Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 183


__ADS_3

Kayla menatap Alita, dia tak menyangka sang adik masih saja berusaha mendekati suaminya, walaupun Kayla selalu bersikap manis pada adik kandungnya itu.


"Tuan, bolehkah tuan pindah ke bangku itu?" tunjuk Raymond tiba-tiba datang.


Dia meminta Raffa pindah ke kursi di samping kanan Kayla yang masih kosong.


Dengan senang hati Raffa berdiri, dan membiarkan Raymond duduk di samping Alita lalu dia melangkah duduk di samping kanan sang istri.


"Sayang, ambilkan makanan buat aku, ya," bisik Raymond menggoda Alita.


Dia mengembangkan senyumannya membuat Kayla dan Raffa terkekeh melihat Raymond yang berusaha mendekati Alita.


Mereka setuju Raymond mendekati Alita, karena mereka juga sudah sangat mengenal pria tampan dan memiliki tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.


Meskipun Raymond tidak sesempurna Raffa dan Satya tapi setidaknya dia masih tahu dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Sayang sayang kepala lu petang, gue enggak suka lu panggil-panggil gue pake sayang," ketus Alita dengan nada yang ditahan agar yang lainnya tak mendengar gerutuannya terhadap Raymond.


"Aku panggil kamu sayang, karena aku memang menyayangi kamu," jawab Raymond santai.


Ucapan Raymond membuat Alita semakin kesal pada Raymond. Alita ingin beranjak dari tempat itu tapi perutnya yang terasa lapar membuat dia mengurungkan niatnya untuk pergi.


Dengan berat hati, Alita pun melakukan apa yang diminta oleh Raymond.


"Terima kasih, Sayang," ucap Raymond setelah Alita mengambil makanan untuknya.


Alita hanya memasang wajah ketus ke arah Raymond.


Di sisi Lain Lisa duduk di samping kiri Gita, dan Nick sengaja duduk di samping kanan Gita. Saat mendapat kesempatan, Nick berusaha mendekati gadis yang selama ini telah mengisi hatinya.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Nick pada Gita.


Gita kaget saat pria yang sudah mulai mengisi relung hatinya ingin duduk berdekatan dengannya setahunya Nick memang tidak ikut tapi tiba-tiba dia ada di tempat yang sama dengan seluruh rombongan.


Gita pun tersenyum lalu mengangguk pertanda dia mengizinkan pria tampan sahabat dari suami sahabatnya itu untuk duduk di sampingnya.


Pria itu pun langsung duduk setelah mendapat izin dari gadis yang dicintainya.


Nick membalikkan piring yang ada di hadapannya, lalu melihat-lihat berbagai hidangan yang tersaji di atas meja.


"Mau aku ambilkan?" tanya Gita dengan malu-malu.


Nick menoleh ke arah Gita, dia tersenyum lalu mengangguk.


"Dengan senang hati kalau kamu bersedia," ujar Nick dengan senang hati.


Gita pun mengambil piring yang ada di hadapan Nick, lalu mengambilkan makanan yang diinginkan oleh Nick.


"Kamu mau apalagi?" tanya Gita setelah dia mengambilkan beberapa menu makanan di dalam piring milik Nick.

__ADS_1


"Sudah cukup, walau masih kurang," lirih Nick.


Gita mengernyitkan dahinya.


"Masih kurang apa?" tanya Gita lembut.


"Kurangnya disuapin," bisik Nick menggoda Gita.


Wajah gadis itu pun langsung berubah memerah menahan malu, dia tersipu mendengar ucapan dari Nick.


Nick semakin gemas melihat wajah gadis yang dicintainya bersemi merah.


"Terima kasih," ucap Nick.


Dia pun mulai menyantap makanan yang sudah ada di dalam piringnya.


Gita pun mengambil makanan untuk dirinya lalu mulai menikmati menu masakan Padang yang rasanya sangat terkenal di seluruh Indonesia.


Semua rombongan muda-muda di penginapan ini mulai menikmati santapan makan siang, begitu juga para orang tua di penginapan satunya lagi.


Semua orang menikmati awal liburan mereka dengan makan siang yang lezat.


Setelah selesai makan semua orang beranjak dari ruang makan.


