Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 63


__ADS_3

Satya membungkam mulut gadis itu dengan sebuah ciu*man. Sedari tadi dia berusaha untuk menahan diri untuk tidak melakukan hal itu.


Namun, sikap Rayna membuatnya lepas kendali.


Satya menikmati ciu*man pertamanya dengan gadis yang ternyata beberapa hari ini sudah mulai mengganggu hari-harinya.


Manisnya bibir gadis yang memakai lipglos rasa chery membuta Satya semakin ingin membungkam bibir itu.


Seketika jantung Rayna berhenti berdetak, dia merasa sulit untuk bernapas.


Akal sehat dan jiwanya kini tengah berperang antara membiarkan pria itu memberi kenikmatan sensasi yang tidak pernah sama sekali dirasakannya atau mendorong tubuh pria yang sudah berani mengambil ciu*man pertamanya.


Tok tok tok, terdengar seseorang menggedor kaca mobil, seketika Satya menghentikan kegiatannya.


Wajahnya memerah padam karena malu.


Satya menurunkan kaca jendela mobilnya, seorang petugas polisi lalu lintas memberi hormat padanya.


"Siang, Pak," sapa petugas tersebut.


"Siang, Pak," balas Satya gugup.


Sementara itu Rayna hanya menundukkan kepalanya menahan malu dan merutuki kebodohannya yang menerima perlakuan Satya tanpa memberikan perlawanan.


"Maaf, anda sudah melanggar peraturan lalu lintas parkir di sembarangan tempat." Petugas polisi memberi peringatan pada Satya.


"I-iya, Pak." Satya mengakui kesalahannya.


"Boleh perlihatkan SIM dan STNK nya?" pinta petugas pada Satya.


"Sebentar." Satya mengambil dompetnya dan mengeluarkan surat kendaraan yang diminta oleh petugas.


Satya menyodorkan surat tersebut kepada petugas.


Petugas tersebut memproses kesalahan Satya.


"Kali ini, kesalahan anda kami maafkan. Untuk ke depannya tolong perhatikan tempat parkir," ujar Petugas Polisi itu lalu mengembalikan surat yang diambilnya tadi.


"Terima kasih, Pak," ucap Satya.


Satya pun menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya.


Sepanjang jalan mereka hanya diam seribu bahasa, tak satu orang pun yang berani bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku tidak bisa mengontrol nafsuku saat berada di samping gadis ini. Dia pasti marah besar dengan perbuatanku," gumam Satya di dalam hati.


Satya mulai merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Satya memasuki pekarangan rumah keluarga Bramantyo.


Satya menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah.


Sebelum turun dari mobil, Satya menggenggam erat tangan Rayna. Menatap dalam pada gadis itu.


"Maafkan aku," lirih Satya.


Rayna hanya diam.


Sejurus kemudian, Satya membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Dia belum sempat mendengar jawaban dari Rayna.


Pria itu mengeluarkan barang bawaan Rayna dari mobil lalu memberikannya pada Bi Nur yang sudah berdiri di teras.

__ADS_1


Rayna keluar dari mobil dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dia langsung melangkah menuju kamarnya kebetulan Ayah dan Ibunya sedang tidak berada di rumah.


****


Liburan tinggal beberapa hari lagi, Raffa dan Kayla memutuskan untuk berangkat ke Bandung hari ini karena mereka sudah berjanji pada Ayah Bram untuk mampir ke Bandung dulu sebelum ke Jakarta.


Sementara itu Rayna sudah sampai di Bandung beberapa hari yang lalu.


"Sudah siap?" tanya Raffa pada Kayla yang tengah menutup resleting travel bag mereka.


"Sudah," jawab Kayla sambil mengangguk.


"Sini aku yang bawa," ujar Raffa.


Mereka pun bersiap-siap untuk keluar dari kamar untuk berpamitan.


Kayla menggandeng tangan suaminya, saat ini Raffa tidak lagi memikirkan tentang Zahra yang sempat hadir dalam hidupnya beberapa hari yang lalu.


"Ma, Pa, kami pamit," ujar Raffa berpamitan saat mereka sudah berada di lantai satu.


