Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 126


__ADS_3

Kayla!” teriak Raffa.


Dia sudah mengepalkan tangannya hendak memukul pria yang berani mendekati istrinya.


Kayla yang asyik mengobrol dengan abangnya langsung menoleh ke arah Raffa, dia heran melihat ekspresi suaminya yang kini tengah menahan emosi di dadanya.


Agung juga menoleh ke arah Raffa.


Emosi Raffa seketika hilang saat mengetahui pria yang bersama istrinya adalah Agung.


”Lu, Gung? Kapan datang? Ngapain lu di sini?” tanya Raffa pada Agung.


Raffa menghujani teman SMA nya itu dengan banyak pertanyaan karena dia sudah membuat hatinya panas dibakar api cemburu.


”Gue ada urusan di Jakarta, masalah butik. Eh, bunda malah suruh bawain rendang untuk Kayla, kata Bunda Kayla pasti kangen sama rendang masakn bunda,” jawab Agung santai.


Agung tahu suami adiknya sempat cemburu dengan keberadaannya di kelas bersama Kayla. Agung berani masuk kelas Kayla kkarena tadi masih ada dua orang mahasiswa di kelas itu, dan dia tak menyadari mahasiswa tersebut sudah keluar dari kelas.


“Oh, tapi enggak harus berduaan di sini sama istri gue juga kali, Gung. Takut ada orang lain lihat, jadi fitnah,” ujar Raffa.


“Sorry, Bro. Tadi di sini masih ada mahasiswa, kok. Tapi gue enggak lihat kapan mereka keluar,” jelas Agung.


“It’s ok,” lirih Raffa.


“Oh iya, bunda nanya kapan lagi kalia ke Padang? Bunda kangen sama putrinya,” tanya Agung pada Raffa sambil melirik ke arah adik perempuannya.


“Ya mungkin nunggu liburan semester lagi,” jawab Raffa.


Pekerjaan Raffa yang lumayan padat di Jakarta membuat dirinya tidak bisa lagi mengosongkan waktu untuk pulag ke Padang.


Banyak seminar-seminar yang harus dihadirinya belum lagi kuliah S2 nya, di tambah dengan urusan kafe. Raffa tak bisa lagi mengandalkan kafe pada Satya karena saat ini Satya juga sedang banyak pekerjaan.


“Oh gitu, ya udah biar nanti aku bilang Bunda, kalau kangen sama putrinya, bunda harus datang ke Jakarta,” ujar Agung.


“Ya udah ya, Dek. Abang masih ada urusan, jangan lupa hubungi bunda kalau ada waktu,” ujar Agung izin pamit.


“Iya, Bang. Bentar lagi aku juga kuliah,” ujar Kayla.


“Oh iya, aku juga mau keluar, aku Cuma mau bilang sama kamu. Selesai kulih kamu main ke asrama bareng teman-teman dulu. ya. Aku mau ngurusin masalah kafe,” ujar Raffa


“Cuma mau bilang itu doang?” tanya Kayla heran.


“Iya,” jawab Raffa.


“Kenapa enggak telpon aku aja?” tanya Kayla heran.


“Coba deh kamu cek ponsel kamu,” perintah Raffa ada istrinya.


Kayla pun membuka tasnya dan mengambil ponsl miliknya. Dia melihat lebih dari 10 kali panggilan tak terjawab dari sang suami.


“Maaf,” lirih Kayla sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


”Yuk, Gung!” aja Raffa.

__ADS_1


Dua pria itu pun keluar dari kelas Kayla meninggalkan Kayla yang kembali melanjutkan pekerjaannya menyelesaikan tugas-tugasya yang tertinggal.


Di luar kelas, Raffa dan Agung pun asyik mengobrol membahas berbagai usaha dan bisnis yang kini mereka tekuni, serta mereka juga membahas crita masa lalu saat mereka masih duduk di bangku putih abu-abu.


“Gue enggak nyangka, ternyata istri gue adik lu, tak di sangka-sangka ternyata dunia ini terlalu sempit,” ujar Raffa panjang lebar.


Raffa masih asyik bercerita sementara itu, Agung terpana melihat gadis yang meggunakan hijab berwarna biru. Gadis itu tengah melangkah semakin mendekatinya, lalu melintas tepat di sampingnya.


