Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 185


__ADS_3

Pria itu melangkah menghampiri Lisa, dia pun mengambil posisi duduk di samping gadis yang tengah menyendiri dengan keindahan alam.


"Ngapain di sini?" tanya Reza pada Lisa.


"Mhm, aku hanya bersantai sambil menikmati keindahan ciptaan sang Maha Karya," jawab Lisa.


"Oh, di sini mang sangat indah pemandangannya," ujar Reza yang sangat memahami seluruh penjuru pantai Carocok.


"Kamu enggak kerja?" tanya Lisa pada Reza.


Lisa heran melihat keberadaan Reza dengan mengenakan kaos oblong dan celana jeans di bawah lutut. Pria itu terlihat santai dengan kostum yang dikenakannya.


Walaupun pakaian yang dikenakannya biasa saja, tapi tidak mengurangi kharisma yang keluar dari dirinya.


"Hah? Kerja?" Reza terlihat bingung dengan pertanyaan Lisa.


"Iya, tadi,--"


"Oh, sekarang sedang free," ujar Reza memotong ucapan Lisa.


Reza baru sadar arah pertanyaan gadis yang kini duduk di sampingnya.


"Oh, sudah berapa lama kerja di resort ini?" tanya Lisa sekadar ingin mengenal pria yang baru beberapa jam yang lalu dikenalnya.


"Lumayan, sekitar 4 tahun 5 tahunan, lagian aku asli orang sini," jawab Reza.


"Kamu, keluarga Raffa eh Tuan Raffa?" tanya Reza langsung pada Lisa.


Tampaknya Reza mulai tertarik untuk mengenal sosok Lisa.


"Mhm, kamu kenal Bang Raffa?" tanya Lisa heran.


"Tuan Raffa kan yang menyewa penginapan," jawab Reza.


"Oh, iya ya. Aku teman dari istrinya, kami teman satu kampus," jawab Lisa.


"Oh begitu," lirih Reza mengangguk paham.


Mereka pun mulai asyik mengobrol hingga Lisa lupa waktu.


"Astaghfirullah," pekik Lisa saat melihat jam di tangannya menunjukkan lewat jam 5 sore.


"Ada apa?" tanya Reza ikut panik.


"Sudah lewat jam 5, sesuai janjinya kami akan pulang ke penginapan pada pukul 4.30. Itu artinya aku sudah ditinggal bis." Lisa bergegas turun dari dahan pohon tempat dia duduk bersantai.


Dia bersiap untuk berlari menuju tempat parkiran bus yang ditumpanginya tadi.


"Hei, Lisa!" panggil Reza menghentikan langkah gadis itu.


Lisa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Reza.


"Maaf aku harus kembali sekarang juga," teriak Lisa.

__ADS_1


Lalu gadis itu pun membalikkan tubuhnya meninggalkan Reza yang mengikutinya dari belakang.


Risang tidak menyadari bahwa pria yang baru saja dikenalnya itu mengikutinya dari belakang.


Sesampai Lisa di parkiran bus dia tidak lagi mendapati bus yang membawanya ke pantai. Dia juga tidak menemukan siapapun yang dikenalnya di tempat itu.


Hal ini membuat dia yakin bahwa semua rombongan sudah kembali ke penginapan.


"Ya ampun, aku harus bagaimana?" gumam Lisa.


Dia pun merogoh tas selempang miliknya dan mengeluarkan HP miliknya, dia ingin mencoba menghubungi teman-temannya, tapi sayang ponsel miliknya habis baterai.


Lisa semakin panik dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia sama sekali tidak mengetahui daerah Pesisir Selatan dia juga tidak mengetahui jalan untuk kembali ke penginapan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" lirih Lisa mulai putus asa.


"Kamu jangan cemas masih ada aku di sini," ujar Reza yang datang dari belakang gadis itu.


"Reza, kamu di sini?" Lisa tak percaya Reza kini sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu," Reza Reza.


"Ayo ikut aku! Biar aku antar ke penginapan," ujar Reza menawarkan pertolongan.


"Kamu serius?" tanya Lisa tak percaya.


"Ya iyalah terus kamu mau pulang sendiri? memangnya kamu tahu jalan menuju penginapan?" ujar Reza santai.


