
“Di mana aku?” ujar Alita bingung.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya semalam.
“Siapa yang membawa aku ke sini?” lirih Alita.
Gadis it uterus bertanya-tanya dalam hati hingga Raymond masuk ke dalam kamar tempat Alita berada. Raymond yang tadi sibuk di dapur menyiapkan sarapan kaget saat mendengar teriakan Alita.
Dia mengkhawatirkan gadis yang semalam terpaksa dibawanya ke rumahnya karena sang gadis tertidur dengan lelap di kafe. Dia tidak mungkin menunggui Alita tertidur hingga bangun, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Alita kembali ke rumahnya.
“Ada apa?” tanya Raymond cemas.
“Apa yang kau lakukan padaku?” tanya Alita dengan nada yang tinggi.
Alita sudah membayangkan pria yang kini berada di hadapannya sudah berbuat sesuatu yang tidak senonoh pada dirinya.
Raymond mengernyitkan dahinya, dia mencoba mencerna ucapan Alita barusan.
“Hahahaha,” tawa Raymond lepas saat memahami maksud Alita.
Alita menautkan kedua alisnya, dia heran dengan sikap Raymond yang masih bisa tertawa di saat dia tengah mencemaskan harga dirinya.
“Kenapa kamu malah tertawa?” bentak Alita kesal melihat ekspresi Raymond yang santai.
“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Raymond masih dengan ksenyuman di wajahnya.
“Kamu jangan kurang ajar,Pak. Mentang-mentang kamu pernah jadi bos aku, bukan berarti kamu bebas untuk memperlakukan aku sesuka hatimu,” ujar Alita semakin kesal.
“Hei, aku belum mengerti dengan apa yang kau maksud?” ujar Raymond meminta penjelasan dari Alita sambil terkekeh.
Alita terdiam, dia bingung dengan apa yang kini terjadi. Alita mencoba melihat dirinya di pantulan cermin lemari yang ada di kamar itu. Dia melihat dirinya masih mengenakan pakaian yang lengkap dan hijab yang masih terpasang di kepalanya, penampilannya sangat kusut, tapi masih mengenakan busana.
“Kamu pikir aku akan berbuat yang aneh-aneh padamu?” tanya Raymond.
“Sudahlah, bersihkan dirimu. Di dalam lemari itu ada pakaian adik perempuanku, kamu bisa mengenakan pakaiannya untuk sementara waktu,” ujar Raymond.
Setelah itu Raymond pun keluar dari kamar itu, dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai.
“Ya ampun, ada apa denganku?” gerutu Alita di dalam hati.
Dia merutuki kebodohannya yang mengira sudah terjadi hal-hal yang tak pantas di antara dirinya dan mantan bosnya.
Satu jam berlalu, Alita sudah selesai membersihkan dirinya, dia mencoba mengenakan pakaian adik Raymond yang ada di dalam lemari. Alita bingung harus mengenakan pakaian yang mana, karena pakaian yang ada di dalam lemari itu tak jauh berbeda modelnya seperti yang sering di pakai oleh Akifa dan Kayla.
__ADS_1
Alita yang terbiasa mengenakan pakaian muslimah tapi masih pas-pasan merasa tidak nyaman dengan pakaian yang ada di dalam lemari adik Raymond.
Akhirnya Alita memilih sebuah gamis santai degan bahan jeans dan menggunakan hijab segiempat lalu dipasangnya seperti biasa dia mengenakan hijab.
Alita belum berani keluar dari kamar itu, dia memilih duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel miliknya.
Di sana terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Hurry dan Akifa. Dia embali mengingat kejadian tadi malam, rasa sakit saat mengetahui istri pria yang dicintainya adalah kakak kandung yang selama ini dirindukannya kembali membuat dadanya terasa sesak.
Tak berapa lama dia memainkan ponselnya, terlihat di layar ponselnya ada panggilan masuk dari Alex. Alita memang takut dan segan pada kakak sepupunya itu karena Alex mengetahui semua kenakalan yang dilakukan Alita semenjak duduk di bangku SMA.
Alex selalu mengancam dirinya akan memberitahukan semua tingkahnya pada Om Rahman jika gadis itu tidak menuruti perintahnya.
