan pandangannya pada seluruh sudut kamar milik sang istri.
Di kamar Kayla terdapat satu tempat tidur ukuran besar, dan lemari pakaian serta meja rias di samping lemari pakaian. Di pojok dekat jendela di sana terdapat sebuah meja belajar dengan beberapa buku yang tersusun rapi di sana.
Di dinding kamar, terpajang beberapa kaligrafi nan indah serta beberapa photo Kayla degan teman-temannya.
“Kenapa, Bang Raffa nggak suka dengan kamarku?” tanya Kayla mendekati sang suami.
“Suka,” jawab Raffa.
Tiba-tiba Raffa menarik tangan Kayla dan membawa istrinya menghempaskan tubuh ke atas kasur yang empuk.
“Aku menginginkanmu,” lirih Raffa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Author🙏🙏🙏
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
Terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1