
Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal. Reza menjadi salah tingkah setelah mendengar ledekan Raffa.
mereka pun mulai asyik mengobrol berbagai hal walaupun sesekali ada kecanggungan yang terjadi antara dua pasang anak muda yang belum halal tersebut.
"Kayla, kita makan siangnya di sini aja, ya," ujar Arumi.
Melihat kondisi ruang makan di rumah itu tidak memungkinkan untuk makan bersama, akhirnya Arumi mengusulkan untuk makan di ruang keluarga saja.
"Iya, Ma," sahut Kayla.
"Maaf ya, Ma. Rumah ini belum cukup besar untuk makan bersama," ujar Raffa sendu.
Raffa tidak pernah menyangka, rumah kecilnya akan dikunjungi oleh keluarga dan teman-temannya, sehingga rumah yang awalnya terasa sangat luas bagi Kayla dan Raffa kini terasa sangat sempit.
Kayla melangkah menuju dapur diikuti oleh teman-temannya.
Mereka pun membantu Bunda Hurry dan Mama Arumi untuk menghidangkan makanan di ruang keluarga agar mereka bisa menikmati makan siang bersama.
"Dian, Agung sudah di mana? Apakah urusannya belum selesai juga?" tanya Bunda Hurry pada menantunya di sela-sela menghidangkan makanan.
"Katanya tadi sudah di jalan, Bunda," jawab Dian.
"Oh, gitu baguslah," sahut bunda Hurry.
Tak berapa lama terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah.
Dian langsung melangkah menuju pintu untuk memastikan bahwa suaminya yang datang. Dugaannya benar, dia langsung membuka pintu.
Agung tersenyum saat melihat istrinya sudah menunggu kedatangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Agung menghampiri istri yang berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikummussalam," jawab Dian sambil meraih tangan suaminya.
Dia menyalami dan menciumi pukul tangan sang suami.
"Ayo masuk Bang bentar lagi kita makan bareng, semuanya sudah terhidang," ajak Dian.
"Makasih ya, Sayang," ucap Agung.
Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam rumah, di ruang keluarga sudah terhidang berbagai menu makan siang secara lesehan.
Semua orang yang ada di sana sudah membuat lingkaran untuk menikmati hidangan makan siang buatan Bunda Hurry dan Mama Arumi.
"Ayo, Gung, ikut gabung sini!" ajak Hendra pada putra sulungnya.
__ADS_1
Agung pun ikut bergabung dan duduk di bagian sekelompok pria.
"Alex mana, Gung?" tanya Hurry merasa kecewa putra bungsunya tidak ikut bergabung di acara kebersamaan itu.
"Alex masih sibuk, Bun. Tadi dia bilang tidak bisa ikut kumpul karena masih banyak pekerjaan," jawab Agung.
Raffa menautkan kedua alisnya, dia tidak terlalu memberatkan pekerjaan pada Alex. Terlebih hari ini hari Sabtu yang biasanya persediaan dapur akan diselesaikan pada hari Jum'at.
Kayla melihat raut keheranan yang terpancar dari wajah sang suami. Raffa merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alex.
"Oh, begitu. Tapi nanti sore dia datang, kan?" tanya Hurry penuh harap.
"Kurang tahu, Bun. Tadi dia bilang kalau sempat ke sini," ujar Agung.
"Oh, ya udah. Semoga aja dia sempat datang ke sini, jarang lho kita bisa kumpul seperti ini. Bunda senang kalau kalian berkumpul," ujar Hurry lagi.
"Iya, Mama juga senang berkumpul seperti ini," sahut Arumi setuju dengan ucapan sahabat sekaligus besannya.
Semua orang tersenyum mendengar ucapan dua wanita yang selalu mengayomi mereka.
"Ini sudah boleh dimakan?" tanya Surya yang sudah siap menyendokkan nasi ke dalam piring yang ada di hadapannya.
Seketika tawa pun pecah di ruang keluarga yang di sulap luas untuk sementara karena meja dan kursi disingkirkan ke pinggir agar ruang keluar bisa digunakan untuk makan bersama berhidang yang biasa dilakukan oleh orang Minang di saat ada acara-acara.
Mereka semua asyik menikmati masakan khas Padang yang diracik oleh dua tangan wanita yang sudah lihai dalam memasak.
Hurry dan Arumi sangat bahagia melihat semua yang ada di sana menikmati makanan mereka dengan lahap.
