
"Kenapa ayah mempertanyakan hal ini?" tanya Kayla heran.
"Ayah hanya heran, saat kamu tak sadarkan diri tiba-tiba kamu bereaksi dan sadar setelah wanita itu datang mengunjungimu. Ikatan bathin antara kamu dan dia, jelas menunjukkan kalian memiliki satu ikatan," ujar Bram mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Mhm, kalau boleh jujur. Kayla merasa sangat dekat dengan bunda Hurry. Tapi, Kayla tidak tahu ada kedekatan apa antara aku dengannya," tutur Kayla jujur mengungkap apa yang dirasakannya.
"Sayang, ayah juga berpendapat sama denganmu. Semoga Allah memberikan titik terang jati dirimu sesungguhnya, ayah ingin kamu berjumpa dengan kedua orang tuamu sebelum ayah tiada," lirih Bram.
"Kenapa ayah bicara seperti itu? Bagiku saat ini dengan adanya kalian bersamaku sudah membuatku bahagia," ujar Kayla tidak suka mendengar Bram berbicara seperti itu.
"Ayah ingin melihat kamu bahagia, Nak." Bram tersenyum pada putrinya.
"Aku sudah bahagia, Yah. Jika suatu hari nanti Allah mengizinkan aku berjumpa dengan keluarga kandungku maka kebahagiaanku akan sempurna," ujar Kayla.
"Aamiin, semoga do'amu terkabul ya, Nak," ujar Bram.
"Terima kasih, Yah," lirih Kayla.
Ayah dan anak itu pun melanjutkan obrolannya dengan topik lainnya.
"Ehem." Raffa berdehem.
Dia ikut bergabung dengan kedua ayah dan anak yang sedang asyik mengobrol.
"Bang Raffa," lirih Kayla.
"Sini, Nak Raffa," ajak Bram.
"Asyik sekali obrolannya, sampai-sampai tak menyadari keberadaanku," ujar Raffa.
"Hehehe," kekeh Kayla dan Bram bersamaan.
Raffa ikut bergabung dengan mereka, lalu ikut berbincang-bincang hingga malam mulai larut.
"Sudah malam, kamu istirahatlah," perintah Bram pada putrinya.
"Iya, Yah." Kayla mengangguk.
"Kalau begitu, Raffa sama Kayla masuk ke kamar dulu, Yah," ujar Raffa.
"Iya, Nak Raffa. Mhm, ayah ucapkan terima kasih kamu sudah menjaga Kayla dengan baik. Ayah ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian, dengan perhatianmu dan kasih sayangmu pada Kayla membuat ayah tak menyesali permintaan ayah pada Kayla untuk menggantikan Irene dalam pernikahan itu," tutur Bram dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Raffa yang harus berterima kasih pada ayah yang telah menyuruh Kayla untuk menggantikan Irene, karena dengan hal itu, aku dapat menikahi seorang wanita yang sholehah," ujar Raffa menanggapi ucapan ayah mertuanya.
Bram tersenyum.
"Kami masuk duluan, Yah. Setelah ini ayah juga masuk, nanti masuk angin," ujar Kayla.
Sepasang suami istri itu pun melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung memasuki kamar mereka yang sudah berpindah di lantai satu.
"Sayang, aku mencintaimu," bisik Raffa di telinga Kayla saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Kayla membalikkan tubuhnya, saat ini mereka berada dalam posisi saling berhadapan.
"Bang." Kayla menatap nakal pria yang ada di hadapannya.
Cup
Kayla menjijitkan kakinya lalu mengecup bibir sang suami sekilas.
Setelah itu Kayla berlari kecil menghindari Raffa.
"Kamu sudah bisa nakal sekarang, ya," ujar Raffa gemas.
__ADS_1
Dia mengejar sang istri, lalu menangkapnya. Raffa langsung mengukung tubuh Kayla di dalam dekapannya.
"Kau sudah menggodaku," ujar Raffa dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Perlahan tapi pasti, Raffa membuka hijab yang dikenakan istrinya. Raffa mulai menyerang sang istri dengan ci*uman bertubi-tubi.
Kayla terkekeh geli menerima perlakuan dari sang suami, wajahnya bersemu merah menahan rasa malu.
"Sayang, aku belum shalat isya," lirih Kayla saat Raffa hendak membuka pakaian sang istri.
