Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 202


__ADS_3

Raffa mengingat kejadian waktu itu, dia sangat emosi saat mengetahui bahwa dalang dibalik peristiwa di perkemahan itu adalah adik iparnya.


Alex dan Om Rahman menoleh ke arah asal suara Raffa yang kini melangkah mendekati mereka diikuti oleh Irene dan Tante Rahma.


Tante Rahma mengkhawatirkan keadaan Om Rahman, dia mendesak Raffa untuk menyusul mereka.


Terakhir Alex memberitahu Raffa bahwa dia sedang di jalan menuju Solok, Rahma pun yakin suaminya pasti pergi ke makam sang Kakak.


"Benarkah Alita dalang dibalik peristiwa yang hampir merenggut kehormatan istriku?" tanya Raffa memastikan.


Alex bingung harus menjawab apa, dia mencoba berpikir sejenak.


"Mhm," gumam Alex.


"Iya, tapi gue harap lu jangan marah sama Alita. Saat itu dia masih di luar kendali, gue janji mulai hari ini Alita tidak akan mengganggu Kayla lagi," ujar Alex.


Selama ini Alex dan Raymond menyuruh seseorang untuk memata-matai Alita, sehingga dia dapat mengetahui semua perbuatan Alita dan rencana buruk yang akan dilakukannya terhadap Kayla dan Raffa.


Raffa terdiam mendengar ucapan Alex.


"Satu hal lagi, gue mohon jangan sampai hal ini diketahui Kak Kayla, gue Enggak mau Kayla merasa sedih mengetahui perbuatan jahat adiknya pada dirinya," pinta Alex memohon pada Raffa.


Ada rasa kecewa dan sakit hati yang menyelinap di hati Raffa setelah mengetahui kejahatan Alita.


Raffa terduduk di rebahan kayu tepat di samping Rahman. Raffa berusaha menenangkan dirinya, dia mengusap kasar wajahnya.


Melihat hal itu Rahman menepuk pundak Raffa sebagai bentuk rasa simpati pada suami dari keponakannya.


Seketika suasana menjadi hening, mereka mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hampir 1 jam mereka berada disana tanpa ada seorang pun yang mulai berbicara, hingga akhirnya Rahman pun mengajak semua keluarganya untuk kembali ke Padang.


"Ayo kita pulang," ajak Rahman.


Akhirnya mereka pun berdiri dan melangkah menuju mobil.


"Sayang, aku ikut kamu naik motor, ya," ujar Irene pada sang suami.


Dia merasa tidak enak hati satu mobil dengan Raffa, karena tante Rahma pulang bersama Om Rahman.


"Tapi, Ren. aku hanya membawa satu helm," ujar Alex bingung.

__ADS_1


"Lex, biar aku saja yang membawa sepeda motormu, kasihan istrimu kepanasan di sepeda motor," ujar Rafa pada Alex memberi tawaran.


Alex menoleh pada sang istri, meminta pendapat istrinya.


"Aku terserah kamu saja, yang penting aku pulang bersama kamu," ujar Irene menjawab tatapan sang suami.


"Ya sudah, nih," ujar Alex sambil memberikan kunci sepeda motornya.


Begitu juga Rafa dia memberikan kunci mobilnya pada adik iparnya itu.


Keadaan Rafa pun kembali ke kota Padang dengan menggunakan sepeda motor milik adik iparnya.


Rahman dan Rahma terlebih dahulu masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan TPU, tak berapa lama setelah itu Alex pun mulai melajukan mobil milik Rafa meninggalkan Raffa yang masih berdiri di samping sepeda motor milik Alex.


Drrrttt drrrttt.


Ponsel Raffa berdering pertanda panggilan masuk, pria tampan itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.


Raffa melihat dengan jelas nama sang istri tengah menghubunginya. Bergegas Raffa pun menekan tombol hijau.


"Hallo," ujar Raffa setelah panggilan dengan istrinya tersambung.


"Sayang, kamu di mana sekarang?" tanya Kayla yang sedari tadi mulai mengkhawatirkan keadaan sang suami.


"Kamu hati-hati ya, Sayang. Aku sangat mencemaskan mu," sahut Kayla.


