Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 155


__ADS_3

Hurry dan Hendra saling melempar pandangan. Mereka tak percaya apa yang dikatakan oleh putra bungsu mereka, mana mungkin Alex mau menikah sementara itu Abangnya belum memikirkan sebuah pernikahan.


Agung ikut kaget mendengar permintaan adiknya, tapi dia memilih untuk diam dan tak banyak bicara. Agung tak ingin berdebat dengan Alex di depan kedua orang tuanya.


“Kamu serius, Lex?” tanya Hendra tak percaya.


“Serius, Yah. Aku tidak ingin Irene dijodohkan dengan pria lain,” jawab Alex jujur.


“Apa? Irene mau dijodohkan lagi?” tanya Bunda Hurry tak percaya.


Hurry sempat tahu bahwa Alex membawa kabur Irene tiga hari sebelum pernikahannya dengan pria yang dijodohkan dengannya. Sehingga Kayla yang menjadi tumbal di acara pernikahan itu.


“Iya, Bun. Aku sayang banget sama Irene, aku enggak mau kehilangan Irene,” rengek Alex pada kedua orang tuanya.


Hendra melirik Agung, pertanda dia meminta pendapat dari putra sulungnya. Agung mengangkat bahunya saat sadar dirinya sedang dilirik oleh sang ayah.


“Gung, bagaimana pendapatmu?” tanya Hendra terus terang.


Tatapan Hendra tak bisa membuat Agung langsung menjawab pertanyaannya.


“Mhm, buat Agung terserah Alex saja, Yah. Lagian, aku saat ini belum punya calon buat nikah,” jawab Agung santai.


“Bun, menurut kamu bagaimana?” tanya Hendra pada sang istri.


“Bunda masih keberatan memberi izin Alex untuk menikah, karena saat ini Alex masih kuliah,’ jawab Hurry jujur dari hatinya.


“Bun, Alex mohon. Bunda tahu kan bagaimana Alex mencintai Irene?” Alex berusaha meyakinkan sang Bunda.


“Tapi Lex. Kamu masih kuliah, kamu belum kerja, mau kasih makan apa anak orang?” tanya Hurry memberi alasan dia menolak permintaan putranya.


“Bun, aku sudah punya pekerjaan, minggu depan aku akan mulai bekerja,” jawab Alex.


“Huhfft.”Hurry menghela napas panjang.


Dia tidak bisa membantah keinginan putranya.


“Lalu, jika Ayahnya Irene memaksa Irene menikah demi bisnisnya. Apa yang mau kamu banggakan pada ayah Irene nantinya?” tanya Hendra.


“Yah, aku punya tabungan. Kalau Ayah Irene mau, aku kasih semua tabunganku demi Irene, Yah.” Alex berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.


Hendra tampak kewalahan membantah keinginan san putra. Dia menghela napas panjang.

__ADS_1


“Ayah sama Bunda belum bisa menjawab permintaanmu sekarang, Kami akan mempertimbangkan masalah ini terlebih dahulu,” ujar Hendra dengan bijak.


“Baiklah, Yah. Aku akan menunggu jawaban Ayah dan Bunda, Alex harap Ayah dan Bunda mempertimbangkan hati Alex yang akan terluka jika kehilangan Irene,” tutur Alex penuh harap.


Alex terlebih dahulu melangkah keluar dari ruang makan, dia memilih untuk menenangkan pikirannya di dalam kamar.


“Yah, Bun, aku masuk kamar dulu,” ujar Agung izin keluar dari ruang makan.


Agung malas membahas persoalan Alex. Lebih baik dia melakukan hal-hal yang lebih berguna dari pada berdebat dengan kedua orang tuanya.


Hubungan Agung dan Alex memang tidak terlalu dekat, karena mereka sempat salah paham atas hilangnya Ara. Untuk menghindari kesalahpahaan dengan adik bungsunya Agung selalu memilih untuk menghindar.


Setelah selesai makan malam, Hurry dan Hendra memilih duduk bersantai di teras kamar mereka. Hurry merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. Walaupun Hendra sudah berumur lebih setengah abad, tapi postur tubuhnya masih kokoh untuk sandaran kepala sang istri.


“Yah, Bunda takut kalau kita menolak permintaan Alex, dia melakukan hal-hal yang di luar logika.” Hurry mulai membuka pembicaraan.


“Ayah juga memikirkan hal itu, Bun. Selama ini alex tidak pernah meminta sesuatu yang dia inginkan, Ayah tidak sanggup menolak permintaan Alex, Bun.” Hendra mengusap wajahnya bimbang.


