
"Assalamu'alaikum," ucap Rayna saat dia sudah berada di teras rumahnya.
Bram bergegas melangkah keluar saat mendengar suara Rayna di luar rumah.
"Wa'alaikummussalam," lirih Bram.
Bram melihat putrinya berdiri di depan rumah dengan menundukkan kepalanya.
"Rayna! Kenapa kamu baru pulang sekarang? Kamu dari mana?" teriak Bram penuh emosi.
Semalam dia tidak bisa tidur, karena anak gadisnya belum pulang.
"Yah, tenanglah dulu! Kita tanyakan baik-baik di dalam, bukan di sini," nasehat Rita berusaha menenangkan suaminya.
Kayla mendengar Rayna yang baru pulang, dia keluar dari kamarnya tapi hanya berdiri di depan kamarnya mendengarkan pembicaraan Rayna dan kedua orang tuanya dari lantai dua.
"Katakan, Rayna! Dari mana saja kamu?" tanya Bram.
Kali ini nada suaranya sudah mulai normal.
"Maafkan aku, Yah. A-aku, kemarin menginap di rumah Sandra, karena ibunya sakit, dia tidak bisa mengantarkanku pulang," jawab Rayna takut.
Sedari tadi dia sudah berusaha mencari ide untuk berbohong agar dia bisa menutupi kesalahannya.
"Kamu bisa hubungi Ayah atau kakakmu, kenapa tidak kamu lakukan?" tanya Bram tidak percaya.
"Awalnya aku hendak menghubungi ayah, tapi karena kondisi ibu Sandra yang parah membuat Rayna tidak sempat menghubungi ke sini," jawab Rayna penuh penyesalan.
Kayla menatap dalam ke arah adiknya, dia tahu saat ini sang adik tengah berbohong.
"Ngapain?" tanya Raffa yang tiba-tiba keluar dari kamar.
"Sssttt," desis Kayla sambil meletakkan telunjuknya di bibir.
Raffa menautkan kedua alisnya.
"Rayna sudah pulang, sekarang dia sedang diinterogasi oleh Ayah dan Ibu," jelas Kayla.
Kayla memberi penjelasan tanpa suaminya bertanya.
"Kita ke ruang makan duluan, yuk. Aku mau bantu Bi Nur menyiapkan sarapan," ajak Kayla menarik tangan suaminya.
Mereka pun melangkah menuruni anak tangga. Saat Kayla baru saja menginjak lantai satu, dia berpapasan dengan Rayna.
"Dek," lirih Kayla.
Kayla menatap dalam pada wajah sang adik yang sembab.
"Kakak, a-aku ke kamar dulu." Rayna langsung melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Kayla sengaja membiarkan Rayna pergi, dia yakin saat ini Rayna sedang tidak baik-baik saja.
Setelah sarapan, Raffa mengobrol santai dengan Bram. Hari ini Bram sengaja tidak berangkat ke kantor karena dia ingin menghabiskan waktunya bersama anak dan menantunya di rumah.
Tok tok tok, Kayla mengetuk pintu kamar Rayna.
"Dek, kakak bawakan kamu sarapan," ujar Kayla dari luar pintu kamar.
Tak berapa lama gadis belia itu membukakan pintu untuk sang kakak.
Rayna kembali melangkah mendekati tempat tidurnya setelah membuka pintu, Kayla memasuki kamar itu, lalu meletakkan nampan berisi sarapan itu di atas meja belajar.
__ADS_1
Dia melangkah mendekati sang adik.
"Dek," lirih Kayla.
"Kakak," isak Rayna.
Dia langsung memeluk tubuh sang kakak, Rayna menangis dalam pelukan sang kakak.
Kayla membiarkan Rayna meluapkan rasa sedihnya, dia membelai lembut kepala sang adik.
"Ada yang ingin kamu ceritakan?" tanya Kayla pada Rayna setelah memastikan sang adik mulai tenang.
"Kak, aku benci diriku. Aku wanita bodoh!" Rayna memaki dirinya sendiri.
"Maksud kamu apa, Dek?" tanya Kayla penasaran.
Kayla semakin mencemaskan sang adik, di benaknya tengah menduga-duga kejadian buruk yang telah menimpa sang adik.
