
“Assalamu’alaikum,” ucap Hurry saat memasuki ruangan tempat Fatimah berada.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Fatimah.
Dia berdiri menyambut Hurry dan keluarganya.
Agung langsung mencari sosok gadis di ruangan itu, tapi Agung tidak menemukan seorang gadis di ruangan itu.
“Silakan duduk,” ujar Fatimah pada Hurry dan keluarganya.
Hurry dan keluarganya pun duduk di sofa yang tersedia di hadapan sofa tempat keluarga Fatimah duduk.
“Kenalkan, Hur. Ini suamiku, dan putra sulungku,” ujar Fatimah.
Hurry mengernyitkan dahinya, dia belum menemukan putri Fatimah.
“Putriku sedang ke toilet,” ujar Fatimah menjawab rasa penasaran Hurry yang terlihat mencari seseorang.
“Oh,” lirih Hurry.
Mereka pun saling berkenalan.
“Saya senang, mendapat kabar dari istri saya tentang perjodohan ini,” ujar Hidayat memulai pembicaraan.
“Semoga saja anak-anak kita setuju dengan perjodohan ini, kami tidak perlu memaksa anak-anak kita,” ujar Hendra menanggapi ucapan Hidayat.
“Benar,” ujar Hidayat setuju dengan ucapan Hendra.
“Assalamu’alaikum,” ucap seorang gadis dari pintu ruangan VVIP.
Sontak semua mata tertuju pada gadis berhijab lebar dan menggunakan gamis longgar penutup auratnya.
Dia menundukkan wajahnya saat menyadari tamu ibunya sudah berada di ruangan tersebut.
“Wa’alaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
Gadis itu melangkah masuk lalu duduk di samping ibunya. Agung menatap sang gadis tanpa berkedip. Dia terpesona dengan wajah anggun sang gadis yang kini duduk tepat di hadapan mereka.
“Nah ini, Gung. Calon kamu,” ujar Hurry pada putra sulungnya setelah gadis itu duduk di hadapan Agung.
Agung hanya diam, dia tak menyangka gadis anggun yang ada di hadapannya adalah gadis yang selama ini sudah mencuri hatinya.
“Agung setuju, Bun. Dia cinta pertamaku,” tutur Agung jujur tanpa ditanya.
Agung tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikahi wanita yang sudah mengganggu hari-harinya beberapa hari terakhir ini.
Hurry, Hendra dan Alex kaget mendengar penuturan Agung secara tiba-tiba. Mereka tak menyangka Agung yang awalnya menolak perjodohan ini, sekarang menerima begitu saja.
“Gung, kamu yakin?” tanya Hurry heran.
“Iya, Bun,” jawab Agung tegas.
“Alhamdulillah,” lirih Hurry dan Hendra bersamaan.
__ADS_1
Alex tersenyum bahagia,itu artinya masalahnya dapat terselesaikan.
“Dian? Bagaimana dengan kamu?” tanya Hidayat pada putrinya.
Gadis yang ditanya hanya diam, dia semakin menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Diam pertanda setuju?” tanya Fatimah pada putrinya.
“Mungkin kita perlu memberi waktu mereka berdua untuk saling mengenal satu sama lain sebelum menikah,” ujar Hidayat.
“Baiklah, masalah pernikahan nanti biar Hurry dan Fatimah yang mengaturnya,” ujar Hendra lega.
“Saya ikut saja, Pak,” sahut Hidayat.
Setelah itu mereka pun menikmati makan siang bersama, Agung sesekali mencuri pandang pada gadis yang sudah mengisi hatinya dan kini dia akan dijodohkan dengan gadis tersebut.
Setelah acara makan siang, semua keluarga memilih untuk pulang terlebih dahulu dan meninggalkan Agung dan Dian di resto agar mereka bisa saling mengenal lebih jauh.
Di perjalanan pulang, Alex terlihat sumringah.
“Alhamdulillah, Yah. Agung menerima perjodohan ini. Katanya tadi Dia adalah cinta pertamanya, dia ketemu Dian di mana, ya?” ujar Hurry penasaran.
“Ayah juga enggak tahu, Bun.” Hendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Eh, bentar. Kalau enggak salah anak itu teman Kayla,” ujar Hurry mencoba mengingat-ingat tiga teman Kayla yang sempat kumpul di rumah Kayla waktu itu.
“Nah, mungkin di sana dia ngeliat putrinya Fatimah,” ujar Hendra menduga-duga.