“Kalau kita mengizinkan Alex menikah, itu artinya kita membiarkan dia melangkahi Abangnya,” ujar Hurry bimbang.


“Nah itu, sejak tadi ini yang aku pikirkan, Bun. Aku kasihan sama Agung, selama ini dia sibuk bantuin Bunda mengurus butik hingga dia lupa memikirkan masalah cintanya,” ujar Hendra.


Hendra dan Hurry sama-sama memikirkan perasaan Agung.


“Kamu jangan gila, Bun. Kita ingin mengantisipasi perjodohan kekasih anak kita yang satunya dengan cara menjodohkan putra kita yang satu lagi dengan orang lain. Ayah tidak setuju,” bantah Hendra secara terang-tengan.


“Yah, bunda punya suplayer yang memiliki putri sholehah, Bunda pernah ketemu dia sekali. Bunda suka kalau dia jadi menantu kita,” ujar Hurry penuh semangat.


“Bunda, kamu pernah tidak memikirkan perasaan Agung?” tanya Hendra.


“Kalau kita pilihkan wanita baik-baik, aku yakin Agung tidak menolak. Lagian mereka akan cocok untuk mengembangkan bisnis orang tuanya sebagai suplayer dengan butik kita,” ujar Hurry lagi memberi alasan.


“Tapi, Bun,--“


“Bentar, Yah. Aku coba telpon teman aku dulu,” sela Hurry penuh semangat.


Sebenarnya Hurry memang menginginkan Agung menikah karena umurnya yang sudah cukup untuk berumah tangga, tapi selama ini Hurry tak pernah melihat putra sulungnya itu menyukai seorang cewek pun. Bahkan dia tidak pernah membahas masalah wanita sama sekali.


Jauh berbeda dengan putra bungsunya yang sudah menjalin hubungan cinta dengan kekasihnya sejak dia masih duduk di bangku SMA.


Hurry mengambil ponselnya lalu menghubungi temannya tersebut.

__ADS_1


“Hallo, Jeng,” ujar Hurry saat panggilan sudah tersambung.


“Hallo,” sahut seorang wanita di seberang sana.


“Apa kabarnya? Maaf mengganggu sudah malam,” ujar Hurry.


“Enggak apa-apa, Jeng. Kebetulan saya lagi santai.


“Oh, begini, Jeng. Saya mau curhat.” Hurry mulai melancarkan misinya.


“Silakan, udah lama kita tidak mengobrol seperti ini,” balas Fatimah.


“Begini, Saya pernah cerita punya dua putra. Nah, sekarang itu putra bungsu aku meminta izin untuk menikah, sedangkan putra sulungku belum ada keinginan untuk menikah. Saya jadi bingung harus bagaimana,” ujar Hurry terus terang.


Hendra yang jenuh mendengarkan obrolan istrinya langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar, dia membaringkan tubuhnya lalu bersiap-siap untuk tidur.


“Carikan jodoh aja untuk si sulungnya, Jeng,” usul Fatimah.


“Nah itu, saya bingung mau cari jodoh buat putra sulung saya,” keluh Hurry memelas.


“Mhm, bagaimana, ya? Saya mau lho jadi besan, Jeng. Tapi, saya takut putra Jeng enggak mau sama putri saya,” tutur Fatimah jujur.


Fatimah yang juga sempat berjumpa dengan Agung merasa tertarik untuk menjadikan putra sulung pelanggannya itu sebagai menantu.


“Mhm, serius? Bagaimana kalau kita pertemukan mereka dulu?” usul Hurry bersemangat.


“Boleh, tapi kapan?” tanya Fatimah ikut bersemangat.


“Nanti saya yang atur,” ujar Hurry.


“Oke, kabari lagi kalau udah dapat harinya,” balas Fatimah.


“Siap, ya udah. Kalu begitu, udahan dulu ya, Jeng,” ujar Hurry.


Mereka pun memutuskan panggilannya. Hurry langsung melangkah mendekati sang suami.


“Yah,” lirih Hurry membangunkan suaminya.


“Mhm,” gumam Hendra.


“Bagaimana kalau kita kasih syarat, Alex boleh menikah kalau Agung mau dijodohkan.” Hurry menyampaikan idenya pada sang suami.

__ADS_1


“Apa? Kamu serius, Bun?” sahut Hendra kaget.


Bersambung...


__ADS_2