Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 216


__ADS_3

Alex menautkan alisnya mendengar jawaban sang istri.


“Kamu marah ya sama aku?” tanya Alex.


“Ya iyalah, kamu tega mendiamkan aku. Sejak kita berada di bandara hingga kita sampai di sini. Kamu menganggap aku apa?” tanya Irene meluapkan kekesalannya pada Alex yang sejak tadi ditahannya.


“Toh, aku cuekin kamu, kamu juga asyik baca cerita bersambung yang ada di aplikasi ponselmu. Itu artinya kamu yang cuekin aku,” protes Alex pada istrinya.


Dia juga kesal terhadap istrinya yang sejak tadi asyik membaca novel di ponselnya. Sehingga Alex malas mengajak istrinya berbicara. Alex merasa Irene juga mengabaikannya.


“Alah, itu alasan kamu aja. Kalau marah sama tante Rita ya marahnya sama dia jangan lampiaskan kemarahanmu sama aku, dong,” ujar Irene kesal.


Alex menghela napas panjang. Dia sadar, tak seharusnya dia bersikap seperti tadi karena Irene sama sekali tidak salah dalam masalah ini. Orang yang patut disalahkan adalah tante Rita yang memiliki mulut berbisa.


“Ren, maafin aku,” lirih Alex mulai menyesal.


“Mhm,” gumam Irene.


Irene masih kesal dengan sang suami, tapi dia sudah terlanjur hanyut dalam cerita bersambung yanga sedang dibacanya, jadinya dia tidak terlalu menanggapi permintaan maaf sang suami.


“Huhhft,” dengus Alex.


Alex pun memilih naik ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya. Dia melirik Irene yang masih asyik dengan ponselnya, akhirnya Alex membalikkan tubuhnya membelakangi sang istri dan berusaha memejamkan matanya dan akhirnya Alex pun tertidur dengan pulas.


Saat jarum jam sudah menunjukkan ke angka 11 malam, Irene masih asyik dengan ponselnya, bahkan sesekali dia mengusap air mata yang menetes di pipinya karena cerita yang dibacanya mengandung bawang.


Alex merasa terganggu dengan Irene yang berbalik ke kiri dan ke kanan mencari posisi nyaman dalam membaca.


“Astaghfirullah, Ren.” Alex langsung bangkit dan mengambil posisi duduk sambil bersandar di sandaran tepat tidur.


Seketika Irene menghentikan kegiatannya yang tadinya asyik membaca cerita bersambung di ponselnya.


“Kenapa?” tanya Irene santai.


“Kamu belum tidur juga ?” tanya Alex kesal.


“Mhm, belum. Masih seru,” jawab Irene masih santai.


“Udah deh, Ren. Kamu istirahat, jangan asyik baca novel aja! Ini sudah malam,” ujar Alex mengingatkan sang istri.

__ADS_1


“Mhm, dikit lagi. Masih tanggung aku penasaran,” ujar Irene membantah.


“Sini kan ponselmu,” ujar Alex menengadahkan tangannya meminta ponsel milik istrinya.


“Ish, kamu apaan, sih?” bantah Irene tidak suka.


“Irene, sinikan ponselmu! Sekarang sudah waktunya tidur,” ujar Alex lagi.


Kali ini Alex berbicara dengan nada yang tegas, akhirnya Irene pun memberikan ponselnya pada Alex.


Alex mengambil ponsel yang diberikan oleh istrinya, lalu dia meletakkan ponsel itu di bawah bantalnya. Alex kembali memejamkan matanya, dia tidak memperdulikan Irene kini yang merasa kesal padanya.


“Ih, kamu nyebelin banget sih, Lex,” gerutu Irene.


Irene pun berusaha memejamkan matanya, tapi karena masih penasaran dengan cerita yang ada di ponselnya dia susah untuk terlelap.


Berkali-kali dia membolak-balikkan tubuhnya agar dapat tertidur tapi tidak juga bisa tidur, sehingga lagi-lagi Alex terganggu dengan ulah sang istri.


“Kamu kenapa lagi sih, Ren?” tanya Alex heran melihat tingkah istrinya.


“Aku enggak bisa tidur,” jawab Irene.