"Kamu tenang saja aku akan langsung pulang setelah melaksanakan shalat dzuhur," ujar Raffa berusaha menenangkan sang istri yang mulai mencemaskan dirinya.


"Bagaimana dengan Om Rahman Apakah dia baik-baik saja?" tanya Kayla yang juga mengkhawatirkan adik dari uminya.


"Beliau baik-baik saja, Sayang. sudah terlebih dahulu berangkat dengan mobil, aku pulang menggunakan sepeda motor milik Alex," jawab Raffa.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan, ya,"ujar Kayla sebelum memutuskan sambungan panggilan teleponnya.


"Iya, Sayang. Kamu tenang saja, ya," ujar Raffa.


Raffa pun memutuskan sambungan panggilannya, lalu menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.


Setelah itu Rafa menaiki kuda besi milik Alex, dia mulai melajukan sepeda motor meninggalkan TPU tempat kedua mertuanya dimakamkan.


Sebelum melanjutkan sepeda motornya menuju kota Padang, Raffa menyempatkan diri untuk berhenti di sebuah masjid.

__ADS_1


Dia hendak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat dzuhur.


Setelah melaksanakan salat dzuhur, Raffa menunaikan salat sunat lalu dia pun memohon kepada sang pemilik hati untuk menenangkan hatinya yang saat ini penuh amarah terhadap sang adik ipar.


"Ya Allah, hamba mohon berikanlah kelapangan hati pada diri ini untuk menerima kenyataan yang baru saja hamba ketahui. Kuatkan hati hamba untuk tidak membenci dan memusuhi adik ipar hamba yang sudah banyak melakukan kejahatan terhadap hubungan rumah tangga hamba. serta hamba mohon mudahkanlah hati hamba untuk memberi Maaf padanya." Rafa bermunajat pada sang Pencipta dan pemilik hati setiap insan.


Usai Raffa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba, Raffa pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kota Padang.


Raffa melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, pikirannya masih terisi dengan berbagai kejahatan yang sudah dilakukan oleh Alita.


Semua tindakan dan kelakuan Alita terhadap dirinya dan Zahra kembali melintas di benaknya.


Raffa tidak dapat berkonsentrasi mengendarai sepeda motornya.


Satu jam sudah berlalu setelah Kayla menghubungi sang suami.


Rahman memarkirkan mobil miliknya di depan rumah kediaman Hendra, diikuti oleh mobil milik Raffa yang tadi dibawa oleh Alex, mendengar suara mobil masuk pekarangan rumah.


Kayla yang sedari tadi menunggu kedatangan sang suami langsung melangkah keluar, Kayla berharap Raffa juga sudah datang.


"Bang Raffa mana, Lex ?" tanya Kayla pada adiknya saat tak mendapati sang suami.


"Raffa di belakang, mungkin sebentar lagi sampai," jawab Alex.


Alex dan Irene pun melangkah masuk ke dalam rumah setelah Rahman dan istrinya Rahma duduk di ruang keluarga yang diikuti oleh bunda Hurry.


Alex dan Irene juga ikut bergabung duduk di ruang keluarga bersama yang lainnya.


Kayla yang masih menunggu Raffa melangkah mondar mandir di teras depan rumah, Kayla tidak mungkin menghubungi Raffa, dia takut saat menghubungi sang suami tengah mengendarai sepeda motor dan hal itu akan mengganggu konsentrasinya nanti.


Raymond yang tadinya berada di kamar bersama Alita, langsung mengajak Alita ikut bergabung dengan yang lainnya.


Tadi Alita belum sempat memohon maaf pada Om Rahman.


"Om," lirih Alita saat dia sudah berada di ruang keluarga.


Rahman menatap penuh kekecewaan pada Alita. Mendapatkan tatapan sendu dari Om Rahman, Alita kembali bersimpuh di kaki Rahman.


Rahman mengelus lembut kepala keponakan kesayangannya.


"Om harap kamu mulai berubah ya," lirih Rahman menyentuh hati Alita.

__ADS_1


"Tidaaaak!" terdengar teriakan Kayla dari teras.


Bersambung...


__ADS_2