"Kak, aku sudah dijebak oleh Sandra." Rayna mulai menceritakan kejadian yang menimpanya malam tadi.
"Mereka memberikanku obat perangsang, agar aku menggila dan ingin melakukan hubungan terlarang dengan Jordy teman sekolah yang tidak terlalu aku kenal," ujar Rayna panjang lebar.
Dia belum menceritakan kehadiran Satya saat dirinya semakin gila.
"Lalu, kamu sudah melakukan hal itu?" tanya Kayla shock.
Dia bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati sang ayah saat mengetahui putrinya sudah kehilangan kehormatannya.
Rayna mengangguk pelan.
Jantung Kayla mendadak bergemuruh. Dia marah dan kecewa, emosinya mulai memuncak.
Kini air matanya mulai membasahi pipinya, dia sendiri terluka dengan apa yang sudah menimpa sang adik.
Lama Kayla terdiam membisu, saat ini wajah ayahnya penuh kekecewaan terlintas jelas dibenaknya.
Hatinya hancur.
"Kak, maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Rayna semakin hancur melihat tanggapan Kayla yang kini masih mematung.
"Beritahu aku di mana aku bisa menemui Sandra dan Jordi, aku akan memberi perhitungan padanya," ujar Kayla penuh emosi.
"Jangan, Kak. Aku masih ingin sekolah," rengek Rayna.
"Kalau kamu mengandung bagaimana? Mereka harus bertanggung jawab," bentak Kayla penuh emosi.
Baru kali ini Kayla membentak adiknya. Wanita yang selalu bersikap lemah lembut pada adiknya ini tidak bisa mengendalikan emosi.
"Tapi, Kak. Aku tidak melakukan hal itu dengan Jordy," lirih Rayna jujur.
Kayla mengernyitkan dahinya, dia mencengkram lengan Rayna dengan kuat.
"Lalu, dengan siapa kau melakukan dosa besar itu, Rayna?" tanya Kayla dengan nada penuh penekanan.
Kini mata Kayla mulai memerah memancarkan kemarahan yang tidak dapat dikendalikannya.
"Saat Jordy ingin menyentuhku. Satya datang menyelamatkanku, tapi obat yang sudah menjalar di tubuhku membuat Satya tidak dapat menolak apa yang aku inginkan," jelas Rayna terus terang.
"Apa?" Kayla memutar bola matanya tak percaya.
Dia tidak menyangka orang kepercayaan suaminya akan merenggut kehormatan adik kesayangannya.
__ADS_1
"Ini tidak bisa dibiarkan! Satya harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya," ujar Kayla tegas.
Kayla pun hendak keluar dari kamar Rayna, sang adik bergegas menarik tangan Kayla.
"Kak, aku mohon jangan seperti ini. Satya sudah berjanji akan bertanggunjawab." Rayna memohon pada sang kakak.
Kayla terdiam, dia menatap tajam ke arah adinya yang kini hanya menunduk. Rayna sadar dengan kesalahan yang sudah dilakukannya.
Saat ini Rayna hanya bisa memohon bukan menentang.
"Ada hubungan apa kamu dengan Satya," tanya Kayla mengintimidasi.
"A-aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," jawab Rayna pelan.
"Lalu kenapa--?" Kayla tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.
Saat ini kepalanya terasa ingin pecah dan dia sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih.
Amarah dan emosi kini telah menguasai dirinya.
Kayla duduk di bangku meja belajar Rayna, dia mencoba menenangkan dirinya sambil terus beristighfar memohon ampun atas dosa dirinya dan dosa sang adik.
Kayla merasa menyesal tidak bisa menjaga adik satu-satunya, sebagai seorang kakak dia sudah gagal mendidik dan menjaga adik kesayangannya.
Satu jam berlalu, mereka hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kayla menghela napasnya kasar, dia berdiri.
"Makanlah terlebih dahulu, kita akan cari solusi masalah ini secepatnya," ujar Kayla.
Dia hendak melangkah keluar dari kamar sang adik, berada di sana membuat dirinya semakin pusing.
"Kak, aku mohon jangan beritahu hal ini pada Mas Raffa," lirih Rayna memohon.
Kayla menghentikan langkahnya, dia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan permintaan sang adik.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1