Usai makan, para pria berpindah menuju ruang tamu untuk kembali bercengkrama. Sedangkan para wanita membersihkan piring-piring kotor bekas makanan mereka.
Dian, Gita dan Lisa juga membantu mencuci piring. Sementara itu Kayla, Bunda dan Mama Arumi masuk ke dalam kamar 3R yang sudah bangun.
Sembari Kayla memberi ASI pada Raja, Raju dan Ratu bersama nenek-nenek mereka begitu selanjutnya hingga 3R sudah merasa sangat kenyang.
Setelah itu mereka pun membawa 3R ke luar menuju ruang tamu. Arumi memberikan Raju pada Surya, begitu juga Hurry memberikan Raja pada Hendra.
"Mama sama Bunda mau shalat dzuhur dulu, kita gantian, ya," ujar Arumi lalu menarik Hurry masuk ke dalam kamar yang disediakan Raffa untuk mereka berdua.
Para wanita memilih untuk shalat bergantian.
Kayla dan Lisa sedang masa tidak diperbolehkan shalat karena halangan tertentu, mereka ikut bergabung dengan para pria yang ada di ruang tamu bercengkrama saling berbagi cerita.
"Reza, bagaimana usaha resort kamu sekarang?" tanya Surya pada Reza.
Surya memang tertarik pada dunia pariwisata tapi hingga saat ini dia belum bisa menjamah ranah itu karena keterbatasan waktu.
__ADS_1
Lisa menautkan kedua alisnya saat mendengar pertanyaan Surya pada pria yang kini sudah menyelinap di hatinya.
"Alhamdulillah, lancar Om. Sekarang kami sedang menyiapkan beberapa tempat lagi agar wisatawan dapat menikmati keindahan laut kabupaten Pesisir Selatan," jawab Reza.
Pria yang selalu berpenampilan santai itu melirik ke arah Lisa. Dia yakin saat ini Lisa sedang mempertanyakan maksud dari pertanyaan Papa Raffa.
"Apa maksud Om Surya menanyakan resort pada Reza, apakah dia pemilik resort waktu itu? Tapi, saat itu dia mengaku hanya sebagai seorang karyawan," gumam Lisa di dalam hati.
Lisa merasa kecewa pada Reza, dia merasa sudah ditipu oleh pria yang selalu berpenampilan sederhana itu. Seketika wajahnya terlihat sendu. Hati Reza merasa khawatir saat melihat raut wajah wanita pujaan hatinya bersedih.
"Bagus kalau begitu, nanti kalau kamu cari investor untuk bisnis resort kamu boleh ajak-ajak Om," ujar Surya.
Selama ini Surya tahu bahwa usaha resort yang dirintis Reza merupakan bisnis keluarga yang berdiri secara mandiri sehingga mereka tidak perlu mencari penanam modal di bisnis mereka.
"Baik, Om," lirih Reza.
Reza mulai was-was, dia takut Lisa marah padanya karena selama ini tidak pernah mengungkap jati dirinya.
Sedang asyik mengobrol, Raju menarik kumis Surya.
"Aduh," seru Surya kaget.
"Kayaknya dia kesal sama Kakeknya asyik bicara, dia dicuekin," ujar Raffa menanggapi sikap putra mungilnya.
"Iya, Nak. Kamu marah Kakek cerita sama om-om ganteng itu?" ujar Surya dengan menirukan suara anak kecil.
Semua orang tertawa lucu, kecuali Lisa yang masih saja cemberut.
Akhirnya mereka pun asyik mengajak 3R bermain dengan gaya masing-masing, dalam canda yang dilakukan Reza, hatinya merasa sangat mengkhawatirkan hati Lisa.
Usai para wanita menyelesaikan shalatnya, Bunda dan Arumi mengambil alih 3R, memberi ruang pada para pria untuk melakukan shalat dzuhur.
Keasyikan mengobrol dan bermain, 3R tertidur dalam pangkuan neneknya dan Mama Kayla.
Mereka tak menyadari waktu sore pun sudah menghampiri kebersamaan mereka.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara Alex dari luar.
Raffa bergegas melangkah menuju pintu, Raffa kaget saat melihat Alex datang seorang diri.
"Masuk!" ajak Raffa.
Alex pun melangkah masuk ke dalam rumah kakak iparnya itu. Hurry menatap putranya yang berpenampilan sangat kusut dan tak bersemangat.
"Istrimu mana, Lex?" tanya Hurry tak sabar menanyakan keberadaan Irene pada putranya yang datang seorang diri.
__ADS_1
Bersambung...