Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 222


__ADS_3

Tapi, ponsel Raymond tidak aktif sama sekali. Berkali-kali dicoba Alita menghubungi sang suami, hasilnya tetap sama.


"Huhft." Alita menghela napas panjang.


Alita pun melangkah masuk ke dalam kamar, dia berusaha untuk memejamkan matanya agar rasa bosannya bisa hilang, tapi entah mengapa dia sama sekali tidak bisa tidur.


"Ish, Raymond ke mana, sih?" gerutu Alita kesal.


Alita uring-uringan hingga jam dinding menunjukkan pukul 12.00 siang.


Sedikitpun belum ada kabar dari Raymond. Alita semakin kesal dia melempar ponselnya ke atas tempat tidur lalu dia melangkah keluar dari kamar mencari angin agar dapat menghilangkan rasa bosan yang sejak tadi telah menyelimutinya.


Di saat Alita baru saja berada di depan pintu kamar, ponselnya berdering pertanda panggilan masuk. Dia menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya melangkah mendekati tempat tidur.


Wajah Alita berubah sumringah saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Tiba-tiba jantungnya berdegup dnegan kencang.


Perlahan dia menekan tombol hijau.


“Ha-halo,” lirih Alita memegang dadanya agar jantung tidak keluar dari sarangnya.


“Tadi kamu menghubungiku?” tanya Raymond datar pada sang istri.


“Mhm, mhm, i-iya,” jawab Alita gugup.


“Ada apa?” tanya Raymond lagi.


“Mhm, eng-enggak ja-di. Ta-tadi aku, a-aku sudah lupa,” jawab Alita asal.


Dia masih gengsi ketahuan sejak tadi menghubunginya karena dia bosan di rumah dan ingin selalu berada di samping sang suami.


“Oh, kamu sudah makan?” tanya Raymond pada istrinya.


“Belum,” jawab Alita jujur.


“Oh, ya udah. Aku jemput kamu, kita makan siang bareng,” ujar Raymond.


“Hah? Benarkah?” ujar Alita riang, dia tak percaya bahwa Raymond akan datang menjemputnya.


“Iya, kamu keberatan?” tanya Raymond takut Alita kembali kesal seperti kemarin.


“Eh, enggak. Aku akan bersiap-siap,” ujar Alita cepat.


Alita tidak mau kehilangan kesempatan untuk makan siang bareng Raymond. Dia benar-benar tidak nafsu makan jika harus makan di rumah seorang diri.


Raymond mengernyitkan dahinya heran dengan sikap Alita, terdengar dengan jelas bahwa istrinya merasa senang diajak makan siang bareng.

__ADS_1


“Ada apa dengan gadis itu?” gumam Raymond di dalam hati.


Raymond menggelengkan kepalanya, lalu dia keluar dari kafe SatRa. Mereka baru saja menyelesaikan pertemuan pembagian tanggung jawab dalam mengelola beberapa cabang kafe SatRa yang ada di Jakarta dan Bandung. Dalam pertemuan itu Alex dan Nick juga ikut.


Raymond pun melajukan mobilnya dan menjemput sang istri untuk diajak makan siang di luar. Pertemuan hari ini sudah selesai, dan mereka sudah dibolehkan melakukan aktifitas lainnya.


Sesampai di rumah, Raymond melihat Alita sudah berada di teras rumah sambil memainkan ponselnya.


Raymond melihat Alita sangat bahagia saat mobilnya berhenti di depan rumah, Alita langsung menghampiri mobil Raymond.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Alita dengan semangat.


Raymond hanya terdiam tak percaya dengan tingkah istrinya, ada sesuatu yang pada diri istrinya bagi Raymond.


“Kita berangkat sekarang?” Alita mengulangi pertanyaannya.


“Mhm, iya,” lirih Raymond mengangguk.


Alita langsung masuk ke dalam mobil sang suami.


“Kita mau makan ke mana?” tanya Raymond menawarkan pada istrinya.


“Terserah, yang penting kita tidak makan di rumah. Aku bosan di rumah seorang diri,” ujar Alita.


