
Kayla mengikuti lagkah suaminya, dia juga kaget saat melihat Alita sudah berada di depan rumahnya dengan membawa barang-barang miliknya.
“Al,” lirih Kayla bingung.
“Kakak, aku boleh tinggal di sini, kan?” tanya Alita pada kakaknya.
Kayla menoleh ke arah sang suami yang terlihat tengah menahan emosinya.
“Kamu masuk dulu,”ujar Kayla.
Alita pun masuk ke dalam rumah, melewati Raffa yang melihat tingkahnya tidak suka.
“Kamu tunggu di sini dulu,” ujar Kayla.
Kayla pun menarik lengan suami masuk ke dalam kamarnya.
Kayla tahu saat ini Raffa tengah marah pada Alita, dia berusaha meredakan emosi Raffa saat melihat adiknya datang dengan membawa barang-barangnya.
“Sayang,” lirih Kayla saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Raffa duduk di atas tempat tidur memendam amarah pada gadis yang sempat membuat hubungannya retak dengan sang istri. Gadis itu juga sudah menipunya mengaku sebagai Zahra, wanita yang selama ini dicarinya.
Selama di Padang Raffa berusaha bersika manis pada Alita karena menjaga hati Bunda Hurry yang sangat menyayangi istrinya.
“Bang, mau tak mau kita terpaksa membiarkan Alita tinggal di rumah ini,” ujar Kayla lembut sambil mengelus pundak sang suami.
“Dia sudah kelewatan, Sayang. Tidak sepantasnya dia datang tanpa izin dari kita.Seaka dia memang memiliki niat jahat sama kita, makanya dia ngotot untuk tinggal bersama kita,” ujar Raffa kesal.
Raffa semakin yakin dengan prasangka buruk yang ditujukannya pada adik iparnya itu.
“Tapi, Bang. Sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” ujar Kayla ikut bingung.
Dia merasa tidak enak hati dengan sikap adik kandungnyayang sudah lancing memaksa untuk tinggal di rumah milik suaminya.
“Terserah, lakukanlah apa yang menurut kamu baik. Saat ini aku sedang tidak ingin memikirkannya,” ujar Raffa.
Kayla menghela napasnya panjang. Dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Diaakan memintaFitri untuk menerima Alita satu kamar dengannya.
Sementara itu Alita sudah berada di ruang tengah melihat-lihat beberapa foto yang terpajang di rumah itu.
“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rayna yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Emosinya langsung memuncak saat melihat Alita berada di dalam rumah yang tempatinya.
Alita menoleh ke arah asal suara yang sudah berani membentaknya. Alita menatap tajam ke arah Rayna. Dia tidak suka dengan keberadaan Rayna di rumah milik kakak iparnya.
__ADS_1
“Aku ingin berkunjung ke rumah kakakku,” jawab Alita santai.
“Jika ingin berkunjung tidak perlu membawa koper dan barang-barang sebanyak itu,” bentak Rayna semakin emosi melihat gaya santai Alita.
Rayna sempat melihat ada koper dan barang-barang Alita di ruang tamu.
“Suka-suka aku, yang mau datang aku. Kenapa kamu yang repot,” ujar Alita cuek.
Rayna semakin geram melihat tingkah adik kandung kakaknya.
“Keluar kau dari rumah ini sekarang juga!” bentak Rayna sudah tak sabar menghadapi Alita.
Alita tersenyum sinis.
“Hei, kamu sadar, enggak? Kamu di sini cuma numpang,” ujar Alita membuat Rayna tak bisa menahan kesabarannya lagi.
Satya menarik tangan istrinya agar tidak lagi berdebat dengan Alita.
“Alita!” bentak Kayla.
Kayla melangkah mendekati adiknyayang kini tengah berada di depan pigura foto yang di sana terpajang foto pernikahan Kayla dan Raffa.
“Tolong jaga ucapanmu!” Kayla memberi peringatan pada adik kandungnya.
Kayla menarik Alita menuju ruang tamu. Dia menyuruh Alita untuk duduk di ruang tamu.
