
Raffa tersenyum mendengar ucapan Kayla.
"Sana shalat, aku mau mandi!" perintah Raffa.
Raffa melepaskan pelukannya, dia berbalik dan meninggalkan Kayla yang masih terdiam mematung.
"Huhfft." Akhirnya Kayla bisa bernapas dengan lega.
Jantung Kayla yang awalnya seakan berhenti kini mulai berdetak dengan normal.
Kayla melangkah menuju lemari, dia mengambil pakaian Raffa. Lalu dia meletakkan pakaian suaminya itu di atas tempat tidur.
Setelah itu Kayla bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Raffa keluar dari kamar mandi, dia tersenyum saat melihat pakaiannya sudah tersedia di atas tempat tidur.
Sementara itu, dia melihat sang istri tengah melaksanakan ibadah shalat ashar.
Dia mengambil pakaiannya lalu membawanya ke dalam kamar mandi. Raffa sengaja mengenakan pakaiannya di kamar mandi agar Kayla tidak merasa terganggu.
Mereka melaksanakan ibadah shalat ashar sendiri-sendiri.
Tok tok tok
Terdengar pintu kamar Kayla diketuk seseorang. Kayla yang baru saja menyelesaikan ibadahnya langsung berdiri melangkah menuju pintu.
Kayla mendapati Rayna depan kamarnya.
"Ada apa, Ray?" tanya Kayla pada adiknya.
"Ayah menunggu kakak di ruang kerjanya," jawab Rayna.
Rayna ikut merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh kakaknya.
"Baiklah, aku datang," ujar Kayla yang masih mengenakan mukenanya.
Tanpa banyak kata kata Raina meninggalkan kamar Kayla dia merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghibur sang kakak.
Kayla kembali masuk ke dalam kamar lalu membuka mukenanya dan menggantinya dengan hijab seperti biasanya.
"Aku turun dulu, Ayah sedang menungguku di ruang kerjanya," ujar Kayla pada Raffa yang baru saja menyelesaikan shalat.
"Apakah kamu perlu ditemani?" tanya Raffa pada istrinya.
"Enggak usah, Bang. Aku akan menemui Ayah sendirian," jawab Kayla.
"Ya sudah," ujar Raffa.
Raffa mengerti, mungkin Kayla ingin berbicara empat mata dengan sang Ayah.
Kayla keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga menuju ruang kerja ayahnya yang terdapat di lantai 1.
Sesampai Kayla di depan pintu ruang kerja ayahnya, dia mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!" Terdengar suara Bram dari dalam ruangan itu.
Kayla menggenggam tuas pintu ruangan lalu mendorongnya. Di sana terlihat Bram tengah duduk di kursi kebesarannya sambil memegang sebuah pigura foto di tangannya.
"Kayla, sini!" panggil Bram mengajak Kayla duduk di atas sofa.
__ADS_1
Bram juga melangkah menuju sofa yang terdapat di ruangan itu.
"Lihatlah, ini fotomu waktu berumur 5 atau 6 tahun. Ayah sendiri tidak tahu pasti umurmu saat itu," ujar Bram memulai pembicaraan.
Kayla meraih pigura yang di sodorkan sang Ayah padanya.
Di sana terlihat Bram tengah menggendong gadis kecil dengan pakaian yang sangat lusuh dan kotor.
"Kamu masih ingat gunung Padang yang sering kita kunjungi?" tanya Bram pada putrinya.
Kayla masih diam, dia masih menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut sang Ayah.
"Ayah sengaja membawamu ke sana setiap kita datang ke Padang. Ayah berharap kamu berjumpa dengan keluargamu. Namun, bertahun-tahun ayah berusaha mencari keluargamu tapi tidak berhasil." Bram mulai meneteskan air matanya.
Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Melihat sang Ayah bersedih, Kayla pun ikut menangis.
"Semenjak kamu hadir dalam hidup Ayah semua usaha Ayah semakin maju, Allah terus melimpahkan rejeki pada Ayah melebihi yang kami butuhkan. Sejak itu Ayah tidak ingin kehilanganmu, bagi Ayah Kayla tetap anak Ayah, hiks." Bram mulai menangis.