“Ayah, Bunda. Sekarang hal itu tidak penting, toh Bang Agun sudah menerima perjodohan ini,” ujar Alex bahagia.
“Kita langsung ke rumah Kayla aja ya, Lex. Bunda kangen sama Kayla,” pinta Hurry pada putra bungsunya.
“Iya, Bun,” sahut Alex.
Hari ini Alex sangat bahagia, itu artinya dia bisa menikah dengan Irene. Saat ini permasalahannya adalah menghadapi ayah kekasihnya.
Mereka sampai di depan rumah Kayla sebelum ashar, Alex menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Kayla.
Mereka turun dari mobil, Ayah hendra mencermati rumah yang lumayan luas dengan pekarangan yang tertata rapi. Ini baru pertama kalinya Hendra datang ke rumah putrinya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Hurry sambil mengetuk pintu rumah putrinya.
Tak berapa lama mereka menunggu, terdengar langkah seseorang mendekati pintu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Kayla sambil membukakan pintu rumahnya.
Kayla kaget saat melihat bundanya tengah berdiri di hadapannya, dia tak menyangka Bunda Hurry datang dengan Ayah Hendra dan Alex.
“Bunda,” pekik Kayla bahagia.
Kayla langsung memeluk tubuh sang Bunda dengan erat.
“Aku kangen, Bunda,” bisik Kayla .
__ADS_1
“Sama, Sayang. Bunda juga kangen,” ujar Hurry.
“Ayo masuk, Bun, Ayah, Lex,” ajak Kayla.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Kayla.
“Siapa, Sayang?” tanya Raffa yang baru saja keluar dari kamarnya.
Raffa kaget saat mendapati orang tua sang istri tegah datang mengunjungi mereka.
“Bunda, Ayah, apa kabar?” tanya Raffa pada kedua orang tua sang istri.
Dia mengabaikan keberadaan Alex di sana.
“Baik, Nak,” jawab Hendra.
Kayla membawa keluarganya langsung masuk menuju ruang keluarga agar mereka bisa mengobrol santai.
“Kapan Bunda dari Padang?” tanya Kayla berbasa-basi.
“Tadi pagi,” jawab Hurry.
“Ada urusan apa Bunda sampai bela-belain datang ke Jakarta? Di tambah Ayah juga ikut?” tanya Kayla penasaran.
“Bunda dan Ayah bosan di Padang,’ jawab Hurry.
Hurry masih menutupi rencana perjodohan Agung dan pernikahan Alex dari putrinya.
Tak berapa lama mereka mengobrol, Fitri keluar dari kamar lalu menyiapkan minuman dan makanan ringan agar keluarga besar Hendra itu dapat nyaman mengobrol dan bercerita satu sama lainnya.
“Silakan, Bun. Yah,” ujar Fitri setelah menghidangkan minuman dan makanan ringan.
“Makasih, Nak,” lirih Bunda Hurry.
“Sama-sama, Bun.” Fitri pun duduk di single sofa ikut bergabung dengan keluarga besar Kayla.
Mereka asyik mengobrol membicarakan berbagai hal sebagai pertanda melepaskan rasa rindu yang sudah lama tak berjumpa.
“Lex, aku dengar Irene mau dijodohkan lagi sama putra kolega bisnis paman Wisnu, apa itu benar?” tanya Kayla tiba-tiba.
Beberapa hari yang lewat Kayla sempat berkirim pesan dengan sepupunya itu.
Alex melirik ke arah Ayah dan Bundanya.
“Benar, Kak. Makanya aku pusing harus berbuat apa?” jawab Alex.
“Kebangetan paman Wisnu, punya anak satu-satunya dijadikan tumbal buat memajukan bisnisnya,” gerutu Raffa kesal.
Kayla menoleh ke arah sang suami heran mendengar ucapan sang suami.
“Bang, jangan ngomong gitu.” Kayla mencubit pinggang Raffa.
“Sayang, tapi itu kenyataannya, kan? Coba kemarin Alex yang bawa kabur Irene pasti yang nikah sama aku Irene bukan kamu. Tapi aku berterima kasih banget sama Alex udah bawa kabur Irene, karena usahanya memperjuangkan cintanya sama Irene menjodohkan aku sama cinta pertamaku,” ujar Raffa sambil merangkul pundak Kayla.
__ADS_1
Kayla tersipu malu mendengar ucapan sang suami. Ayah dan Bunda tertawa mendengar ocehan sang menantu sementara itu Alex hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Bersambung…