
"Benarkah?" ujar Raffa kaget.
Dia belum mengenali siapa sosok keluarga Alvaro.
"Iya, mereka bisa saja menggunakan kekayaan dan kekuatannya untuk menyogok saksi dan mengadakan bukti yang tidak pernah ada," jelas Farhan.
"Mhm," gumam Raffa sambil mengangguk memahami apa yang dijelaskan oleh Farhan.
"Mungkin saat ini aku harus berjumpa dengan Raymond untuk memperjelas kronologi kecelakaan itu," ujar Farhan.
"Ya sudah, kita langsung ke kantor polisi saja," ajak Raffa.
"Boleh." Farhan mengangguk.
Mereka berdiri dan melangkah keluar dari kafe tanpa membayar makanan mereka.
"Bang!" panggil Farhan sambil menarik tangan Raffa.
Raffa menautkan kedua alisnya heran dengan apa yang dilakukan oleh Farhan.
"Ada apa?" tanya Raffa pada Farhan.
"Mhm, makanan kita belum dibayar, Bang," ujar Farhan mengingatkan.
Farhan mengira Raffa melupakan tagihan makanan yang sudah mereka nikmati tadi.
"Oh, aku kira ada apa, taunya aku melupakan sesuatu," ujar Raffa sambil menepuk jidatnya.
Farhan mengangguk tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Raffa memanggil pelayan lalu memberikan dua lembar uang seratus ribu pada pelayan tersebut.
"Untuk apa, Tuan?" tanya pelayan bingung.
"Buat kamu dan yang mengambilkan makanan saya tadi," bisik Raffa pada pelayan tersebut.
Si pelayan mengangguk paham. Lalu dia melangkah meninggalkan Raffa.
Farhan mengernyitkan dahinya melihat cara Raffa membayar tagihannya padahal di kafe tersebut terdapat kasir.
"Yuk," ajak Raffa.
Raffa mulai melangkah keluar dari kafe. Akhirnya Farhan mengikuti langkah Raffa yang kini sudah berdiri di kawasan parkir, dia melupakan keheranannya melihat Raffa yang seolah sangat dikenal oleh semua pelayan yang ada di kafe itu.
"Kami bawa mobil?" tanya Raffa pada Farhan.
"Iya, Bang," jawab Farhan.
"Kita ke kantor polisi pake mobilku saja, mobilmu tinggal di sini saja," ujar Raffa pada Farhan.
"Ya sudah kalau begitu, Bang," ujar Farhan mengangguk setuju.
Raffa melangkah menuju mobilnya yang terparkir di parkiran khusus, diikuti oleh Farhan dari belakang.
__ADS_1
Saat sudah berada di dekat mobil Raffa, Farhan melihat bacaan yang tertulis di depan mobil Raffa.
Farhan pun menggelengkan kepalanya, dia mulai mengerti.
"Ternyata Bang Raffa pemilik kafe ini," ujar Farhan pada Raffa saat dia sudah berada di dalam mobil.
Raffa hanya tersenyum mendengar ucapan Farhan.
Raffa pun mulai melajukan mobilnya menuju kantor polisi tempat Raymond di penjara.
Sepanjang perjalanan, Raffa dan Farhan bercerita berbagai pengalaman yang dijalani Farhan selama ini sehingga dia kini menjadi pengacara yang sangat handal.
Setelah tamat S1, Farhan mencoba mengikuti jejak papanya, sedikit demi sedikit dia mulai memahami profesi pengacara yang digeluti sang papa.
Perlahan tapi pasti sambil melanjutkan kuliah S2 nya, Farhan mulai menangani beberapa kasus yang dipercayakan kepada papanya, hingga akhirnya dia mulai terkenal dari keberhasilannya menyelesaikan kasus-kasus kliennya selama ini.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit mereka pun sampai kantor polisi.
"Bagaimana kabarmu, Ray?" tanya Raffa pada Raymond saat mereka sudah berjumpa di ruan temu tamu.
"Baik, bagaimana keadaan istriku?" tanya Raymond merasa kasihan pada istrinya.
Saat ini, Alita pasti merasa sangat kesepian karena dirinya tertahan.
"Alita berada di rumah sakit, semoga saja dia bisa tenang bersama Bunda Hurry, untuk saat ini lebih baik dia bersama bunda Hurry terlebih dahulu," jawab Raffa.
