
Sesampai di rumah, Raffa tak sabar ingin berjumpa dengan Kayla. Dia ingin memeluk dengan erat istrinya dan dia takkan pernah melepaskan cintanya yang pernah hilang.
“Assalamualaikum,” ucap Hurry saat mereka sudah berada di teras rumah.
Raffa langsung mengajak Hurry untuk masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Kayla.
Kayla menghampiri bunda Hurry lalu dia ingin memeluk sang Bunda karena merasa sangat kangen pada ibunya.
Raffa menghalanginya dan langsung memeluk sang istri dengan erat. Kayla mengernyitkan dahinya melihat tingkah Raffa.
“Zahra, akhirnya aku bisa menemukanmu,” bisik Raffa di telinga sang istri.
Mendengar nama wanita yang dibencinya, Kayla langsung melepaskan pelukan sang suami.
“Apa kamu bilang, Bang? Kamu masih saja menyebut wanita yang sempat merusak hubungan kita,” ujar Kayla sedih.
Matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hendak jatuh membasahi pipinya.
“Sayang, aku,--“
“Cukup, Bang. Aku tahu kamu sangat mencintai wanita yang bernama Zahra itu, tapi aku sudah sah menjadi istrimu. Kamu lupa dengan janji-janjimu padaku?” Kayla sangat marah dan emosi.
Kayla pun berlari menuju kamarnya meninggalkan Hurry dan Raffa terdiam melihat emosi wanita yang tengah mengandung anak kembar tiga itu.
Dia tidak memperdulikan keberadaan Hurry yang datang ingin menjenguk dirinya.
“Ada apa, Fa?” tanya Hurry bingung.
“Aku juga enggak tahu, Bun. Sepertinya aku salah memanggil namanya,” jawab Raffa bingung.
“Ya udah sana bujuk dia terlebih dahulu, Bunda tunggu di sini,” ujar Hurry paham dengan kondisi putrinya saat ini.
“Bunda langsung istirahat di kamar Fitri saja, maaf ya, Bun. Di sini Cuma ada 3 kamar dan itu semua sudah terisi,” ujar Raffa sambil menunjukkan kamar Fitri.
“Enggak apa-apa, Nak.” Hurry memaklumi.
Hurry pun melangkah menuju kamar yang di tunjuk Raffa tadi, dia memilih untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak sambil menunggu suasana hati sang putri membaik.
Raffa pun melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk melihat sang istri. Raffa mendapati Kayla tengah menangis di pinggir tempat tidur.
Raffa melangkah mendekati Kayla, Raffa memegang pundak istrinya dengan lembut.
“Jangan sentuh aku, Bang,” bentak Kayla yang tengah dibalut emosi.
“Maafkan aku, Sayang. Maksud aku,--“
“Cukup! Aku tidak ingin mendengar nama wanita itu kamu sebut-sebut di depanku.” Kayla memotong kata-kata Raffa.
Emosinya yang tidak stabil membuat Kayla lupa diri akan kodrat dan sikapnya yang tidak pantas dilakukan terhadap sang suami.
“Oke, tenangkan dirimu terlebih dulu,” pinta Raffa.
Raffa pun mulai mengelus lembut kepala sang istri. Dan menunggu amarah Kayla reda.
“Kamu masih marah?” tanya Raffa setelah beberapa menit mereka terdiam.
Kayla hanya diam.
__ADS_1
“Aku boleh berbicara?” ujar Raffa meminta izin sang istri.
Sedari tadi setiap apa yang ingin diucapkan Raffa selalu dipotong oleh istrinya.
Kayla menatap Raffa. Dia berusaha mengontrol emosinya. Dia menunggu penjelasan dari sang suami.
“Sayang, aku pernah bilang sama kamu. Aku hanya mencintai Zahra, dan kamu tahu wanita yang selama ini aku cintai dan aku cari-cari itu siapa sesungguhnya?” tanya Raffa pada istrinya.
“Mana aku tahu, bukankah kamu sudah bertemu dengan Zahra?” tanya Kayla bingung.