"Barangnya sudah siap semua, Sayang?" tanya Arumi pada putra dan menantunya.


"Sudah, Ma," jawab Raffa dan Kayla serentak.


"Kalian di antar Pak Hanif, ya," ujar Surya.


"Aman, Pa," sahut Raffa.


"Padahal mama mau antar kalian, tapi papa kalian bentar lagi ada meeting," keluh Arumi.


"Enggak apa-apa, Ma. Nanti kalau mama ada waktu main ke Bandung atau Jakarta ya, Ma," ujar Kayla.


"Ya udah, Ma, Pa. Kami pamit." Raffa menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Mama pasti bakalan kangen banget sama kamu," ujar Arumi.


"Kayla juga, Ma. Kayla pasti bakal kangen sama mama," ujar Kayla menanggapi.


Setelah berpamitan, Raffa dan Kayla melangkah keluar dari rumah kediaman keluarga Surya.


Di teras rumah, Pak Hanif sudah menunggu pasangan suami istri itu.


Mereka akan di antar oleh supir pribadi Surya, karena Satya telah berangkat ke Jakarta terlebih dahulu.


"Raffa!" panggil Surya saat Raffa hendak masuk ke dalam mobil.


"Iya, Pa." Raffa melangkah menghampiri papanya yang berdiri di teras rumah.


Sedangkan Kayla masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.


"Ada apa, Pa?" tanya Raffa.


"Raffa, sebelum kamu pergi papa hanya ingin berpesan, ingatlah saat ini kamu sudah memiliki istri. Lupakanlah Zahra, jangan lukai hati Kayla dengan memikirkan seseorang yang kamu sendiri tidak tahu dia masih hidup atau sudah tiada," Nasehat Surya pada putranya.


Surya dan Arumi sudah sangat menyayangi Kayla. Mereka tidak mau menantunya terluka karena sikap putranya.


"Iya, Nak. Dengarkan pesan papa ya, Nak," tambah Arumi.


"Iya Pa, Ma," jawab Raffa mengangguk.


"Ya sudah, hati-hati dan selalu ingat pesan papa," ujar Surya sambil menepuk pundak putranya.

__ADS_1


Raffa pun melangkah menuju mobil, dia masuk ke dalam mobil. Pak Hanif pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Surya.


Sepanjang perjalanan, Raffa dan Kayla tak banyak bicara. Kayla hanya merebahkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.


Semakin hari Kayla semakin manja dengan suaminya, dia sudah terbiasa menggunakan dada bidang itu untuk tumpuan kepalanya.


Pada pukul 13.40 pesawat yang ditumpangi Raffa dan Kayla mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara.


Satya sudah menunggu Raffa dan Kayla di Bandara.


Raffa dan Kayla langsung naik mobil setelah mereka melihat Satya yang tengah berdiri di samping mobilnya.


"Bagaimana, Bro? Apakah semuanya aman?" tanya Raffa pada Satya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Semuanya aman, gue udah cek semua laporan," jawab Satya singkat.


"Oh, syukurlah kalau begitu." Raffa tersenyum lega.


Beberapa hari mereka di Padang membuat Satya tidak dapat terjun langsung dalam bisnis yang mereka rintis.


Kayla memandangi dua pria yang ada di mobil itu secara bergantian.


"Sayang, kamu ngomongin apa sih?" tanya Kayla mulai penasaran.


Hingga detik ini yang Kayla tahu, Raffa merupakan seorang motivator yang sering mengisi acara di berbagai seminar.


"Mhm, nanti sebelum kembali ke Jakarta aku akan kasih tahu kamu," jawab Raffa tersenyum pada istrinya.


Sejak Raffa mulai kuliah di Jakarta, dia dan Satya mulai merintis bisnis yang berkecimpung dalam dunia kuliner.


Mereka sudah memiliki beberapa kafe yang tersebar di Jakarta dan Bandung.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu, aman?" tanya Raffa.


"Gadis itu tidak aman, Bro," jawab Satya spontan.


"Gadis siapa?" tanya Kayla penasaran.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote

__ADS_1


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2