“Mhm, ya udah kita makan di kafe SatRa aja,” ujar Alex.


“Oke,” seru Alita.


Raymond pun melajukan mobilnya menuju kafe Satra cabang lainnya, bukan di tempat mereka bertemu tadi.


Sepanjang jalan, Alita menatap lurus ke depan, sesekali dia mencuri-curi pandang pada sang suami yang tampak fokus melajukan mobilnya.


“Kalau diperhatikan Raymond tampan dan baik hati, hanya saja dia terlihat menyebalkan. Coba saja dia tidak menyebalkan, mungkin dengan mudah aku akan jatuh cinta padanya,” gumam Alita di dalam hati.


“Ada apa?” tanya Raymond pada Alita saat dia mendapati sang istri memandangi dirinya.


Alita langsung gugup mendapat pertanyaan mendadak dari sang suami.


“Hah? Eng-enggak ada apa-apa,” jawab Alita gugup.


Wajahnya berubah merah seperti tomat masak karena menahan rasa malu yang sudah kedapatan mencuri pandang pada pria tampan yang kini mengemudikan mobil di sampingnya.


“Terus kenapa sejak tadi kamu liatin aku aneh seperti itu?” tanya Raymond kembali membuat Alita merasa sangat malu.


“Eng-enggak ada, ish ke-ge-er-an banget sih kamu,” bantah Alita berusaha untuk menutupi rasa malunya.

__ADS_1


Dia tak mau nanti Raymond malah merasa besar kepala jika dia tahu bahwa Alita mulai menyukai sang suami.


“Ya heran aja, dari tadi kamu liatin aku. Mana tahu ada yang salah sama diriku,” ujar Raymond lagi.


“Enggak apa-apa, kok.” ALita memalingkan wajahnya.


Kini Alita menoleh ke jendela, dan asyik melihat pemandangan di luar jendela. Raymond tersenyum, dia tahu saat ini istrinya mulai tertarik padanya tapi sang istri masih menjaga harga dirinya.


Mereka sampai di depan SatRa’s kafe pada pukul 13.30 tepat. Raymond memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pemilik kafe dan pengelola kafe. Setelah itu mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe.


Raymond mengajak Alita ke sebuah meja privasi yang di sana terdapat sofa yang memiliki sandaran yang tinggi agar orang-orang tidak dapat melihat dengan leluasa apa yang dilakukan oleh konsumen di sana.


“Susi!” panggil Raymond saat melihat pelayan yang bernama Susi melintasi tempat privasi yang dipilih Raymond.


“Iya, Tuan,” lirih wanita yang bernama Susi.


“Aku mau pesan ayam rica-rica dan jus jeruk,” ujar Raymond memesan makanannya pada Susi.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Raymond pada istrinya.


“Aku pesan yang sama aja sama kamu,” jawab Alita.


“Bawakan pesananku secepatnya, ya,” ujar Raymond pada Susi.


“Baik, Tuan,” lirih Susi.


Susi pun meninggalkan Raymond dan Alita untuk mengambilkan pesanan bosnya tersebut. Di kafe itu Raymond terkenal sebagai manager kafe yang bijaksana dan ramah.


Seketika Alita ingat waktu dia menjadi pelayan di kafe untuk menyamar di depan Raffa seakan dia hidup susah agar dia bisa mendekati Raffa. Dia juga ingat Raymond selalu memberikan gaji lebih yang selalu disebutnya sebagai bonus kinerja padahal gaji tersebut sengaja diberikan atas perintah dari Raffa.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Raymond heran melihat Alita tengah melamun.


Hari ini Raymond merasa istrinya sangat aneh, sikapnya berbeda dengan biasanya.


“Mhm, enggak ada apa-apa,” jawab Alita tersadar dari lamunannya.


“Sepertinya hari ini kamu sangat aneh, apakah ada yang salah?” tanya Raymond lagi pada sang istri.


“Enggak ada apa-apa, jangan ngomong asal,” bantah Alita.


Tak berapa lama seorang wanita datang menghampiri mereka, dia langsung duduk tepat di samping pria yang sudah beristri itu.


“Sayang,” lirih sang wanita.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2