"Oh, iya. Kenalkan ini Farhan, pengacara yang akan menyelesaikan kasusmu," ujar Raffa memperkenalkan Farhan pada Raymond.
Farhan mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
Raymond menjabat tangan Farhan, dia tersenyum.
"Raymond," ujar Raymond.
"Farhan," ujar Farhan.
"Farhan ini adik kelasku sewaktu SMA, kebetulan papa Farhan merupakan pengacara terkenal di Padang, jadi Papa menawarkan jasa Farhan untuk menyelesaikan kasus yang sedang kita hadapi saat ini," ujar Raffa lagi.
"Ya sudah kita langsung saja bahas intinya," ujar Farhan memulai pembicaraan.
Farhan meminta Raymond menceritakan kronologi kejadiannya sedetail mungkin pada Farhan, mulai dari Alex menghubungi dirinya hari itu hingga kecelakaan terjadi.
"Lalu, bagaimana ceritanya Irene bisa berada di mobilnya Varo?" tanya Farhan pada Raymond.
"Ini yang belum kamu ketahui, saat kecelakaan Irene tak sadarkan diri selama satu hari, dan di saat itu dia terpaksa dirawat karena tubuhnya sangat lema, setelah dia sadar, dia belum bisa diganggu karena keadaan Alex yang masih tak sadarkan diri hingga saat ini," jelas Raymond panjang lebar.
"Baiklah, kalau begitu kita harus bertemu dengan Irene," ujar Farhan tidak ingin membuang waktu.
Raffa menoleh pada Raymond lalu dia mengangguk setuju.
"Iya, mungkin itu lebih baik," sahut Raymond.
"Baiklah, mari kita ke rumah sakit." Farhan langsung mengajak Raffa menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Irene secepatnya.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Raffa.
"Terima kasih, Bro. Gue malah merepotkan kalian," ujar Raymond.
"Tidak, Bro. Sebagai kakak ipar Alita, gue harus bantuin masalah yang sedang kalian hadapi," ujar Raffa.
"Thanks, Bro," sahut Raymond.
"Sama-sama, ya sudah kalau begitu kami pergi dulu. Semoga masalah ini cepat diselesaikan," ujar Raffa sebelum meninggalkan Raymond.
"Aamiin," lirih Raymond.
Raymond bersyukur dengan adanya Raffa yang peduli dengan masalah yang dihadapinya.
Raffa dan Farhan pun berdiri dan melangkah keluar dari ruang temu tamu tersebut.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Irene.
Raffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan raya yang dipadati oleh kendaraan.
Mereka sampai di rumah sakit, Raffa memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit lalu dia turun dari mobil diikuti oleh Farhan.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit lalu menuju ruang rawat Alex yang terdapat di lantai 5.
"Assalamu'alaikum," ucap Raffa saat dia membuka pintu ruang rawat Raffa.
"Wa'alaikummussalam," jawab Alita.
Alita langsung berdiri menyambut kakak iparnya yang datang bersama seorang pria yang tidak dikenalinya.
Irene menoleh ke arah pintu. Dia langsung berdiri menghampiri Raffa saat dia menyadari bahwa Raffa yang datang.
"Bang Raffa," seru Irene senang.
Dia sudah tidak sabar ingin menyampaikan sesuatu yang sejak tadi ingin diungkapkannya.
"Ren, Bunda mana?" tanya Raffa saat tidak melihat ibu mertuanya berada di ruangan tersebut.
"Bunda pergi membeli obat," jawab Irene.
"Oh, kenalkan ini Farhan. Dia adalah pengacara yang akan menangani kasus yang tengah dihadapi Raymond," ujar Raffa memperkenalkan pria yang berada di sampingnya.
"Silakan, duduk," sahut Alita mempersilakan Raffa dan Farhan duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.
Raffa dan Farhan pun duduk di sofa.
"Ren, bisa bicara sesuatu?" ujar Raffa meminta Irene untuk bergabung duduk bersama dirinya dan Farhan
Irene melangkah dan duduk di hadapan mereka bersama Alita.
"Ren, bisa kamu ceritakan bagaimana kamu bisa berada di mobil Varo di hari itu?" tanya Raffa langsung meminta penjelasan dari Irene.
Bersambung...
__ADS_1