"Lis, aku mau ke depan sebentar," ujar Gita pada sahabatnya.


Sebelum Nick beranjak dari tempat duduknya, pria itu sempat berbisik menunggu Gita di depan penginapan.


Lisa mengerti saat ini semua teman-temannya sudah memiliki pasangan, dia memilih untuk beranjak dari tempatnya setelah semua orang pergi.


"Maaf, Nona. Apakah sudah bisa saya bersihkan tempat ini?" tanya seorang pria datang menghampiri Lisa yang masih berada di ruang makan dan tengah asyik memainkan ponselnya.


"Eh." Lisa kaget mendengar suara pria yang mengajaknya mengobrol.


"Boleh," lirih Lisa.


Pria itu menggunakan celemek di tubuhnya, dia mulai membersihkan meja makan.


Pria itu menyusun satu per satu piring kotor yang tergeletak begitu saja di atas meja.


Lisa merasa kasihan dengan pria itu, akhirnya dia pun mulai membantu pria itu menyatukan satu per satu menu yang sama di satu tempat, lalu membawa piring kotor ke tempat pencucian piring.


Semua bekas makanan semua orang dibersihkan. Lisa bersama pria berpenampilan rapi dengan celemek di tubuhnya agar pakaiannya tidak kotor saat melakukan tugasnya.


"Biar saya yang mencuci piringnya," ujar sang pria merasa tidak enak dengan bantuan yang dilakukan oleh Lisa padanya.


"Enggak apa-apa, aku bisa bantu-bantu," ujar Lisa masih memaksa.


Lisa merasa kasihan pada pria itu, penginapan sebesar itu hanya dia seorang yang melayani tamu yang datang serombongan.

__ADS_1


"Tapi, Nona. Ini sudah menjadi tugas saya," sang pria merasa tidak enak hati.


"Enggak apa-apa, lagian aku juga sedang tidak ada kegiatan," ujar Lisa.


Akhirnya mereka pun asyik mencuci tumpukan piring kotor itu.


"Lihatlah, pakaian Nona jadi basah," ujar sang pria merasa tidak enak hati setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka


"Ah, santai saja. Lagian ini bisa diganti," ujar Lisa.


"Terima kasih, Nona. Kalau boleh tahu namanya siapa Nona?" tanya sang pria tanpa mengulurkan tangannya.


"Aku Lisa," jawab Lisa.


"Aku Reza. Salam kenal, Nona Lisa. Terima kasih atas bantuannya," ucap Reza.


"Sama-sama," ujar Lisa.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu, ya," ujar Lisa lagi.


Dia pun pamit meninggalkan pria yang tergolong tampan dan bersahaja walaupun dia seorang pelayan.


Lisa senang bisa berkenalan dengan Reza, pria itu memiliki kharisma tersendiri di dirinya.


Lisa melangkah menuju kamarnya dan Gita, sedangkan Reza keluar dari penginapan.


Penginapan terlihat sepi, mungkin semua orang tengah beristirahat di kamar masing-masing. Mereka merasa lelah setelah menempuh perjalanan sekitar 3-4 jam.


"Kamu ke mana aja, Lis?" tanya Gita yang sudah berada di kamar.


"Kamu di sini?" tanya Lisa heran melihat Gita sudah berada di kamar.


"Iya, tadi hanya ngobrol sebentar dengan Nick di depan," jawab Gita.


"Ngobrol apa? Rencana mau nikah, ya?" tanya Lisa penasaran.


"Yee, kamu apa-apaan, sih?" gerutu Gita.


Dia malu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya.


"Ya, kali aja. Semua sahabatku kebelet nikah," ujar Lisa asal.


"Enggak juga kali, lagian Nick masih nabung buat masa depan kami nantinya," ujar Gita jujur.


"Hah? Kamu serius?" tanya Lisa semakin penasaran hubungan Gita dan Nick sudah sejauh apa.


"Iya, Nick itu enggak mau aku kerepotan kuliah dan ngurus rumah tangga, jadinya dia mau aku tamat dulu baru nikahin aku," tutur Gita jujur.


"Syukurlah kalau begitu, jadinya aku masih ada teman di asrama," ujar Lisa lega.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2