“Duduklah, dan diam di sini!” perintah Kayla pada Alita.
“Iya, Kak,” lirih Alita kesal.
Kayla pun melangkah menuju kamar Rayna.
“Ray,” panggil Kayla.
Raya membuka pintu kamarnya.
“Maafkan Alita ya, Dek. Dia tiba-tiba datang dan sudah membawa barang-barang miliknya ke sini,” ujar Kayla.
Kayla tidak ingin adiknya berprasangka bahwa dirinyalah yang menyuruh ALita datang dengan membawa barang-barang miliknya.
“Enggak apa-apa, Kak. Terserah kakak mau mengiinkan dia tinggal di sini atau bagaimana, lagian aku di sini hanya menumpang,” lirih Rayna kesal.
“Dek, tolong dong, jangan ngomong seperti itu. Saat ini aku benar-benar bingung,” lirih Kayla bersedih.
“Kak, aku capek. Aku mau istirahat dulu,” ujar Rayna.
__ADS_1
Rayna pun menutup pintu kamarnya, dia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun. Akhirnya Rayna memilih untuk berdiam di kamarnya.
Kayla menghela napasnya panjang, saat ini dia benar-benar merasa bingung harus mengambil keputusan apa untuk menghadapi Alita.
Di kamar, Rayna terlihat sedih dengan perlakuan Alita pada dirinya. Dia duduk di pinggir tempat tidur.
Satya mengerti suasana hati istrinya saat ini. Dia pun ikut duduk di samping istrinya.
“Sayang, orang seperti Alita tidakperlu ditanggapi dengan hati. Karena setiap yang diucapkannya tidak dengan hati juga.” Satya merangkul pundak istrinya.
“Iya Mas, tapi aku merasa rishi jika dia tinggal di sini. Bagaimana kalau kita cari kontrakan saja?” tanya Rayna memberikan sebuah usulan.
Rayna tidak ingin terjadi berbagai perdebatan antara dirinya dan Alita jika gadis itu ikut tinggal di rumah kakaknya.
“Mhm, coba kamu bayangkan. Jika dia tinggal di sini, lalu kita pergi meninggalkan mereka, Alita akan semakin leluasa berada di rumah ini. Dia pasti merasa dirinya sudah menang dan kita kalah. Saat ini kita tidak tahu niat jahat apa yang tengah ada di otaknya, jika kita berada di sini,paling tidak kita bisa antisipasi apa yang akan dilakukannya terhadap Kayladan Raffa nanti,” ujar Satya anjang lebar menyampaikan pendapatnya.
Rayna terdiam, dia encoba mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya. Semua yang dikatakan Satya banyak benarnya sehingga akhirnya Rayna setuju dengan pendapat sang suami.
“Kamu harus kuat di sini, jika aku taka da di samping kamu,” ujar Satya lagi dengan senyuman yang mengembang di wajahnya menghibur Rayna yang tadi mulai bersedih.
“Baiklah,” gumam Rayna sambil mengangguk.
“Gitu dong, istriku tidak boleh cemberut,” ujar Satya.
Kayla tidak memiliki pilihan lain, saat ini dia harus menemani Alita di ruang tamu, dia pun melangkah menuju ruang tamu untuk menemui Alita.
“Al,” panggil Kayla.
Alita mendongakkan kepalanya menatap penuh harap pada sang kakak.
“Bagaimana, Kak? Aku bisa tinggal di sini, kan?” tanya Alita penuh harap.
“Mhm, boleh. Kamu akan satu kamar dengan Fitri,” jawab Kayla.
“Saat ini, Fitri belum pulang. Kamarnya dikunci, dan dia membawanya,” ujar Kayla meminta Alita bersabar untuk menunggu.
"Oh, ya udah. Enggak apa-apa, Kak. Aku tunggu di ruang keluarga boleh?" tanya Alita bosan menunggu di ruang tamu.
"Ya udah," ujar Kayla.
Mereka pun berdiri dan hendak melangkah menuju ruang keluarga.
"Alita," panggil seseorang terdengar dari pintu luar.
Bersambung...
__ADS_1