“Huhfft.” Irene mendengus kesal.


Setelah susah payah Irene berusaha agar bisa tertidur akhirnya dia dapat tertidur pulas setelah jam 1 lewat.


Keesokan paginya, Irene merasakan matanya begitu berat, rasa kantung kembali menyerangnya di saat waktu subuh sudah masuk. Dengan langkah berat Irene bangun dan shalat subuh, setelah itu dia pun kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur di saat Alex sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kafe.


Hari ini Alex belum masuk kuliah, jadi dia harus berangkat ke kafe untuk menyelesaikan berbagai hal yang selama ini sudah terabaikan karena liburan yang mereka jalani.


“Ya ampun, Irene!” teriak Alex kesal melihat istrinya yang kembali tertidur setelah shalat subuh.


“Ada apa, sih?” tanya Irene terbangun karena mendengar suara teriakan Alex.


Irene lupa diri bahwa dirinya saat ini sudah menikah. DIa bersikap seolah dia masih lajang dan belum bersuami.


“Irene, bangun. Kamu lupa kalau kita sudah menikah?” tanya Alex mulai kesal.


Dengan mata berat, Irene pun bangun dari tidurnya.

__ADS_1


“Kenapa sih, pagi-pagi udah marah-marah enggak menentu begitu?” tanya Irene kesal.


“Apakah salah aku menegur istriku yang enak-enak tidur di saat suaminya sedang bersiap-siap berangkat bekerja?” ujar Alex mengingatkan Irene agar bersikap tidak sesuka hatinya.


Memang setelah Alex dan Irene menikah, mereka langsung berlibur ke Pesisir Selatan. Setelah itu tinggal di rumah Bunda Hurry tanpa melakukan banyak hal. Mereka masih banyak bersantai.


Setelah berada di Jakarta mereka mulai menjalani kehidupan nyata mereka, jadi ini adalah hari pertama Irene menjadi seorang istri di rumah sang suami dengan rutinitas nyata yang akan dijalani sang suami setiap harinya,


Irene terdiam, dia tahu ini adalah hari pertama dia menjadi istri di rumah sang suami. Itu artinya Irene harus melakukan berbagai hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri pada lumrahnya bukan tidur sesuka hati.


“Sudahlah, udah mau jam 7. AKu harus berangkat sekarang, nanti keburu macet,” ujar Alex setelah dia rapi untuk berangkat menuju kafe.


Alex keluar dari kamar, dia melangkah menuju ruang makan. Di sana, Mak Ijah sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan Alex.


“Lho, Nak Alex. Nak Irene mana?” tanya Mak Ijah khawatir.’


Mak Ijah mengira Irene kurang sehat setelah melakukan perjalanan dari Padang menuju Jakarta.


“Di kamar, Mak.” Jawab Alex singkat.


“Kenapa masih di kamar? Apakah dia sakit?” tanya Mak Ijah semakin khawatir dengan keadaan Irene.


“Enggak, Mak. Bentar lagi dia juga akan keluar,” ujar Alex.


Mak Ijah dapat melihat kekesalan Alex pada istrinya, tapi dia memilih untuk diam.


“Ayo, makan, Nak,” ajak Mak Ijah pada Alex setelah Alex duduk di kursi yang tersedia di dalam ruang makan tersebut.


Mak Ijah mengambil piring yang sudah tersedia di atas meja, lalu menuangkan nasi goreng di atas piring itu, dia mengambil sepotong telur mata sapi lalu tak lupa memberi beberapa sayuran di atas piring. Setelah itu Mak Ijah memberikannya pada Alex.


Alex mengambil piring yang disodorkan Mak Ijah padanya. Dia langsung menyantap makanannya dengan lahap, Alex malas memikirkan Irene yang tidak jelas entah sudah bangun atau masih nyenyak tidur lagi.


“Kenapa Nak Irene belum juga datang?” gumam Mak Ijah pelan tapi masih dapat didengar jelas oleh Alex.


“Mak Ijah jangan pikirin Irene, yuk kita makan,” ajak Alex.


Alex memilih untuk tidak memperdulikan Irene saat ini. Alex akan membicarakan masalah pagi ini dengan Irene setelah dia pulang bekerja hari ini.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2