“Tidak, Sayang. Wanita itu bukan Zahra yang aku cari. Dia hanya penipu yang ingin merusak hubungan rumah tangga kita.” Raffa mengingat kebenciannya pada wanita yang telah mengaku sebagai Zahra pada dirinya.
“Kamu tahu, Zahra yang aku cari, saat ini tengah berada di hadapanku,” ujar Raffa dengan wajah penuh kebahagiaan.
Kayla mengernyitkan dahinya bingung dengan pernyataan yang diucapkan oleh sang suami.
“Maksud kamu apa, Bang?” tanya Kayla bingung.
“Aku sudah tahu dari bunda Hurry kalau Ara itu adalah Zahra,” jelas Raffa.
Kayla masih bingung dengan apa yang dibicarakan oleh sang suami.
“Aku masih belum mengerti maksud kamu apa, Bang?” tanya Kayla semakin bingung.
Raffa menghela napas panjang.
“Sayang, kamu masih ingat kalung yang kamu punya?” tanya Raffa.
“Mhm, kalung?” Kayla masih saja bingung.
“Iya , kalung yang disimpan oleh ayah Bram,” ujar Raffa.
“Maksud Bang Raffa kalung ini?” tanya Kayla memastikan.
“Iya,” jawab Raffa.
Raffa menghampiri Kayla.
“Coba kamu perhatikan inisial yang ada di kalung itu! Di sanan ada inisial dua huruf yaitu ZR yang artinya Zahra da Raffa,” jelas Raffa.
“Jadi?” tanya Kayla.
“Tadi Bunda Hurry menceritakan segala sesuatu tentang Ara, dan Bunda Hurry bilang nama lengkap Ara adalah Zahra, yang artinya kamu adalah Zahra yang selama ini aku cari,” jelas Raffa pada Kayla.
Raffa belum bisa menceritakan apa yang diberitahukan oleh Bunda tadi.
Kayla menatap Raffa dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Dan itu artinya kamu adalah Zahra yang selam ini aku cari. Dan kamu adalah cinta pertamaku,” ujar Raffa penuh keyakinan.
Kayla yang memang waktu itu masih kecil, dia tidak ingat apa-apa yang terjadi 15 tahun yang lalu.
“Dengan susah payah selama ini aku mencari dirimu, dan ternyata Tuhan telah mempersatukan kita dengan cara perjodohan tanpa cinta.” Raffa tersenyum bahagia.
Dia memeluk erat sang istri.
“Mulai saat ini aku takkan lagi membiarkan kamu pergi dariku,” ujar RAffa berjanji pada sang istri.
Kayla mulai memahami apa sebenarnya yang terjadi. Dia tak menyangka bahwa dirinya merupakan cinta pertama dari sang suami.
__ADS_1
“Aku bahagia sudah menemukanmu, Sayang,’ lirih Raffa.
“Alhamdulillah,” ucap Kayla.
Kayla tersenyum bahagia, dia masih berada di dalam pelukan sang suami. Semua emosinya yang tadi memuncak kini sudah mereda.
“Maafkan aku ya, Bang,” ujar Kayla merasa bersalah.
“Kamu tidak salah,” lirih Raffa.
“Aku sudah membentak kamu,” ujar Kayla.
“Tidak apa-apa, Sayang.” Raffa mengecup puncak kepala sang istri.
“Auww!” pekik Kayla tiba-tiba.
“Ada apa, Sayang?” Raffa langsung panik melihat istrinya.
Kayla mengambil telapak tangan Raffa, lalu meletakkan tangan Rafa di perutnya yang sudah mulai membuncit.
“Coba pegang ini, Bang!” Kayla menunjukkan pada sang suami keaktifan ketiga calon bayi yang ada di dalam rahimnya pada sang suami.
ketiga calon bayi yang ada di dalam rahim Kayla sangat aktif sekali.
Raffa besarkan bola matanya takjub dengan apa yang dirasakannya saat ini.
"Anak kita ikut bahagia dengan apa yang aku rasakan saat ini," ujar Raffa dengan percaya diri.
Kayla mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
sepasang suami-istri itu pun kembali berpelukan menyatukan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan saat ini.
"Astaghfirullah, aku melupakan sesuatu," ujar Kayla sambil menepuk jidatnya.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya author🙏🙏🙏
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