Dia mengingat perjuangannya mempertahankan Kayla dari istrinya yang selalu ingin membuang gadis pembawa keberuntungan baginya.
"Aku akan membawa gadis sialan ini ke panti asuhan!" teriak Rita menarik tangan Kayla kecil.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu," bantah Bram.
"Jika kau memaksa membawanya ke panti asuhan, maka lebih baik kamu keluar dari rumah ini," ujar Bram pada istrinya.
Bram akan selalu membela Kayla di saat istrinya hendak mengusir gadis kecil itu.
Bram yang tidak ingin selalu bertengkar dengan sang istri, akhirnya menyekolahkan Kayla di pesantren, serta kuliah pun dia memilih Universitas yang berasrama.
"Kamu memang bukan anak kandung Ayah, tapi sampai kapan pun kamu tetap putri Ayah, Ayah sudah menganggapmu sebagi putri kandung sendiri," ujar Bram.
"Yah, walaupun di darah Kayla tidak mengalir darah ayah, tapi di setiap napas Kayla terdapat kasih sayang Ayah. Kayla akan tetap menganggap ayah sebagai ayah Kayla." Kayla mulai tenang karena setelah shalat ashar tadi dia menyerahkan semua takdirnya pada Allah.
Sehingga dia tidak lagi emosi dan marah dengan kenyataan yang dihadapinya.
"Bagi Kayla Ayah adalah pria pertama yang Kayla sayangi," ujar Kayla jujur.
"Kayla sayang Ayah," tambah Kayla.
Dia memeluk pigura yang ada di tangannya. Dia mengusap air matanya yang telah membasahi pipinya.
Rayna yang sedari tadi berdiri di depan pintu ikut mendengar percakapan Ayah dan kakaknya.
Dia melangkah masuk saat Bram mengetahui keberadaannya. Rayna Duduk di samping Kayla.
Rayna memeluk sang kakak.
"Sampai kapanpun Kak Kayla akan tetap menjadi kakakku, di dunia ini hanya kamu satu-satunya saudariku." Rayna ikut menangis bersama sang kakak.
Melihat keakraban kedua putrinya, hati Bram merasa lega karena disaat Kayla rapuh ada Rayna yang menguatkannya.
Suasana luka di hati keluarga Bram kini kembali seperti semula.
Untuk sementara waktu tidak ingin berbicara dengan sang istri. Bram ingin memberi pelajaran kepada Rita agar bisa menjaga ucapannya di depan siapapun.
Malam ini Rafa mengajak Kayla dan Raina untuk makan malam di luar bersama Satya.
__ADS_1
Kedua adik kakak tersebut telah siap untuk berangkat sesudah mereka melaksanakan salat maghrib.
"Ray, udah siap?" tanya Kayla menghampiri adiknya di kamar.
"Udah, Kak." Rayna mengambil tas selempang miliknya.
Kayla dan Rayna melangkah menuruni anak tangga.
Raffa sudah menunggu kakak adik itu di ruang keluarga bersama Bram.
Bram dan Raffa mengobrol ringan tentang apa saja yang bisa mereka bahas.
Obrolan dua pria itu terhenti setelah melihat dua gadis yang berhijab menghampiri mereka.
"Sudah siap?" tanya Raffa.
"Sudah, Mas," jawab Kayla bersemangat.
"Ya udah, Yah. Kalau begitu kami pamit dulu," ujar Raffa pamit pada Ayah mertuanya.
"Kalian hati-hati di jalan, pulangnya jangan kemalaman," pesan Bram pada putri dan menantunya.
"Iya, Yah," sahut mereka serentak.
Mereka melangkah keluar dari rumah, di depan rumah Satya telah berdiri. di samping pintu mobil dengan pakaian yang rapi.
Dia membukakan pintu mobil untuk Raffa dan Kayla di bagian belakang..
Sementara itu, Rayna bingung mau masuk mobil bagian belakang atau di depan.
"Ray, kamu temani Satya aja di depan," ujar Kayla saat mengetahui kebimbangan sang adik.
Satya pun membukakan pintu mobil bagian depan untuk Rayna.
"Subhanallah, keren banget," lirih Rayna saat melihat supir pribadi Raffa.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya πππ