Dengan berat hati, Alita mengangkat panggilan dari Alex.
“Kamu di mana?” tanya Alex saat panggilan sudah tersambung.
“Mhm, a-aku,” lirih Alita bingung harus menjawab apa.
Jika Alita mengatakan dia sedang di rumah seorang pria, maka Alex akan marah besar padanya.
“Katakan, di mana kamu sekarang?” tanya Alex lmengulangi pertanyaannya.
“A-aku di di-ru-rumah teman,” jawab Alita gugup.
Alex memang sangat perhatian pada Alita, sebagai seorang kakak laki-laki bagi Alita, dia tidak ingin adik perempuannya itu melangkah dan berbuat hal-hal yang tidak pantasdilakukan oleh seorang wanita.
Dia memang ekstra memperhatikan pergaulan Alita yang memang diberi kebebasan oleh om Rahman.
Alita bingung harus berbuat apa, tak berapa lama Raymond megetuk pintu kamar tempat Alita berada.
“Sarapan dulu!” ajak Raymond berteriak dari luar kamar.
Alita langsung membuka pintu kamar, ”Aku harus pulang sekarang juga,” ujar ALita.
“Ada apa? Kamu terlihat cemas,” tanya Raymond.
“Aku harus pulang sekarang,” ujar Alita.
Alita pun melangkah ke luar dari rumah Raymond.
“Tapi aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,” ujar Raymond menghentikan Alita yang hendak pergi dari rumahnya.
“Sudah tidak ada waktu, aku harus pergi,” ujar Alita.
__ADS_1
Alita tak lagi memperdulikan Raymond yang memaksa dirinya untuk sarapan bersamanya terlebih dahulu.
Alita melangkah meuju taman tempat dia berjumpa dengan Raymond kemarin, lalu dia pun mengirimkan pesan google maps pada kakak sepupunya itu.
Tak menunggu lama, Alex pun datang menjemputnya. Alex tidak langsung membawa Alita pulang, diaikut duduk di bangku panjang tempat Alita duduk.
Sejenak mereka hening dengan pikiran masing-masing.
“Dek,” lirih Alex mulai membuka topic pembicaraan.
“Mhm.” Alita menoleh pada kakak sepupunya itu.
“Bunda sudah menceritakan semuanya padaku,” ujar Alex.
“Lalu,” lirih Alita.
Alita sudah tahu apa yang aka dikatakan Alex, Alita sadar. Semua anggota keluarga esar sangat kehilanga Ara saat dia di culik 15 tahun yang lalu. Alex adalah salah satu yang paling terluka kehilangan Ara, karena Alex dan Ara bagaikan saudara kembar yang selalu menjalani hari-hari berdua.
“Kamu mau marah padaku, Bang?” tanya Alita.
Alex diam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alita.
“Apakah aku salah membenci wanita yang menjadi istri dari pria yang selama ini aku cintai?” bentak Alita mulai meluapkan apa yang sebenarnya terpendam di dalam hatinya.
Alex menggelengkan kepalanya tak percaya.
“Di saat aku memiliki peluang untuk mendapatkan cinta pria yang kucintai, dia hadir sebagai istri pria itu,” tutur Alita jujur.
“Aku benci istri Raffa,Bang. Dia telah menghancurkan impianku untuk mendapatkan cintanya.” Alita mulai menangis mengeluarka isi hatinya.
“Al,” lirih Alex.
Alex mulai mengerti perasaan Alita saat ini.
“Kamu harus sadar, Raffa sudah memilii istri, kamu tidak bisa mendeatinya lagi,” ujar Alex memberi pengertian.
“Lalu, kamu mau aku menerima Kayla sebagai kakakku, dan pria yang kucintai sebagai kakak iparlku?” lirih Alita.
Alex mengheal napasnya panjang.
“Al, kamu tidak boleh egois. Walau bagaimanapu Kayla adalah Ara yang selama ini kita rindukan,” nasehat Alex pada adik sepupunya.
“Entahlah, Bang. Biarkan waktu mengobati hatiku yang terluka,” lirih Alita.
__ADS_1
Tak jauh dari tempat mereka berada seseorang mendengarkan apa yang diungkapkan oleh Alita.