Seketika Raffa menghentikan gerakannya.
"Sana, shalat dulu! Aku akan menunggumu," lirih Raffa.
Kayla mendorong tubuh sang suami yang berada di ats tubuhnya hingga terhempas di atas tempat tidur.
Kayla tersenyum melihat wajah Raffa yang sudah memerah menahan hasrat yang terpendam.
"Sabar, ya." Kayla pun melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Raffa langsung memeluk sang istri setelah Kayla menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Raffa membuka mukena Kayla dan membuangnya di sembarang arah, lalu dia kembali menyerang sang istri hingga akhirnya mereka pun melepaskan rasa rindu dan cinta yang membuncah di dalam dada.
"Terima kasih, Sayang," bisik Raffa setelah dia lelah melakukan kewajibannya memberikan nafkah batin pada sang istri.
Kayla hanya tersenyum malu, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Mereka pun terlelap dalam damai, meluapkan rasa sayang yang ada di hati mereka masing-masing.
****
Hari demi hari terus berlalu, hingga liburan mereka pun berakhir.
Kayla kembali melanjutkan kuliahnya, sementara itu, Raffa memilih melanjutkan S2 nya sambil menunggu Kayla yang masih kuliah.
Dia meminta Kayla untuk tinggal di rumah yang dibelinya, yang lokasinya tidak jauh dari Universitas Al-azhar.
Raffa ingin benar-benar menjaga istrinya yang kini tengah mengandung anak-anaknya.
Hari pertama kuliah, ketiga sahabat Kayla histeris saat mengetahui bahwa sahabatnya tengah mengandung kembar 3.
"Kamu hebat, Kay. Sekali jadi langsung tiga," celoteh Gita.
"Yang hebat itu suaminya, sekali door nempel tiga," bantah Lisa.
"Hahaha," tawa mereka pecah di ruangan kelas tempat mereka mengobrol.
Semua mata mahasiswa yanga ada di ruangan itu menoleh ke arah mereka.
"Hush, udah becandanya. Pada liatin kita tuh," ujar Dian mengingatkan dua sahabatnya yang usil pada Kayla.
"Hehe, iya," lirih Gita dan Lisa bersamaan.
"Selamat ya, Kay. Semoga ibu dan anak selalu sehat hingga lahiran," ujar Dia memberikan do'a kepada sang sahabat.
"Aamin!" seru mereka serentak.
Tak berapa lama kuliah pun dimulai, keempat wanita itu pun mulai mengikuti kuliah yang berlangsung.
"Materi hari ini, kita tutup sampai di sini, untuk minggu depan dipersiapkan makalah selanjutnya. Saya harap pemakalah berikutnya dapat menampilkan materi lebih bagus dari hari ini," ujar Dosen menutup pertemuan mereka hari ini.
Mahasiswa mengangguk mengiyakan ucapan sang Dosen, setelah dosen keluar dari ruangan, para mahasiswa pun mulai keluar satu persatu dari kelas.
__ADS_1
Saat Kayla berada di luar kelas, seorang pria tampan yang selalu mengisi hati dan hari-hari telah menunggunya di depan kelas.
"Ciee, ayang beb udah nungguin tuh," oceh Gita menggoda Kayla.
Wajah Kayla berubah merah seketika.
Raffa hanya tersenyum mendengar ocehan Gita, lambat laun Raffa sudah mulai mengenali karakter ketiga sahabat istrinya.
"Udah selesai?" tanya Raffa pada Kayla.
Dia tak mengacuhkan ocehan Gita.
Kayla mengangguk menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Mata kuliah hari ini sudah selesai semua, kan?" tanya Raffa.
"Iya," jawab Kayla.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Raffa pada istrinya.
"Mau makan, Bang," jawab Gita dan Lisa serentak.
DIan dan Kayla saling melempar pandangan melihat tingkah du sahabatnya.
"Ya udah, yuk. Kalian mau makan di mana?" tanya Raffa santai.
"Di kantin aja, Bang," jawab Kayla.
"Ya udah, yuk!" ajak Raffa.
Mereka pun melangkah menuju kantin.
Baru saja mereka duduk di kantin ponsel Kayla berdering panggilan pertanda panggilan masuk.
Kayla langsung menjawab panggilan itu.
"Apa?" lirih Kayla.
Dia menjatuhkan ponselnya membuat Raffa dan ketiga sahabatnya panik.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