Untuk saat ini mengikuti usulan dari Reza merupakan satu-satunya jalan untuk bisa kembali ke penginapan.


Reza melangkah menuju parkiran sepeda motor, lalu pria itu menaiki sebuah sepeda motor Astrea grand, sepeda motor zaman dulu yang sudah butut dan jarang dipakai pada zaman sekarang.


"Ayo naik!" ajak Reza pada Lisa.


"Kamu serius?" tanya Lisa tak percaya pria itu mengajaknya naik sepeda motor butut miliknya.


"Iya, ayo!" ajak Reza lagi.


Dengan ragu Lisa pun melangkah mendekati sepeda motor Reza.


"Kamu yakin bisa bonceng aku dengan sepeda motor ini?" tanya Lisa masih khawatir.


Dia tidak yakin sepeda motor butut itu bisa membawa dirinya menuju penginapan.


"Iya Ayo! kamu cepatan naik!" seru Reza lagi.


Akhirnya Lisa pun naik ke atas sepeda motor milik Reza, perlahan namun pasti Reza pun melajukan sepeda motor butut miliknya menuju penginapan tempat semua rombongan teman-teman Lisa menginap.


Reza melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang, sehingga mereka sampai di penginapan sebelum adzan maghrib berkumandang.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di sini," ujar Lisa bersyukur dia sampai di penginapan.


Melihat laju sepeda motor milik Reza tadi dia takut tidak akan sampai ke penginapan.

__ADS_1


Reza hanya tersenyum melihat ekspresi Lisa yang sangat senang telah sampai di penginapan. Reza tahu bahwa sedari tadi Lisa sangat mengkhawatirkan keadaan sepeda motor butut miliknya.


"Kamu masuklah ke dalam, aku akan langsung pulang," ujar Reza sekalian pamit pada Lisa.


"Kamu enggak mampir dulu?" tawar Lisa pada Reza.


"Enggak usah lagian rumahku tidak terlalu jauh dari sini," ujar Reza.


"Ya sudah terima kasih, ya," ucap Lisa.


Reza pun mengangguk dan tersenyum.


"Masuklah ke dalam! Aku akan pergi setelah kamu sudah masuk ke dalam penginapan dengan aman," ujar Reza.


"Baiklah sekali lagi terima kasih, ya." Lisa pun melangkah masuk ke dalam penginapan.


Di dalam penginapan Kayla, Dian, dan Gita sudah mengkhawatirkan keberadaan sahabatnya yang sedari tadi tidak ditemukan.


"Lisa!" pekik ketiga sahabatnya saat melihat Lisa sudah berada di penginapan.


Sedari tadi ketiga sahabat itu tidak tenang menunggu kabar dari Lisa oleh karena itu mereka berdiri di ruang tengah menunggu kedatangan sang sahabat.


"Kamu dari mana aja sih?" tanya Kayla.


"Aku udah cari kamu kemana-mana tapi nggak kelihatan," ujar Gita.


"Aku juga sudah telepon kamu tapi HP kamu nggak aktif," sahut Dian.


Kedatangan Lisa disambut dengan berbagai pertanyaan dari ketiga sahabatnya.


Lisa merasa terharu melihat perhatian ketiga sahabatnya itu dia pun langsung memeluk ketiga sahabatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Lisa menitikkan air matanya, dia bersyukur memiliki sahabat yang sangat menyayangi dirinya.


"lho, kamu kok nangis, sih?" tanya Kayla bingung.


Lisa pun mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya, dia melepas pelukannya.


"Aku terharu kalian sangat peduli padaku," lirih Lisa.


"Ya iyalah kami peduli sama kamu, kamu kan sahabat kami," cerocos Gita.


"Iya, Lis. Kamu adalah sahabat kami, dan kami tidak ingin terjadi apa-apa padamu," ujar Kayla.


"Sekarang ceritakan pada kami, apa sebenarnya yang terjadi?" ujar Dian tidak sabar ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada sang sahabat.


Lisa pun mengingat apa yang dilakukannya setelah Gita bertemu dengan Nick.


Dia juga membayangkan kebersamaan dengan pria yang baru saja dikenalnya tadi siang.


Lisa pun mulai menceritakan semuanya pada ketiga sahabatnya tanpa ada yang ditutup-tutupinya dari ketiga sahabatnya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2