Hati Agung berdebar kencang saat gadis itu tersenyum ke arah mereka, perasaan Agug ada yang berbeda melihat senyuman ramah terhadap mereka. Padahal Dian, Gita dan Lisa tersenyum pada suami sahabat mereka.


”Ya Allah, apakah wanita itu jodohku?” gumam Agung di dalam hati.


Dia tidak tahu entah perasaan apayang kini dirasakannya. Perasaan ini tak pernah datang di hatinya saat melihat wanita lain.


“Gung, lu dengarin gue enggak, sih?” tanya Raffa pada Agung yang terlihat tengah melamun dan pikirannya melayang entah ke mana-mana.


“Hah? LU ngomong apa emangya?” tanya Agung pada Raffa saat tersadar dari lamunan panjangnya.


“Aduuuh, jangan bilang lu kesambet setan di kampus ini,” oceh Raffa bercanda.


“Ish, kesambet setan mana mungkin, kesambet bidadari iya,” gumam Agung pelan, tapi Raffa masih bisa mendegar suara kakak iparnya itu.


“Kesambet bidadari mana lu?” tanya Raffa penasaran.


“Ah, apaan sih, ngaco lu,” ujar Agung.


“Ya udah gue pamit dulu, masih banyak urusanyang harus gue selesaikan,” ujar Agung mengalihkan pembicaraan.


Agung tidak mau menjadi bahan ledekan adik iparnya jika adik iparnya itu tahu dirinya baru saja berjumpa dengan bidadari syurga yang dirinya ta kenal sama sekali, tapi hatinya tersangkut pada bidadari itu.


Dian, Gita dan Lisa masuk ke dalam kelas. Kayla menyambut mereka dengan senyuman ramah.


“Udah pada kenyang?” tanya Kayla santai seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka.


Ketiga sahabatnya saling melempar pandangan bingung dengan sikap Kayla yang berubah 180 derajat. Tadinya dia yang ketus pada mereka sekarang dia sudah mulai bersikap ramah seperti biasa.


Dian menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahu. Seolah memberi isyara pada kedua sahabatnya untuk tidak mengambil pusing.


Mereka pun kembali melanjutka materi kuliah saat dosen sudah masuk lagi ke kelas. Mereka melupakan apa yang terjadi tadi pagi, dan meganggap hal itu tak pernah terjadi.


Sebelun dzuhur semua mata kuliah sudah usai, ketiga sahabat Kayla bersiap untuk kembali ke asrama.


“Guys, aku ikut ke asrama boleh, enggak?” tanya Kaylameminta izin pada sahabatnya.


“Memangnya selama ini, kami pernah larang kamu ke asrama?” ujar Gita balik bertanya.


“Aku ikut kalian, ya,” ujar Kayla memasang wajah memelasnya.


“Ayo!” ajak Dian.


“Bang Raffa enggak jemput kamu, Kay?” tanya Gita.


“Dia ada urusan ngurusin kafe,” jawab Kayla.

__ADS_1


“Ya udah, yuk. Nanti makan siangnya di asrama aja, ya. Aku suruh katyawan kafe buat antarkan makan siang kita nanti,” ujar Kayla pada sahabatnya.


Kayla juga rindu makan bersama ketiga sahabatnya di asrama, karena sejak pindah ke rumah Kayla belum pernah makan bareng lagi di asrama.


"Asyik makan gratis lagi nih," celetuk Gita senang.


Paling tidak dia tidak perlu keluar uang untuk makan siang.


"Enak, punya teman istri orang kaya," timpal Lisa.


Mereka pun tertawa mendengar ocehan Gita dan Lisa yang selalu terus terang.


Di perjalanan Kayla sudah memesan makanan yang mereka inginkan, agar sesampai di asrama mereka tidak perlu menunggu lama.


Di kamar asrama, Kayla mengenang masa-masa dia berada di kamar itu.


"Aku jadi kangen tidur di sini," lirih Kayla.


"Ya udah, tidur di sini aja, Kay," ajak Gita.


"Kasihan dong Bang Raffa sendirian di rumah," jawab Kayla.


Sedang asyik mengobrol, ponsel Kayla berdering.


Dia pun langsung mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Apa?" Kayla kaget.


Bersambung


.


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏


__ADS_2